Thursday, August 13, 2015

Menikah Muda


http://cantiksehatwanita.com/


Hayo… hayo… tuku rokok hayoo…” seru seorang gadis belia ketika mendapati pacarnya (ketahuan) membeli rokok djarum eceran. Pemuda berusia sepantarannya yang tengah membayar dengan uang super kucel kepada saya itu hanya cengengesan.
“Daripada nganggo tuku rokok mbok nganggo jatah aku,” ujar gadis itu sekali lagi. Si pemuda sudah terlanjur menyulut rokoknya dan mengisap dalam-dalam. “Yo ben kok,” balas pemuda itu tak mau kalah. “Kan, wong lanang,” lanjutnya dengan nada superior. Si gadis mencibir pelan dan melihat ke arah saya mencari pembelaan.
“Mbak, kudune duite nganggo jatahku wae yo mbak,” saya cuma tersenyum – lebih tepatnya cengengesan.  Setelah kedua sejoli itu pergi, saya pun berguman keheranan. Sejoli muda yang usianya belum genap enambelas itu bisa-bisanya sudah mengenal kata “jatah”. Jatah disini maksudnya adalah jatah keuangan rumah tangga yang tidak akan didapatkan oleh orang yang belum berumah tangga. Istilah khas “perekonomian” rumah tangga ini hanya akan diketahui dan dikenali dengan baik oleh para pasangan suami istri (pasutri).
Kabarnya, kedua sejoli muda itu memang akan menikah. Entah kapan pastinya, saya pun tidak tahu. Yang jelas, di usia mereka yang sangat muda – keduanya sudah putus sekolah.  Mungkin karena tidak ada harapan lagi bagi keduanya untuk meneruskan pendidikan, mereka ingin menikah saja; setidaknya mampu melanjutkan kehidupan. Saya mengenal dua sejoli ini melalui warung internet yang saya jaga setiap hari. Mereka adalah pelanggan tetap yang akan menyewa jasa internet di jam-jam sore atau selepas maghrib. Keperluan mereka biasanya sederhana; yaitu mengunggah foto-foto kebersamaan di media sosial facebook.
Si pemuda memang sudah bekerja sebagai seorang buruh serabutan di pabrik jelly. Si gadis tidak jelas nasibnya seperti apa. Yang jelas dia tidak bersekolah dan lebih banyak nganggur di rumah. Suatu hari dia pernah bercerita ke saya kalau kesehariannya setelah lepas dari institusi pendidikan bernama sekolah, ia lebih sering bersama ibunya di dapur. Katanya belajar memasak. Menurut beberapa perempuan dewasa yang ia kenal, salah satu hal yang membuat seorang istri disayang adalah ketika ia mahir memasak.
 Keduanya memang hanya mengenyam pendidikan sampai sekolah menengah pertama saja. Mereka memang pacaran semenjak SMP dan masih awet sampai sekarang. Walaupun mereka sering sekali bertengkar sampai si gadis menangis. Biasanya si gadis marah karena pemuda itu melarangnya membuka ponsel.
Pernah suatu ketika mereka bertengkar di bilik warnet dan saya sempat menguping pembicaraan mereka. Si gadis ngotot kepengen melihat ponsel di pemuda. Dengan agak keras, gadis itu berkata, “Koe oleh ndelok hapeku. Kene, aku yo kudune oleh!”
Saya  tidak pernah sekalipun berusaha mencampuri urusan kedua sejoli muda itu. Kalau mereka bertengkar di warnet sampai menimbulkan suara berisik yang agak meninggi, saya hanya akan melirik sebentar sembari kembali terpaku pada layar komputer. Ibuk saya yang kadang-kadang melerai karena Ibuk memang tidak suka dengan keributan sekecil apapun. Dari Ibu pulalah saya dapat informasi kalau keduanya – di usia semuda itu – mau melangsungkan pernikahan. Saya pun hanya mampu melongo.
“Bocah ora sekolah, kok,” begitu komentar Ibuk saya. Si Pemuda memang tidak memiliki biaya untuk melanjutkan pendidikan sampai ke jenjang sekolah menengah.  Selain tidak ada biaya, keadaan ekonominya pun mendesaknya untuk bekerja membantu orang tua.
Yang bikin saya tak habis pikir adalah keputusan pemuda dan gadis itu untuk menikah. Memang, banyak sekali orang yang kemudian memutuskan menikah karena tidak memiliki biaya melanjutkan pendidikan. Tapi kasus-kasus demikian biasanya hanya terjadi pada anak perempuan. Mereka “terpaksa dinikahkan agar tidak menjadi beban. Biasanya yang dengan senang hati menikahi adalah laki-laki gadun yang diyakini cukup kaya karena perut mereka yang buncit. Namun, fenomena yang saya temui ini tergolong unik. Keduanya masih anak-anak – sama-sama putus sekolah. Kalau pun mereka menikah dalam waktu dekat – keduanya menikah di bawah umur. Baik pihak laki-laki maupun perempuan.
Tidak hanya itu yang membuat saya terheran-heran dengan keduanya. Kedua sejoli yang wajahnya masih tampak kanak-kanak itu – walau sering sekali bertengkar namun sangat setia. Usia pacaran mereka begitu lama dan langgeng. Dan yang pasti, keduanya yakin akan mampu menikah. Si gadis, tinggal menunggu tabungan si pemuda cukup untuk membiayai pernikahan mereka. Si gadis juga dengan setia akan selalu memperingati si pemuda kalau mau membeli rokok. “Uangnya simpan, tabung buat nikah,”
Entah seperti apa bentuk percintaan mereka. Yang jelas, tentunya tidak seperti kisah-kisah roman picisan murahan yang dihadirkan sinetron-sinetron Indonesia. Mereka tidak cukup punya uang banyak untuk makan malam romantic. Paling mewah, mungkin hanya bakso keliling. Selebihnya, uang dihemat untuk mengunggah foto-foto yang dijepret dengan hape china seharga duaratusan ribu ke social media. Selebihnya, uang dihemat untuk tabungan biaya pernikahan… juga uang rokok si pemuda… serta latihan menyisihkan jatah untuk si gadis.


Yah, saya sih, mencukupkan doa untuk keduanya agar mampu melangsungkan pernikahan dengan lancar dan dapat membangun rumah tangga yang sejahtera.

No comments:

Post a Comment