Thursday, September 3, 2015

Menanti yang Hilang



Sekitar satu minggu yang lalu Mata Najwa menayangkan seruan perlawanan-perlawanan yang dilakukan oleh anak-anak muda Yogyakarta. Di antaranya ada grup musik Simfoni Band, Fajar Merah (Anak Wiji Thukul), Elanto Wijoyono, dan Dodok Putra Bangsa. Semua tokoh yang dihadirkan memiliki peran masing-masing dalam menyerukan perlawanan dan ketidakdilan di Yogyakarta. Dodok misalnya, ia adalah seorang seniman yang menyerukan perlawanan terhadap pembangunan hotel dan privatisasi air.

Sebetulnya perlawanan yang dilakukan Dodok sangat banyak. Namun, yang paling saya soroti dalam perjuangannya adalah melawan ketidakdilan atas pembangunan hotel dan penindasan air. Ada juga Elanto yang akrab dipanggil Joyo. Sama halnya dengan Dodok, Joyo juga salah satu warga Yogyakarta yang konsisten mengawal pembangunan hotel. Tidak hanya hotel, dia juga mengawal implementasi hukum lalu lintas. Puncaknya pada tanggal 15 Agustus lalu, karena geram dengan tingkah laku penunggang “Moge”, Joyo nekat mencegat rombongan Moge yang menerabas lalu lintas. Parahnya, polisi yang berjaga membiarkan hal tersebut.

Di sini saya tidak akan terlalu banyak membicarakan tokoh-tokoh tersebut maupun membahas secara mendetail apa yang telah mereka lakukan. Sebab, tulisan ini akan menjadi sangat panjang. Apa yang telah mereka lakukan sudah sangat banyak. Saya pribadi hanya akan menyoroti salah satu bintang tamu yang membuat saya terus bertanya-tanya tentang kehilangan. Ada satu tokoh yang benar-benar membuat saya merenungi berbagai hal. Ya, tokoh itu adalah anak bungsu Wiji Thukul, Fajar Merah, yang juga salah satu personil Merah Bercerita.

Orang ini begitu menarik perhatian saya karena semua hal yang dituturkan dari bibirnya. Terutama ketika dia bercerita tentang “Bapak” yang tidak pernah ada dalam ingatannya. Wiji Thukul dan keduabelas aktivis lainnya (dipaksa) “hilang” pada saat pergolakan 1998. Hingga kini Wiji Thukul dan keduabelas aktivis itu lenyap tanpa kabar berita. Tidak ada yang tahu di mana keberadaan mereka. Mungkin hanya orang-orang yang menghilangkan merekalah yang tahu apa yang terjadi tujuhbelas tahun silam. Yang jelas, kasus lenyapnya tigabelas orang aktivis masih belum tuntas (atau sengaja memang tidak dituntaskan).

Tentang orang-orang yang hilang, saya selalu bertanya-tanya tentang mereka. Apakah mereka memang lenyap begitu saja atau memang memutuskan untuk menghindari hiruk-pikuk? Menghilang dari peredaran. Bergegas meninggalkan orang-orang yang mengenal mereka dan masuk ke dalam lingkaran baru? Apakah orang-orang itu memang sengaja ingin teralienasi? Ataukah ada orang yang membuang mereka ke tempat yang jauh. Sampai tidak ada satupun yang tahu berada di mana mereka. Begitu pula mereka, tidak pernah tahu berada di mana. Dan mereka yang hilang pun, tak pernah tahu apa yang terjadi di luar sana. Tak pernah tahu tentang orang-orang yang mencari dan menanti mereka kembali. Orang-orang yang hilang memang selalu menjadi misteri bagi mereka yang merasa kehilangan. Dan orang-orang yang merasa kehilangan pun juga adalah misteri bagi orang-orang yang hilang.


Jika saya menjadi Fajar, saya tidak tahu apa yang harus dilakukan selain berharap. Namun pada acara itu juga, Fajar mengatakan bahwa ia bukan tipe orang yang percaya pada harapan[1]. Dia hanya merasa bahwa Bapaknya hidup dalam hatinya. Baginya, apa yang dilakukan Wiji Thukul sampai harus dihilangkan tidaklah sia-sia. Sebab, sekalipun orang-orang itu hilang, spirit mereka tetap ada dan berkelanjutan.

 Dulu, saat masih kecil dan (masih sering) mendengarkan siaran berita di siang hari, saya selalu menunggu-nunggu pengumuman orang hilang dan akan mencatat ciri-ciri mereka. Saya berharap dapat menemukannya di jalan, di pasar, di alun-alun kota, atau di mana pun. Dan dapat mengantarkannya pulang bertemu dengan orang-orang yang merasa kehilangan, mencari, dan menanti dengan cemas. Namun hingga kini saya tidak pernah menemukan orang hilang dan mempertemukannya dengan orang-orang yang mencarinya.

Ada satu hal yang terus membekas dalam ingatan saya saat mendengarkan Fajar bercerita. Dalam wawancaranya dengan Najwa, Fajar mengatakan bahwa sosok Bapak baginya adalah sosok imajiner. Bapak baginya adalah imajinasi. Ia hanya mampu membayangkan Bapaknya dari tulisan-tulisan Wiji Thukul. Yang membuat saya ikut tersenyum adalah ketika Fajar menceritakan rasa penasarannya jika ia bercekcok dengan Bapaknya sekalipun itu hanya persoalan tentang satu gelas kopi.

Bagi saya, yang selalu melihat Bapak sedari kecil dan selalu tahu di mana ia berada… saya hanya bisa terdiam. Saya mulai berpikir dan mencoba merasakan hal yang sama. Saya sering kehilangan barang-barang yang saya miliki. Tapi saya belum pernah kehilangan orang yang saya sayangi. Apalagi kata “hilang” yang disebut di sini memang tentang kehilangan. Lenyap. Tidak ada kejelasan. Tidak ada keterangan. Benar-benar menghilang tanpa ada yang tahu pasti apa yang terjadi. Jika Fajar tak bisa lagi berharap. Mungkin saya adalah orang yang percaya pada harapan – pada keajaiban – yang selalu dikata semu oleh orang-orang.

Saya sendiri jadi iseng browsing tentang Wiji Thukul dan menemukannya di situs Wikipedia. Dalam situs tersebut, Wiji Thukul disebut berusia 52 tahun, bukan 35 (usia di mana Wiji menghilang). Artinya, Wiji Thukul tidak akan dianggap meninggal jika memang tidak ada keterangan resmi yang menyebut dia sudah meninggal. Ia dianggap hilang dan si penulis Wikipedia ini mungkin berpikir bahwa Wiji masih hidup dan berada entah di mana. Jika Fajar tak lagi menaruh harapan, mungkin si penulis Wikipedia Wiji Thukul berkata lain. Dia masih berharap Wiji saat ini memang berusia 52 tahun dan hidup dengan sehat entah di mana. Suatu saat, mungkin, akan kembali.

Cerita tentang Wiji Thukul dan lenyapnya ia menjelang runtuhnya rezim orde baru memang masih menyisakan misteri. Misteri yang terus bersisa dari misteri-misteri sebelumnya.  Bagi Fajar sendiri, Ibunya adalah novel yang panjang, berliku-liku, dan lengkap. Namun bapak, baginya adalah puisi yang singkat dan rumit.

Saya pun menjadi terus bertanya-tanya, dibandingkan merasa kehilangan, bagaimana rasanya hilang? Dibandingkan mencoba menjadi Fajar, bagaimana rasanya menjadi Wiji Thukul?

Atau pun orang-orang yang kehilangan dan hilang – yang lain.

Entah

***

Jika saya kehilangan seseorang, apakah saya akan terus mencari dan menantinya. Apakah saya akan terus berharap dia akan kembali. Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya percaya harapan. Saya memercayai keajaiban. Tetapi, jika keajaiban adalah dongeng pengantar tidur, apakah saya masih bisa berharap. Dunia ini membutuhkan dongeng agar orang-orang memiliki harapan. Namun, jika dongeng tetap menjadi dongeng, apakah masih ada celah untuk tetap berharap – bahwa yang hilang akan kembali dan tak akan pergi lagi? Apakah saya akan tetap menanti yang hilang atau hanya mampu mengembalikannya dalam alam bawah sadar saya? Apakah saya masih bisa percaya bahwa yang hilang akan dapat kembali? Setidaknya, jika memang tak bisa kembali, apakah saya bisa tahu apa yang sesungguhnya terjadi?

Dan,

Jika saya menghilang, apakah ada yang mencari dan menanti dengan cemas? Jika saya menghilang, apakah orang-orang akan peduli. Atau… yang hilang biarkanlah hilang. Sebab setiap orang tidak pernah hilang. Setiap orang tidak pernah benar-benar hilang. [*]



[1] Fajar mengatakan hal ini ketika Najwa bertanya apakah keluarganya masih berharap bahwa pemerintah akan menuntaskan kasus penghilangan ini. Ucapan Fajar dapat dilihat dan didengar via youtube di sini https://www.youtube.com/watch?v=bAq6YAqsB74.

No comments:

Post a Comment