Friday, October 30, 2015

Kisah Perempuan Patah Hati

sumber

Sebutlah ia seorang perempuan. Jika kalian ingin meyakini bahwa ia adalah seorang perempuan. Di ujung massa yang makin mencekam, perempuan itu patah hati. Pada satu waktu di suatu pelosok, perempuan itu mengalami patah hati yang teramat parah. Dalam waktu yang melompat-lompat, ia seringkali menestapai diri yang harus berulang kali patah hati.



Perempuan itu patah hari. Setiap hari ia menestapai cinta yang sama – lelaki yang sama – yang tak kunjung sudi menatap kedua bolanya. Ia menarasikan kisah cintanya pada sejumput angin yang tak pernah tergenggam. Pada bait-bait pertama ia bercerita indahnya jatuh cinta. Ia menarasikan sosok lelaki yang sempurna. Pahat wajahnya, dalam tulisan yang ia sematkan pada angin itu, melebihi dewa-dewa yunani dan gagah perkasa. Sebutnya dalam sejumput angin yang tak pernah terlihat itu, ia bercerita sosok lelaki yang meluluhkan hatinya.

Pada bait-bait kedua – ia ceritakan dalam baris pertama – lelaki itu menjanjikannya tentang kebersamaan. Tentung sebuah kehidupan. Tentang impian. Dan juga harapan. Dalam narasinya, perempuan itu berbunga-bunga; mendeskripsikan perasaan hatinya yang begitu bergembira.

Namun pada bait-bait terakhir – seharusnya ia menyadari; bahwasanya lelaki – sesempurna apapun – tetaplah seorang lelaki. Sebagian dari mereka – tidak ada yang benar-benar mampu mencintai satu perempuan. Sebagian besar dari mereka bisa mencintai dua perempuan, tiga perempuan, empat perempuan, bahkan ratusan perempuan. Pada perempuan-perempuan itu mereka memberikan janji yang sama. Pada perempuan-perempuan itu mereka mengajak untuk bernestapa. Pada perempuan-perempuan itu mereka mengaku hanya mencintai satu – tapi pada hati yang lain; mereka sedang menestapai perempuan lain. Pada perempuan-perempuan itu mereka bercinta; namun dalam benaknya, ada bayangan perempuan lain yang lebih membuat mereka bergairah.

Perempuan itu tahu, tidak ada laki-laki yang benar-benar mencintai satu perempuan. Mereka bisa mencintai banyak perempuan. Lelaki itu – lelaki yang telah membuatnya patah hati, sebetulnya telah mengajaknya bersanding bertiga, di sebuah rumah coklat yang beratapkan genteng-gentang merah. Tetapi perempuan itu tidak mau. Ia memilih patah hati daripada harus melihat lelakinya menestapai perempuan lain. Ia memilih sendiri daripada harus bersama lelaki yang tidak mampu mencintai dirinya seutuhnya. Perempuan itu – sekalipun patah hati – tak akan pernah sudi hidup dengan lelaki yang hanya bisa menestapai perempuan lain. Walaupun dalam sudut hatinya, ia begitu mengharapkan lelaki itu. Namun, perempuan tetaplah perempuan. Mereka tidak pernah ditakdirkan untuk diduakan.

Perempuan itu – sebutlah dia seorang perempuan, tengah patah hati. Ia bertemu seorang lelaki yang berjanji akan mencintainya seumur hidup. Tetapi, ia sadar, kebanyakan laki-laki tidak benar-benar bisa mencintai satu perempuan. Mereka rajin menestapai perempuan-perempuan yang lainnya. Dan perempuan itu patah hati. Pada sejumput angin ia bercerita – menarasikan kisah patah hatinya, berharap suatu hari, angin itu berembus kencang mengempas telinga lelaki yang dia cintai. “Jangan menestapai perempuan lain ketika kau sedang bercinta dengan istri sah mu,”

No comments:

Post a Comment