Sunday, May 15, 2016

Saya Tidak Bisa Menulis

via http://www.alienated.me


Saya tersenyum kecut ketika perempuan itu berkata bahwa saya bisa menulis. Ia meletakkan bukunya dan juga mengeluarkan seluruh pensil untuk menggambar. Sekali lagi, perempuan itu bilang kepada saya: “Kamu kan bisa menulis,”

Saya terdiam cukup lama sampai akhirnya goresan-goresan yang ia ciptakan – gesekan antara kertas kosong dan grafit dari isi pensil itu berdecit keras di telinga saya. Terasa begitu keras. Terdengar begitu lantang. Padahal, mungkin, hanya semut-semut kecil yang berkeliaran di dekat kertas itu saja yang bisa mendengarnya. Dan, sekali lagi, saya mendengar perempuan itu berkata, “Kamu kan bisa menulis,”

Kembali tersenyum kecut. Saya bisa merasakan diri bahwa wajah saya begitu tegang. Saya bahkan tidak mampu menarik sebaris garis senyum. Sama sekali tidak bisa. Tegang. Begitu tegang. Hanya setengah senyum kecut yang bisa saya berikan. Tentu dengan sangat bersusah payah karena kulit wajah saya tampak begitu tegang. Dan, memang sangat tegang. Rasanya seluruh otot saya jadi kaku. Mengeras tiba-tiba.

“Kamu bisa menulis,” ulangnya lagi. Otot saya mengeras. Bahkan senyum kecutpun tidak lagi mampu menguar. “Kamu bisa mendapatkan uang dengan menulis,” kali ini otot saya tiba-tiba mengendur – dan kemudian tiba-tiba tertawa terbahak-bahak – menyadari bahwa apa yang barusan perempuan itu katakan benar-benar lucu. Di balik wajahnya yang serius itu, ternyata dia memiliki selera humort yang tinggi.

“Kenapa kamu tertawa?”

Saya berusaha mengontrol nada suara. Pelan-pelan saya berkata padanya, “Bagaimana bisa kamu mengatakan itu sementara aku membeli secangkir kopi ini,” saya mengangkat segelas kopi pahit yang masih panas. Asapnya mengepul dengan cepat. “...bukan dari uang hasil menulis. Tetapi uang dari hasil pekerjaan tetapku yang sekarang,” ujar saya cepat – sebelum dia memotong.

“Tetapi, tetap saja, kamu bisa menulis. Terlepas apakah hasilnya banyak atau sedikit. Kamu bisa menulis,”

Wajahku kembali tegang. Tetapi tidak dengan dahiku. Ada sesuatu yang berkerut di sana. Kulit dahiku mengernyit di tengah membentuk guratan horizonal yang bak lereng gunung.

“Darimana kamu bisa mengatakan itu?” suaraku terasa dingin. Saya bahkan baru menyadarinya setelah itu lolos begitu saja.

“Te-tentu saja aku tahu. Kamu sudah membuat satu buku. Kurang apalagi?” jawabnya cepat.

“Kamu sudah membacanya?”

“Be-belum,” ia tergagap lagi. “Aku belum membelinya. Aku belum punya cukup uang,” ujarnya pelan.

“Kamu bisa meminjamnya dariku,”

“O-o-ohooo... tidak! Aku ingin menghargai karya temanku dengan membelinya,” ujarnya kembali cepat.

“Tidak perlu dengan uang. Cukup dengan kamu membacanya saja dan memberikan komentar. Aku sudah senang,”

“Aku, sedang sibuk dengan proyekku sendiri. Kau tahu kan banyak orang mengantre untuk dilukis. Termasuk dirimu, bukan?” ujarnya yang saat ini memang tengah sibuk melukis wajahku.

“Kamu bisa membaca tulisan singkatku di blog. Ada banyak tulisan singkat yang hanya terdiri tak lebih dari duaratus kata. Tidak sampai satu menit untuk membacanya,”

“Oh—o—oh ya?”

“Kamu tidak pernah mencoba membuka blog saya?”

“Aku sedang sibuk mungkin,” dia nyengir.

“Jadi kamu belum pernah membaca tulisan saya?”

“Be-belum...” ia berujar pelan. Pelan sekali.

“Lalu, bagaimana kamu bisa tahu kalau saya bisa menulis?” wajah saya kembali mengendur. Seulas senyum atau mungkin seringaian muncul di sana.

Aku mendekatku tubuhku padanya. Berbisik tepat di telinganya, “Kamu tahu? Saya tidak bisa menulis. Tidak pernah bisa,” kemudian aku tertawa terbahak-bahak. Perempuan itu tersenyum kaku. Ia tidak melanjutkan melukis sketsa wajah saya. Tersirat rasa jengkel di wajahnya.

“Hanya karena saya sudah membuat satu buku kemudian kamu menyebut saya bisa menulis?” saya tertawa terbahak-bahak. “Kamu lucu sekali! Benar-benar lucu! Saya sampai tak bisa berhenti tertawa,” aku benar tertawa terbahak-bahak sekarang. Mulutku melebar. Gauman terus berkumandang dari sana. “Lukis saya sedang tertawa ya! Tertawa bahagia!”

***


Dan seolah-olah, kita selalu merasa telah mampu memahami orang lain hanya dengan melihatnya saja. Dan seolah-olah, kita tahu betul tabiat orang lain? Dan, seolah-olah itu apakah memang benar? Terkaan kita hidup dalam pikiran kita -- pun mungkin juga, di dalam kenyataan.

-- apa yang kita pikirkan tidak hidup di dalam benak orang lain.

Dan kebenarn pun, bukankah memiliki banyak versi?


Bukankah begitu?


1 comment:

  1. Sama dgn istilah: jangan nilai buku dari sampulnya.

    Omong-omong, penggunaan saya/aku sepertinya tidak konsisten.

    ReplyDelete