Saturday, September 19, 2015

Langkah Terbaik




Hari ini saya benar-benar mau menulis curahan hati alias curhat. Padahal, beberapa waktu lalu saya berikrar untuk tidak curhat-curhat banget di blog. Setidaknya saya harus mengemasnya menjadi sebuah kisah yang enak dibaca dan mengena di mata pembaca. Namun kali ini saya ingin melanggar janji itu sekali (atau sesekali) saja. Rasanya seperti tidak ada lagi tempat untuk bercerita. Sosial media hanya akan membuat orang-orang berasumsi. Dan sebetulnya blog pun juga demikian. Tapi setidaknya kunjungan pada curahan hati ini tidak begitu saja dapat mudah dibaca.
Baiklah, saya akan mulai sedikit ngobrol soal hakikat “pertemanan”. Saya adalah tipe orang yang memercayai teman. Bagi saya teman adalah sosok yang bisa saya percayai untuk beberapa hal atau berbagai hal. Saya pribadi adalah tipe orang yang cenderung lebih suka berteman secara personal (bukan berkelompok). Saya lebih suka main berdua atau bertiga daripada berama-ramai. Sedari dulu pun saya tidak pernah membentuk kelompok besar untuk menjalin relasi pertemanan.


Oh, ya, akhir-akhir ini saya agak sedikit risau karena memiliki seorang teman yang sepertinya mulai tidak menyukai saya. Saya yakin tidak ada satupun orang yang mau dibenci oleh orang lain – bahkan mungkin oleh musuhnya sendiri. Nah, saat ini saya sedang merasakan hal itu. Saya merasakan hal itu karena kebetulan mengetahui dua “curhatan” (yang mungkin) mengenai saya di laman daringnya. Jujur saja, “curhatan” itu membuat hati saya mencelos. Apalagi pada tulisan kedua.
Tulisan pertama sendiri sudah ditulis sekitar setahun yang lalu. Saat itu saya mengakui bahwa saya salah dan telah menyakitinya. Sepertinya – kalau tidak salah saya meminta maaf langsung ketika mengetahuinya. Namun semua itu tidak berbalas. Ya sudah, yang penting saya sudah mencoba memperbaikinya. Nah, di tulisan kedua ini – jujur saja saya merasa agak tersinggung. Selain meyakini bahwa ternyata ada ketidaksukaan darinya terhadap saya, saya merasa apa yang diinterpretasikannya itu tidak sepenuhnya benar.
Saya tidak menyangkan bahwa dia bisa berasumsi seperti itu – menginterpretasikan sesuatu hal yang di luar jangkauannya. Yang membuat saya merinding adalah ketika ia merasa terkena imbas dengan apa yang saya lakukan. Apakah memang benar begitu. Apakah saya melakukannya kepada tiap-tiap personal? Saya juga tidak mengira bahwa dia tidak suka dengan pisuhan yang saya lakukan. Padahal pisuhan itu ditujukan untuk kelompok bukan personal. Seharusnya ia tidak merasa perlu menjadi satu-satunya yang saya “kecam”. Padahal, dia adalah salah satu teman yang selalu saya maafkan walaupun mengatai saya kam**** ta** dan kata kasar lainnya. Tidak ada satupun teman saya yang berani mengatai saya seperti itu. Dulu, sewaktu SMA kami bertutur kata dengan baik, halus, dan lembut. Baru pada perkuliahan ini saya bertemu orang-orang yang sarkas. Dan akibar pergaulan itu pula, saya terpengaruh untuk ikutan menggunakan kata kasar (sesekali). Padahal dulu saya tidak berani. Bahkan saat pertama kali disebut “k****t” pun sebetulnya saya agak sakit hati. Soalnya tidak pernah ada satu orang pun yang pernah mengatakan saya demikian. Dialah yang pertama kali menyebut saya seperti itu. Tapi karena lama-lama sudah terbiasa. Saya pun terbiasa memaafkan. Tidak tahunya, sekarang, dia begitu tidak suka dengan pisuhan itu. Saya hanya heran saja. Mungkin benar kata orang, beberapa orang melakukan tindakan atau hal-hal yang tidak disukainya kepada orang lain. Dia tidak suka diumpat tetapi dengan gagah mengumpati. Ah, mungkin saya saja yang terlalu rapuh perasaannya.
Mungkin dia tidak tahu. Mungkin dia juga sama-sama berasumsi. Tetapi entahlah. Alih-alih tulisan itu membuat saya tersinggung, tulisan itu lebih membuat saya berpikir. Ini kali kedua dia menulis keluhannya tentang saya. Dan bukankah jika begitu – ada ketidaksukaan yang hadir kembali walaupun saya telah memperbaikinya. Mungkin sebetulnya dia tidak suka saya berada di sekitarnya. Dia tidak menyukai tingkah laku saya dan sebagainya.
Saya jadi berpikir, jika saya tahu ada orang yang tidak menyukai saya, bahkan membenci... apa yang harus saya lakukan. Pada kasus ini, saya pesimis memperbaiki itu semua. Saya sudah segan dan begitu sungkan terhadapnya. Saya takut, salah ucap sedikit saja itu membuatnya tersinggung dan kembali sakit hati – dan kembali menuliskan keluhan yang sama tentang saya.
Jadi saya pun berpikir, jika memperbaiki sebuah relasi hanya akan kembali menimbulkan rasa benci, saya berpikir ada baiknya jika menjauhi. Tercatat sudah dua kali, berarti  saya telah merusak apa yang telah saya perbaiki dua kali pula. Saya gagal dalam membangun relasi. Benci itu kembali datang. Sepertinya sudah sepantasnya tidak ada lagi interaksi. Bukannya mau memutuskan silaturahmi. Saya hanya ingin memutuskan untuk dibenci saja. Biar tidak ada pertemuan kedua. Sebab, jika pertemuan kedua hanya menimbulkan luka, bagaimana dengan pertemuan ketiga.
Dalam sebuah hubungan sosial manusia memang terdapat hukum yang tidak dapat terelakkan; yaitu menyakiti dan disakiti. Bukankah saya sudah menyakitinya (hingga ia menulis seperti itu di laman) dua kali. Untuk apa pertemuan ketiga jika saya kembali menyakitinya. Mungkin, memang lebih baik memutuskan untuk dibenci. Biar tidak ada pertemuan selanjutnya, biar tidak bertemu untuk menyakiti, dan menjauhlah sejauh-jauhnya. Jika segalanya tampak begitu berbeda keesokan harinya.... Ya, saya hanya mencoba mengambil langkah terbaik.


Bukankah begitu?





Ya... semoga ini menjadi tulisan ini adalah tulisan terakhir yang bener-bener curhat ya. Semogai ini terakhir kalinya aku nulis “curhat banget” di blog. Hehehehe. Banyak-banyakin nulis yang bermutu  lah ya. Kalau yang ini, sama sekali enggak bermutu J

No comments:

Post a Comment