Saturday, January 2, 2016

Percakapan Setahun Lalu

via www.huffingtonpost.com

Setahun yang lalu, tepat ketika mesiu kembang api meloncat ke udara, dia datang padaku. Di tengah ingar-bingar kota Jogja yang berdentum kencang – juga teman-teman kami yang sedang sibuk membicarakan masa depan, dia memilih duduk di sampingku. Dia terlihat gelisah dan ingin memulai pembicaraan. Tetapi, mataku awas menatapi langit – kadang aku benci kembang api. Di satu sisi, pendaran cahaya mereka melenakan; dan itu membuatku mulai mencintainya secara perlahan. Walaupun suaranya sangat berisik.

 “Apa yang kamu bicarakan tadi tidak sepenuhnya benar,” mataku langsung beralih. Kegelisahannya semakin terlihat jelas. Aku tidak mengerti mengapa ia begitu resah. Memangnya, apa yang aku bicarakan tadi? “Tidak semua laki-laki itu brengsek,” tegasnya. Kegelisahan yang tadinya begitu pekat kini memudar. Aku melihat sinar matanya begitu tajam. Ada sebuah keyakinan di dalam dirinya. Sebuah keyakinan untuk meyakinkanku.

“Oh,” aku ber oh-ria. Rupanya, ini yang mau dia bicarakan padaku? Dia kemudian bercerita panjang lebar dan aku hanya berusaha menjadi pendengar yang baik. “Membangun rumah tangga itu,” dia menghela napas pendek. “Bukan sekadar berorganisasi seperti yang kamu bilang,” lanjutnya. “Lebih dari itu. Keluarga, jika hanya dimaknai sebagai organisasi – kita hanya akan berbicara fungsi, bukan peran,”

“Apa bedanya?”

“Tentu saja berbeda,”

“Peran dan fungsi? Kupikir sama saja,”

“Beda,” kini dia ngotot. Seperti biasa, dia memang selalu ngotot.

“Jelaskan padaku apa bedanya,”

“Emm... apa ya?” dia berpikir keras sampai akhirnya tawanya pecah. Benar-benar. Keanehannya tidak pernah hilang sama sekali. “Beda saja. Pokoknya berbeda,”

“Beri aku penjelasan kenapa semua itu berbeda,”

“Jika menggunakan istilah fungsi, keluarga diorientasikan sebagai sebuah pekerjaan,”

“Bukannya memang begitu?”

“Tentu saja tidak! Relasi laki-laki dan perempuan tidak hanya sebatas pekerjaan. Tetapi peran. PERAN.” Ia masih tetap berulangkali menekankan hal itu.

“Apa bedanya?”

“Tentu saja berbeda. Ah! Sekarang aku tahu jawabannya.”

“Apa?”

“Rahasia,”

“Lho, kok begitu. Aku juga mau tahu,”

“Makanya, kamu menikah. Biar tahu perbedaan fungsi dan peran dalam relasi – khususnya keluarga,”

“Kan, sudah kubilang, aku tidak mau menikah,”

“Ya sudah, kalau begitu, kamu tidak akan tahu perbedaannya,”

Sepertinya aku masih begitu ingat percakapan setahun lalu dengannya. Dengan seorang “bocah lelaki” yang genius dan bijaksana. Kadangkala dia bisa begitu dewasa. Tetapi, di satu sisi, ia bisa sangat menjadi sosok yang kekanak-kanakkan dengan menceritakan koleksi robok ultraman-nya. Aku masih ingat percakapan kami setahun lalu – tepat saat tahun baru. Dan, aku pikir dia pasti sudah melupakan apa yang kami bicarakan padaku.

Namun, tepat satu hari yang lalu – tepat ketika kembang api berlompatan di udara – sebuah pesan singkat masuk. Isi pesan itu hanya berisi dua kalimat.“Sudah setahun. Masih tetap tidak mau menikah?”

Seketika itu juga aku tersenyum. Ternyata, dia masih ingat dengan semua percakapan itu. Semua percakapan yang kami lakukan tepat setahun yang lalu. Kupikir, pada waktu itu, dia akan melupakannya tepat setahun kemudian dan juga tahun-tahun yang akan datang. Ternyata, tidak. Ia masih mengingatnya dengan baik.


Ngomong-ngomong, Halo 2016 J

No comments:

Post a Comment