Wednesday, September 16, 2015

Sebuah Kenihilan


                Saya pikir ini adalah sebuah kenihilan ketika seseorang berbicara di sebuah komunitas atau kelompok tetapi tidak mendapatkan tanggapan sama sekali. Jika kita singkap, ini sebetulnya adalah sebuah kenihilan. Kenihilan dalam berinteraksi. Mungkin kita lupa, bahwa salah satu cara untuk bertahan hidup adalah berinteraksi; saling memberikan korespondensi terhadap sesama.
                Di satu sisi, kenihilan itu dianggap hanya angin lalu semata dengan dalih setiap orang memiliki urusannya masing-masing. Saya pun mengamini hal tersebut. Saya mengamini bahwa setiap orang memiliki urusannya masing-masing. Namun bagaimana jika urusan masing-masing tersebut juga termasuk dalam urusan komunitas atau kelompok?

                Saya hanya tidak mengerti kenihilan dalam berinteraksi. Bagaimana ajakanmu hanya ditanggapi dengan sekali lirik. Setidaknya, membalas dengan mengatakan tidak adalah lebih baik daripada nihil tanggapan. Terkadang, dengan begitu, kamu jadi kesal dan kemudian marah. Itu wajar. Soalnya, kan, kamu sudah berusaha untuk komunitas. Mempertaruhkan dirimu sendiri.
                Terkadang memang begitu. Ada banyak orang yang tidak mengerti. Selain nihil berinteraksi. Mereka juga nihil pengertian. Hal-hal seperti inilah yang kemudian membuat saya kapok. Kapok untuk apa dan tentang apa? Oh, saya pun tidak begitu mengerti. Yang jelas tulisan ini lama-lama semakin absurd dan berantakan.
                Saya sebetulnya hanya ingin membicarakan tentang kenihilan dalam berkomunikasi via sosial media. Bagaimana fenomena “pembaca pendiam” menjadi sangat mengesalkan apalagi jika berkaitan dengan kepentingan bersama. Nah, dalam hal ini saya pribadi rasanya sudah lelah berkomunikasi dengan teknologi. Saya lebih menyukai berinteraksi secara langsung. Mengajak orang lain dengan bertatap muka langsung. Sebab, kalau kamu bertatap muka langsung, kamu akan mendapatkan tanggapan. Sedangkan jika berbicara melalui media sosial – seolah-olah hanya berbicara satu arah. Bayangkan saja ketika kamu mengajak seseorang secara langsung dengan melalui sosial media. Dalam sosial media mungkin “pembaca pendiam” adalah sesuatu hal yang menjadi maklum. Namun bagaimana jika di dunia nyata kamu mengajak teman-temanmu tetapi mereka hanya “pendengar pendiam”. Bukankah seperti hidup di ruang hampa udara? Seolah-olah tidak ada yang mendengarmu dan segala sesuatu halnya telah berlalu.
                Jujur saja, hal yang seperti itu memamg mengesalkan dan saya pribadi sempat emosi apalagi dengan pelanggan “pembaca pendiam”. Setidaknya tidak itu lebih bagus daripada diam. Kalau pada kasus seperti ini, diam itu sama sekali bukan emas. Diam adalah bencana. Tapi, ya begitulah. Mungkin saya memang bukan tipe orang yang harus berkomunikasi melalui media sosial. Oh iya, saya pengin agak di luar jangkauan kenihilan sedikit. Saya ingin berbicara tentang umpatan. Saya bukan tipe orang yang suka mengumpat. Saya jarang sekali mengumpat. Saya lebih sering diumpat oleh seseorang dengan kata “kamp**t, t**, dan sebagainya. Tapi kebetulan saja, saya tidak marah dengan umpatan seperti itu dan tetap menanggapi interaksi yang sedang berlangsung. Lha, tetapi kok ada orang yang tersinggung dan merasa dirinyalah titik pusat umpatan tersebut. Nah, orang-orang seperti ini juga nihil dalam berkomunikasi. Mereka mungkin lupa dalam berinterpretasi dan seenaknya saja menginterpretasi. Juga – tidak belajar untuk memahami.    
                Mungkin ini semua memang bentuk kenihilan.

No comments:

Post a Comment