Friday, December 25, 2015

Merasa Tersakiti

Salah satu lingkaran setan dalam kehidupan manusia adalah menyakiti dan disakiti. Entah siklus itu terjadi karena sengaja atau tidak – sengaja; yang jelas keduanya akan terus terjadi dalam kehidupan manusia. Kita mungkin bisa mengantisipasi untuk tidak menyakiti orang lain. Kita mungkin juga bisa memaafkan orang lain bilamana mereka menyakiti kita. Pasalnya, terkadang kita tidak sadar bahwa ucapan kita menyakiti orang lain. Tetapi, yang lebih celaka lagi adalah ketika kita dianggap menyakiti orang lain padahal kita tidak bermaksud demikian.

Orang-orang berpikir bahwa kita berbicara dengan jutek. Orang-orang juga berpikir bahwa kita mungkin menyindir mereka. Padahal, perlu digarisbawahi bahwa orang-orang hanya berpikir dan mengira-ira. Mereka juga masih terjebak dalam spekulasi; berbagai macam kemungkinan-kemungkinan. Tetapi, dengan kejamnya mereka menganggap kita telah menyakiti mereka, menyindir mereka, mengatakan suatu hal dengan cara yang tidak mengenakkan. Lalu, dengan penuh tuduhan mengatakan bahwa apa kita ucapkan menyakiti mereka; menyindir mereka.

Apakah itu salah kita dalam bertindak dan mengucap? Mungkin iya. Kita mungkin lebih baik diam saja dan tidak perlu berbicara apa-apa lagi. Tetapi, mungkin, itu bukan salah kita sepenuhnya. Orang-orang yang merasa tersakiti itu. Mereka yang merasa tersindir ataupun tersinggung dengan ucapan kita – bisa jadi mereka juga salah. Bukan sepenuhnya kita yang salah. Sebab, jika mereka merasa tersindir dan tersinggung oleh ucapan kita – ada indikasi bahwa apa yang kita ucapkan adalah kebenaran baginya. Kebenaran yang mereka tolak. Mereka ingin menutupi kesalahan dengan mengatakan bahwa, “Hei kamu menyakitiku, tahu!”. Ah, aku tak tahu.

Kemudian, untuk mempertahankan relasi – mati-matian meminta maaf kepada orang yang hanya terjebak dengan perasaannya saja. Orang itu harusnya memaafkan dengan lapang dada dan juga berbalik meminta maaf karena salah paham. Tetapi yang terjadi tidak demikian. Yang terjadi adalah sebentuk arogansi dan ego diri yang tidak ingin dipersalahkan begitu saja. Mereka keukeuh merasa disindir dan disinggung – padahal semua adalah ketidaksengajaan yang tak terduga. Terlebih lagi, tidak pernah ada niatan seperti itu. Dan kalaupun mereka merasa begitu – jangan-jangan kesalahan terletak pada diri mereka sendiri.

Jika hal itu terjadi padaku, aku pun hanya bisa berulang kali meminta maaf seolah-olah aku adalah titik dari kemalangan dan segala kesalahan yang ada. Aku mencoba berseru dan bertanya. “Apakah aku jahat? Aku tidak bermaksud demikian. Apakah aku begitu menyakiti orang lain sehingga ia merasa disindir bahkan tersinggung,”Tetapi seorang teman berkata kepadaku begini, “Kamu tidak ada niatan seperti itu kan?” aku mengangguk. “Tidak ada sama sekali. Untuk apa menyakiti orang lain sampai menyindir dan menyinggungnya?” dia pun kembali berkata, “Berarti bukan salahmu. Kamu tidak jahat. Kamu tidak salah. Mereka yang salah. Pikiran mereka yang salah. Itu pikiran mereka. Those were their minds. Their minds that go beyond our words.

Sejenak, mendengar ucapan teman itu aku terdiam. Benarkah? Benarkah aku tidak salah? Benarkah itu salah mereka sendiri karena terperangkap oleh ucapan kita? Entahlah. Kita memang harus berhati-hati dengan perasaan, bukan? Tetapi, menjaga perasaan orang itu begitu melelahkan, ya? Lelah sekali rasanya karena harus memohon maaf berkali-kali. Seolah-olah aku ini penjahat yang telah membunuh jutaan manusia. Padahal hanya satu hati saja yang terjebak pada perasaannya sendiri. Dan ya, kadang kita bertemu dengan orang-orang seperti itu, bukan? Mereka yang merasa benar-benar tersakiti padahal semua itu adalah akibat dari perbuatan mereka sendiri. Logikanya sederhana, mereka tidak akan merasa tersinggung bahkan tersindir jika tidak mengiyakan ucapan kita, bukan? Jika mereka merasa tersindir... artinya ada indikasi bahwa hati mereka mengiyakan hal tersebut. Tetapi hati mereka menolak kebenaran itu karena mereka tidak mau dianggap salah. Bukankah semua orang hidup dalam pembenaran atas diri mereka sendiri?


Mungkin aku pun juga seperti itu. Ah, ruwet. Jangan pernah bermain-main dengan hati manusia. Mungkin lebih baik kita diam saja. Biar orang-orang menerka dengan semua asumsi mereka.

3 comments:

  1. Setahu gue kalau kita tidak salah, kemudian orang mengatakan kita salah, lalu kita minta maaf, itu sudah hal paling benar yang memang musti dilakukan. Hanya yang perlu diingat, tuluskah kita minta maaf?

    Dan gue enggak setuju ada kalimat "lelah sekali rasanya memohon maaf berkali-kali.." Jangan pernah punya pikiran begitu. Orang yang meminta maaf itu orang yang kuat dan enggak gampang lelah. Saran gue, mulailah menjadi orang yang enteng. Enteng berpikir, enteng berbicara, enteng menyenangkan orang lain, enteng minta maaf dan enteng lainnya untuk hal baik-baik...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Konteksnya memohon maaf berkali-kali adalah ketika kita tidak dimaafkan. Dan, ternyata, orang yang merasa bahwa kita salah itu menebar kebencian ke banyak orang. Pun juga tanpa verifikasi dan klarifikasi. Solusinya memang enteng berpikir. Tetapi yg jadi persoalan kita hidup bersama orang lain dan juga bersama orang-orang yang membenci. Kita tulus untuk meminta maaf, tetapi orang lain belum tentu mengetahui hal itu. Pun arogansi setiap orang membuat mereka selalu merasa benar. And, well said tulisan ini sesungguhnya hanya utk memaparkan bahwasanya kita tersakiti bukan karena orang lain -- tetapi diri kita sendiri. Dan well, kita terkadang tidak menyadari itu dan malah terus menyalahkan orang lain. Parahnya, beberapa orang kemudian mengeluarkan satu isu kebencian kepada orang lain karena hal-hal seperti itu.


      Salam kenal, Adin Dilla :)

      Delete
    2. Ngomong-ngomong terimakasih advicenya. Sungguh sangat membantu :)

      Delete