Saturday, September 24, 2016

Percakapan tanpa Balasan


via http://farm4.static.flickr.com

Kita sering bercakap-cakap. Mereka bilang aku dan kamu berbicara sangat panjang. Membicarakan banyak hal. Tapi, kurasa, kita tidak pernah melakukan perbincangan. Aku hanya mendengarkan setiap celotehanmu dan agar percakapan kita menjadi awet, aku akan melontarkan pertanyaan tiap kali kamu berhenti menjelaskan. Dan bukankah, seharusnya aku sudah tahu? Bahwa percakapan-percakapan kita tak pernah tanpa balasan. Semua adalah tentang perbincangan satu arah yang akan berhenti jika aku tak bertanya lagi. Bukankah semuanya sudah cukup jelas?


Tidak ada penjelasan yang lebih panjang. Tidak ada pertanyaan berulang. Tidak ada pertanyaan yang sama. Sebab setiap kali aku bertanya, “Apa kabar,” bukankah kamu hanya menjawab “baik” tanpa bertanya tentang kabarku? Bukankah seharusnya aku sudah tahu? Bahwa semua percakapan ini tanpa balasan. Bukankah seharusnya aku sudah tahu? Tidak ada lagi yang perlu diharapkan dari percakapan-percakapan tanpa balasan.


Bukankah memang selalu begitu? Aku selalu menjadi pendengar yang baik. Berusaha memahami setiap ucapanmu walaupun aku tak benar-benar mengerti apa yang kamu bicarakan. Mereka bilang, hanya kepadakulah kamu akan berbicara banyak. Tidak kepada mereka. Tetapi, sebenarnya, tidak juga kepadaku. Bukankah kamu tak pernah mendengarkanku bicara banyak-banyak? Bukankah kamu tahu bahwa aku selalu menjadi yang paling banyak bicara ketika bersama dengan orang lain? Denganmu, aku menjadi seorang yang pendiam. Denganmu, aku hanya menanyakan hal-hal yang sekiranya membuatmu bertahan bersamaku – untuk terus berbicara.


Tetapi, bukankah aku harusnya tahu? Semua ini adalah percakapan tanpa balasan. Sampai kapan pun aku hanya akan menjadi seorang pendengar tanpa pernah menceritakan apapun tentangku. Karena kamu tak pernah bertanya. Karena kamu mungkin merasa tak perlu tahu. Dan kemudian, mereka bilang, hal itu karena kamu seorang yang pendiam.



Mereka bilang, ini karena kamu seorang yang pendiam.

Aku bilang, ini karena kamu memang tak pernah ingin tahu tentangku.

Aku rasa, ini karena kamu tak pernah peduli.

Aku pikir, kamu memang tak peduli apapun tentangku.



Bukankah begitu?



Jadi, sudahi saja percakapan tanpa balasan ini, bukankah tanyaku hanya akan membuatmu jemu?

No comments:

Post a Comment