Saturday, September 19, 2015

Perkara Harus Menjadi Nakal

via http://cdn.tmpo.co/


Ada banyak sekali orang yang mengatakan bahwa seseorang harus nakal  - menjadi senakal-nakalnya sewaktu muda, selagi masih muda. Katanya begini, “Orang itu harus pernah nakal waktu muda. Kalau tidak nakal malah payah. Bisa jadi ketika dia tua malah menjadi nakal,” Katanya orang-orang yang baik adalah orang-orang yang ketika remaja menjadi anak nakal. Namun setelah dewasa, katanya, mereka menjadi orang baik. Sebaliknya, orang-orang yang dulunya waktu remaja tidak nakal ketika dewasa bisa jadi malah akan menjadi orang-orang yang berperangai buruk.

Jujur saya, saya ndak setuju dengan premis-premis seperti itu. Saya itu orangnya tidak positivis dan menggeneralisasi. Saya melihat bahwa setiap orang memang memiliki jalan-jalannya masing-masing. Dan bagi saya, nakal atau tidak, menjadi baik atau jahat, itu bukan persoalan tua dan muda. Semua tentang diri kita masing-masing. Semua tentang proses setiap individu. Saya memercayai bahwa setiap orang memiliki fasenya sendiri-sendiri. Pengaruh eksternal itu sedikit omong kosong. Sebab, setiap manusia hidup atas dirinya dan berpijak pada pikirannya sendiri. Aneh rasanya jika tujuh miliar pikiran orang di dunia yang berbeda-beda itu disamaratakan dengan premis bodoh seperti “Kita harus nakal sewaktu muda. Jika tidak nakal waktu muda. Kita malah bisa nakal ketika tua,”
Saya sih sama sekali ndak setuju dengan premis itu. Apalagi nakal yang dimaksud adalah meminum minuman keras, menggunakan narkoba, pergaulan bebas, berzina, berkelahi, mencuri, dan lain hal sebagainya. Itu sih bukan nakal lagi. Itu namanya menyakiti diri sendiri (dan mungkin juga orang lain). Jalan (raya) menuju bunuh diri. Sebutlah saya pengecut karena saya memang pengecut dan tidak berani untuk tidak melakukan hal-hal seperti itu. Saya masih menyayangi diri saya sendiri.
Saya jadi ingat beberapa waktu ketika bertemu dengan seorang pria awal tigapuluhan yang kini berprofesi sebagai penjual ponsel. Pria itu ternyata satu tempat kelahiran dengan saya. Dan kebetulan belasan tahun silam mengenyam pendidikan sekolah menengah yang terkenal tidak pernah absen dari tawuran setiap harinya. Pria itu mengaku sering melakukan tawuran. Dan pria itu mengaku bahwa ia menyesal. “Kalau sudah dewasa, sudah besar, nanti mereka yang masih pada tawuran itu menyesal sendiri,”
Mungkin konklusi penyesalanlah yang diambil dari premis bodoh yang telah saya sebutkan tadi. Tetapi, apakah untuk menjadi orang baik kita harus menyesal terlebih dahulu? Tetapi, apakah untuk menjadi orang baik kita harus melakukan hal-hal buruk terlebih dahulu. Jika kita tahu bahwa itu buruk dan merugikan orang banyak serta merugikan diri sendiri; bukankah alangkah baiknya kita tidak melakukannya. Apakah setiap orang hanya ingin menguji setiap premis-premis yang muncul di muka bumi.
Mungkin orang-orang yang berani menjadi nakal itu adalah pemberani. Dan orang seperti saya yang bersembunyi di balik apa yang disebut “baik” dan “buruk” adalah pengecut. Iya, saya tidak nakal seperti yang digambarkan oleh pengajar saya di kuliah. Saya tidak mabuk, tidak menggunakan narkoba, tidak melakukan pergaulan bebas, dan sebagainya. Tetapi saya juga bukan pelajar yang baik. Saya adalah siswa tidak terlihat yang selalu duduk di pojok paling belakang. Terkadang saya memilih tidur daripada latihan soal-soal. Saya senang pergi ke sekolah hanya untuk bertemu teman-teman. Saya sering terlambat masuk kelas dan beberapa kali membolos upacara bendera. Saya juga sering kabur ketika seharusnya mendapat hukuman membersihkan lapangan karena terlambat masuk sekolah. Padahal, jarak rumah dengan SMA saya dulu hanya berkisar antara 500 sampai 600 meter. Terpujilah saya!
Dan, “nakal” seperti itulah yang bisa saya lakukan. Kalau sampai mabuk, memakai narkoba, mencuri, memalak teman, dan pergaulan bebas – seperti yang dibilang pengajar saya di kelas beberapa waktu lalu – saya kok sangat ndak setuju sama sekali. Mungkin – iya mungkin – mereka-mereka yang pernah nakal dan disebut baik itu karena sebetulnya pernah mengalami fase keburukan. Sedikit saja menjadi baik – langsung dianggap menjadi orang baik. Sebaliknya, anak yang kelihatan baik-baik – ketika dewasa menjadi buruk sedikit langsung dianggap sebagai orang yang paling buruk.
Namun, kembali lagi, apakah iya kita harus menjadi “nakal” terlebih dulu untuk menjadi orang baik. Apakah kita semua bisa menjadi orang yang sepenuhnya baik. Bukankah tubuh dan jiwa kita terdiri dari baik dan buruk? Bukankah hidup ini pilihan orang? Bagaimana jika kita semua belajar untuk tidak menggeneralisasi masa depan “anak-anak nakal” dan “anak-anak baik”. Bukankah hidup tentang diri mereka sendiri? Dan tidak ada satu pun orang yang berhak menginterpretasikan masa depan orang lain; kecuali orang itu sendiri.
Entahlah. Saya hanya endak setuju. Ndak setuju sama “keharusan menjadi nakal”. Mungkin karena saya adalah pengecut yang tidak berani “nakal” sewaktu masih SMA. Makanya saya ndak setuju. Saya bukannya anak baik-baik yang pintar juga. Hanya... siswa biasa-biasa saja.


No comments:

Post a Comment