Saturday, September 26, 2015

Demi Menyambung Hidup

                
via http://www.mikecatton.co.nz


Menindaklanjuti postingan beberapa waktu lalu yang sangat menggebu-gebu dan penuh optimisme, hari ini mungkin saya akan sedikit bercerita tentang ihwal “akhir dari nasib manusia”.  Duh, susah juga menjelaskannya. Intinya begini, setiap manusia tidak hidup sendiri. Mereka hidup dengan banyak orang. Dan orang-orang yang berada disekliling kita akan terus bergunjing tentang kita. Setidaknya sesekali dua kali sewaktu kita tak sengaja melewati mereka. Nah tentang hidup dan keharusan menyambung hidup juga terkadang menjadi perbincangan dan spekulasi orang lain. Bahkan kita yang mungkin tidak pernah berspekulasi tentang masa depan diri sendiri – dispekulasikan oleh orang lain. Pada posisi ini, orang-orang mendadak sok tahu tentang kita, hidup yang kita jalani, dan seluruh seluk-beluk kehiduan yang ada di muka bumi ini.


                Ihwal pekerjaan juga begitu. Mungkin karena dogma beberapa “oknum” orang tua yang mengatakan bahwa di mana-mana yang namanya sekolah pasti berujung dengan mencari pekerjaan. Okelah saya dapat menerima itu. Tetapi kembali lagi pada tujuan utama mengapa seseorang bersekolah. Tentunya orang bersekolah demi mendapatkan keterampilan. Saya bisa lebih memaklumi jika sekolah memang berujung pada profesi bukan pekerjaan. Saya meyakini bahwa apa yang akan saya kerjakan kelak adalah profesi yang saya inginkan. Tetapi tidak dengan orang lain yang mungkin sudah menyaksikan kejamnya dunia ini. Pun juga dengan orang-orang yang tidak benar-benar tahu kemampuan saya. Dan juga dengan mereka yang tidak pernah tahu apa yang saya lakukan.
                Saya pernah bercerita ke Ibuk bahwa setelah lulus nanti saya ingin merantau. Saya berencana nomaden dan hidup dengan cara melompat-lompat. Lalu Ibuk bilang dengan lempengnya, “Lalu kenapa enggak masuk STAN saja dulu?” saya terdiam sebentar sebelum akhirnya menjawab. “Nah itu saya cuman punya sebuah pekerjaan Bu. Sedangkan saya pengennya punya sebuah profesi.” Ibu hanya ber-oh ria mendengarnya seolah-olah tidak terlalu antusias mendengarkan penjelasan saya. Mungkin bagi Ibuk, dan juga bagi Bapak – apa yang saya inginkan adalah sesuatu hal yang tidak lazim dilakukan orang-orang pada umumnya. Saya tahu saya memang tidak lazim. Sebab saya memang tidak menginginkan kehidupan yang normatif.
                Bapak dan Ibuk orang yang praktis. Keduanya memaknai kehidupan dan bekerja sesuai kemapanan dan yang akan didapatkan. Berbeda dengan saya. Mungkin karena saya masih muda dan belum dapat berpikir realistis seperti Bapak dan Ibuk. Hingga kini saya masih mengamini ucapan Tan Malaka bahwa kemewahan tertinggi seorang pemuda adalah idealisme. Memang benar apa yang diucapkan oleh intelektual legendaris itu. Saya merasakannya sendiri bagaimana rasanya (terkadang) menjadi satu-satunya orang yang idealis di lingkungan tempat tinggal saya. Kadang rasanya membanggakan. Tetapi kadang juga merasa asing; teralienasi.
                Saya tahu bahwa setiap orang harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Saya pun mengingini profesi dan bukan sebuah pekerjaan. Akan tetapi semua orang berkata bahwa pada akhirnya saya akan “menjadi mereka”. Menjadi Bapak, Ibuk, dan kakak saya yang saat ini sudah jadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Mereka berkata bahwa pada akhirnay nasib saya akan sama saja. Menjadi mahasiswa D1 Pajak ataupun Komunikasi, nasib saya akan berakhir sama. Menjadi seorang PNS. Makanya ketika saya memilih jurusan ini, orang-orang banyak nyinyir karena mereka berpikir bahwa pada akhirnya saya akan tetap menjadi PNS juga. Sama seperti  jika saya tetap menjadi mahasiswa STAN. Kebetulan teman-teman dekat saya saat ini banyak yang melanjutkan studi di ikatan dinas. Maka dari itu mereka pun sudah pasti akan menjadi PNS. Tidak ada pilihan lain selain melakoninya. Ya kecuali memilih mengundurkan diri setelah beberapa tahun bekerja seperti yang dilakukan oleh seseorang yang saya kenal.
                Beberapa teman yang berada di ikatan dinas mengatakan bahwa suatu saat nanti “orang-orang seperti saya” akan menyerah di kemudian hari. Saya mungkin pernah berpaling sekali dalam menghindari jadi PNS ketika menolak STAN. Akan tetapi di kemudian hari semuanya juga akan sama saja.  Begitulah kata mereka. Bagi mereka, melakoni pekerjaan dengan gaji sedikit dan sangat ngoyo akan berujung pada keputusasaan. Katanya sih, pada akhirnya orang-orang seperti saya, dan saya pada khususnya akan berakhir menjadi PNS. Baiklah saya bisa menerima itu. Apalagi kalau saya memang kejepit finansia seperti yang diutarakan oleh teman dekat saya beberapa hari yang lalu. Saya pikir bekerja menjadi PNS tidaklah buruk. Mungkin juga pekerjaan yang bagus. Akan tetapi, lagi-lagi, saya ingin apa yang saya kerjakan sesuai dengan ilmu yang saya miliki. Jika nanti saya bekerja sebagai PNS tetapi meninggalkan ilmu-ilmu yang saya pelajari selama empat tahun – ya sama saja, to?
                Saya jadi teringat ucapan salah seorang kakak angkatan yang kini sudah lulus dan bekerja di radio. Apa yang dikatakannya membuat saya menepis jauh-jauh apa yang teman-teman saya katakan. Saat itu ia bertanya kepada saya dan teman-teman apa yang akan dilakukan selepas lulus nanti. Pekerjaan apa yang dinginkan oleh kami – para calon lulusan komunikasi. Perempuan itu mengatakan bahwa sebagai mahasiswa yang belajar komunikasi setidaknya bekerjalah di ranah media dan komunikasi selama beberapa tahun. Setelah itu, setelah menggunakan ilmu yang dipelajari selama empat tahun di dunia kerja, terserah mau berbuat apa. Mau jadi teller bank boleh. Mau jadi apapun boleh.
                Nah, kalau konteksnya di sini menjadi PNS. Saya sih kepenginnya bekerja jadi PNS yang sesuai dengan ilmu yang saya miliki. Bukan lantas bekerja asal-asalan yang penting mendapatkan uang. Saya sih tidak kepengin begitu. Hahahaha. Saya masih agak idealis ya? Hmm... ya enggak apa-apa, kalau kata Tan Malakan kan kemewahan tertinggi seorang pemuda adalah idealisme. Jadi sebelum semuanya terampas oleh realita atau apapun. Saya pernah mengecap kemewahan itu walaupun hanya sedikit.
                Mungkin ya, beberapa orang masih menganggap bahwa pekerjaan hanya “demi menyambung hidup”. Baiklah, lagi-lagi saya terima itu karena memang demkikian adanya. Dan sebetulnya yang saya cemaskan bukan “akhir” dari pencarian profesi itu nanti. Tetapi surutnya dukungan dari orang-orang sekitar saya. Kemarin, pada sesi curhat dengan salah seorang teman yang ikatan dinas, ia mengatakan bahwa kalau sudah kepepet pada akhirnya ya jadi PNS. “Tapi kalau sudah menghadapi yang namanya kenyataan mungkin kamu akan berubah haluan. Ya, jadi PNS.”
                Padahal kok menurut saya jadi PNS itu tidak mudah. Selain tesnya yang berlika-liku, unsur “titip-titipan” juga banyak. Jadi persaingannya selain sulit juga tidak sehat karena ada beberapa “orang titipan”. Kalaupun saya memang akan berakhir jadi PNS, saya rasa itu pun akan sangat sulit dilakukan. Sebenarnya menjadi apapun akan sulit dilakukan karena hidup memang tidak mudah, iya kan? Tetapi segalanya akan terasa lebih ringan jika apa yang kita tuju adalah passion yang diinginkan. Saya sih ndak tahu apa yang akan terjadi setahun, dua tahun, atau belasan tahun nanti. Tetapi yang saya inginkan hanyalah dukungan. Ketika teman saya berkata demikian: berkata bahwa pada akhirnya saya akan tetap jadi PNS juga seperti jika saya memilih STAN, saya ingin sekali menyanggah dengan mengatakan, “Lha mbok aku ki didukung.
                Kenihilan dukungan itu saya tafsirkan sebagai bentuk ketidakpercayaan mereka terhadap kemampuan yang saya miliki. Mungkin mereka tidak percaya bahwa saya bisa melakukan apa yang saya inginkan. Mungkin mereka masih memercayai hal-hal normatif yang ada pada perempuan; yang seharusnya ada dalam diri saya. Mungkin juga mereka tidak pernah tahu apa yang sudah saya lakukan sejauh ini. Iya sih, orang-orang tidak pernah tahu tentang orang lain.Sebab itu orang lain sebetulnya tak bisa menentukan hidup orang yang lainnya. Tidak bisa menentukan masa depan seperti apa yang akan dijalani.

                Saya mengamini kok bahwa setiap orang harus bekerja. Kebutuhan finansial ataupun kecukupan materi memang bukan sumber utama kebahagian. Tetapi mereka adalah salah satu kebahagian yang dapat dimiliki oleh setiap orang. Tetapi saya juga percaya, bukankah Tuhan akan selalu mencukupkan hamba-hamba-Nya dengan berbagai cara. Saya yakin, saya tetap mampu menyambung hidup dengan profesi yang saya ingini. Dan saya juga yakin dapat membuktikan bahwa apa yang akan saya lakoni ke depannya bukan berdasarkan perkataan lain. Saya akan hidup dengan apa yang saya yakini dan ucapkan. Masa depan saya adalah pikiran dan ucapan saya saat ini. Bukan perkataan orang lain. Sayalah yang menentukannya. Tentu saja.

Demi Menyambung Hidup
via https://upload.wikimedia.org

No comments:

Post a Comment