Monday, October 3, 2016

[Cerpen] Trotoar Merah Muda


            Saat melihatnya berdiri sendirian di pinggir jalan, aku menepikan motorku – dan memberanikan diri menawarinya tumpangan. Semuanya berjalan begitu saja; mengikuti intuisi yang terjadi secara spontan.

            Waktu itu, aku hanya terheran-heran saja, mengapa hari itu dia tidak segera melangkahkan kakinya menuju sekolah dan malah berdiri sendirian di bawah pohon akasia di pinggir jalan, di atas trotoar merah muda. Lima menit lagi jam tujuh dan dia masih berdiri di sana. Beruntungnya, aku tidak ngebut walau tahu sudah hampir terlambat. Sebenarnya tidak beruntung juga. Soalnya kalau lewat jalan ini aku memang selalu memperlambat laju motor. Hanya untuk mengamatinya dari jauh – melalui kaca spion motor.

            “Nunggu bus ya? Bareng aku aja, kita satu sekolah kan?” beruntungnya hari itu Sabtu. Dan kami semua menggunakan seragam identitas. Tentu saja baik aku dan gadis itu tidak perlu repot-repot memperkenalkan diri dan menjelaskan asal-usul sekolah kami. Yang penting sudah jelas bahwa kita berdua satu sekolah. Jadi, tidak perlu ada kecurigaan yang berlebihan. Aku berniat membantunya dengan memberikan tumpangan ke sekolah – dan kalau bisa jadi terlihat seperti pahlawan di matanya.

            “Lima menit lagi masuk,” aku mencoba tersenyum – tapi sepertinya itu lebih tepat disebut meringis menahan malu daripada tersenyum dengan tulus. Baiklah, aku mengakui bahwa aku tidak pernah seberani ini terhadap gadis yang belum aku kenal dengan baik. Apalagi gadis itu adalah perhatian utamamu saat ini.

            Dia menggelengkan kepalanya. “Duluan aja,” mendengar jawabannya, entah kenapa aku merasa tiba-tiba semua yang melekat dalam tubuhku luruh, ada sesuatu yang runtuh seketika. “Beneran enggak mau bareng?” sepertinya aku mencoba berusaha. Entah keberanian itu berasal darimana. Mungkin intuisi cowok pada umumnya. Tipikal.

            Dia kembali menggelengkan kepalanya. “Kamu duluan aja. Aku masih menunggu seseorang,” jawabnya. “Mending satu orang aja yang telat,”

            “Oke. Oke. Semoga segera bertemu dengan temanmu itu ya,” kataku – akhirnya menyerah. Secepat itu menyerah? Aku kembali merapatkan helm dan berusaha untuk tidak melihat wajahnya. Aku hanya malu dengan sebuah penolakan setelah berhari-hari mengumpulkan keberanian. Apalagi gadis itu menolakku karena menunggu orang lain.

            “Oh ya ngomong-ngomong... Terimakasih ya, baik tawaran tumpangan dan doanya,” ujarnya sembari tersenyum setelah aku merapikan helm. Aku hanya membalas dengan anggukan kepala. Terlanjur tidak bisa berkata apa-apa lagi karena ditolak. Padahal hanya penolakan tawaran untuk ditebengi. Tetapi, ah...! Ya itu tadi, entah apa yang terjadi, semua terasa luruh. Entah apa yang luruh. Mungkin harapan. Mungkin juga penantian.

             Aku hampir menstarter kembali motorku sebelum dia mengeluarkan suara lagi.

            “Oh ya, namamu siapa?” tanyanya. Mampuslah! Dia bahkan tidak tahu namaku. Padahal kita berdua satu angkatan dan kelas kita bersebelahan selama dua tahun berturut-turut!

            Namun, aku berusaha untuk tetap tenang. Mengetahui bahwa aku tidak diperhatikan oleh orang yang selalu menjadi perhatian utama, membuatku menjadi kacau seketika. “Namaku Dira,” ujarku. “Salam kenal ya, Vera,” langsung aku tancap gas setelahnya, meninggalkan wajahnya yang mendadak melongo.

***

            Nama gadis itu Vera, si anak pejalan kaki yang selalu setia berjalan kaki dari rumahnya ke sekolah dengan menelusuri trotoar merah muda. Setiap kali melintasi jalan menuju sekolah dengan mengendari motor, aku selalu melihatnya berjalan kaki – bersama berbagai macam orang. Kadang, aku melihatnya berjalan kaki dengan seorang kakek penjual sapu, anak kecil yang juga akan berangkat sekolah, atau pun ibu-ibu penjual kue yang menjajakan makanannya dari satu tempat ke tempat lain. Pokoknya macam-macam!

            Awalnya, aku pikir mereka semua adalah keluarganya. Tetapi ratusan hari melewati jalan yang  sama – di jam yang sama – dan memergoki si gadis pejalan kaki bernama Vera itu, lambat laun aku mengetahui bahwa orang yang berjalan bersamanya selalu orang yang berbeda. Kadang-kadang ia berjalan bersama orang yang sama. Namun, ia lebih sering berjalan bersama orang yang berbeda-beda. Satu hal mengapa aku sempat berpikir mengapa orang-orang yang berjalan bersamanya adalah keluarganya; mereka terlihat begitu akrab.

            Gara-gara sering melihatnya dari kelas satu, aku jadi penasaran tentang gadis itu. Aku berusaha mencari tahu tentangnya, namanya, dan semua hal yang ada di dalam dirinya. Namun, entah mengapa aku selalu tidak bisa mengajaknya ngobrol. Padahal kelas kami bersebelahan. Baru kemarin aku berani mengajaknya berbicara. Berbasa-basi dengan niat memberikan tumpangan gratis ke sekolah tetapi ditolaknya karena ia tengah menunggu seseorang.

            Mengingat ia menunggu seseorang. Aku jadi penasaran. Sekaligus... ya, semua orang pasti tahu apa yang aku rasakan.

            Aku jadi menyesal mengapa tidak mengajaknya ngobrol sejak dulu. Kenapa pula aku mesti malu? Sebagai teman satu sekolah seharusnya aku tidak perlu malu. Kelas kami bersebelahan. Dan ternyata Vera juga tidak mengetahui namaku. Bukankah ini menyedihkan? Maksudku, aku bahkan selalu mencari tahu tentangnya. Jika sudah memasuki kawasan Jalan Diponegoro, aku selalu melambatkan laju motorku karena aku tahu ia akan keluar dari salah satu gang di pinggir jalan itu.

            Tetapi, dua tahun melakukan hal konyol dengan melambatkan laju motor dengan hati-hati – juga lebih fokus melihat spion motor untuk melihatnya berjalan daripada melihat jalanan di depan – ternyata berbuah kenyataan bahwa Vera tidak mengetahui apapun tentangku. Bahkan, nama. Aku pikir itu tidak wajar karena jumlah kami dalam satu angkatan adalah 120 anak. Kami hanya terbagi menjadi empat kelas. Aku kira, seharusnya Vera tahu sedikit tentangku. Lho, kok aku maksa sih kalau Vera harus tahu tentangku?

            Baiklah, aku mengakui bahwa aku tertarik atau bahkan sudah mulai menyukainya. Dan berharap penuh padanya. Dan aku yakin, yang luruh kemarin pagi itu adalah harapan. Harapan yang luruh dan berjatuhan di atas trotoar merah muda .

***

            Limabelas menit lagi jam tujuh. Dan motorku benar-benar tidak berdaya. “Dira?” aku baru saja ingin mengumpat – atau setidaknya menendang motorku hingga (berharap) menyala kembali. Tetapi sebuah suara terdengar, tepat di belakangku.

            “Motormu kenapa? Mogok ya?” Mulutku hampir tercekat. Untung saja aku tidak jadi mengomel, mengumpat, atau apapun itu. Vera berdiri tempat di belakangku sembari celingak-celinguk ingin tahu. Ia sedikit berjinjit untuk melihat motorku yang terhalang oleh tubuhku. Aku belum sempat menjawabnya karena sudah terpana duluan. Vera ingat namaku?

            “Sepuluh meter lagi ada bengkel. Taruh saja di situ dulu. Soalnya limabelas menit lagi sudah masuk. Daripada telat kan? Motormu diambil saja nanti waktu pulang sekolah,” aku melongo tidak bisa berkata apa-apa. Sungguh, setelah kejadian itu, aku pikir Vera akan lupa.

            “Kok diam? Aku bantu dorong motormu deh. Nanti berangkatnya jalan kaki saja. Atau mau naik bus? Bus jam segini ramai dan harus menunggu lama. Jalan kaki, maksudku jalan “cepat” malah lebih bisa duluan sampai,” cerocosnya panjang lebar. Aku hanya bisa makin melongo karena aku pikir dia anak pendiam.

            “Masih bengong aja Dir, keburu telat. Yuk!” dia mengambil alih motorku dan menuntunnya. “Kamu yang dorong ya, hehehe,”

            “Dir?” tanyanya sekali lagi karena aku masih bengong lama. “Bengkelnya nggak di situ Dir,” dia tertawa kecil, menunjukkannya geliginya yang putih dan rapi sekaligus satu lesung pipi di bagian kiri. “Sepuluh meter lagi. Nggak apa-apa kan, jalan kaki?” seperti terhipnotis aku pun mengikutinya dari belakang dan mendorong motor dengan perasaan yang tidak terdefinisikan.

***

            “Kamu sering jalan kaki ya, Ver?” di tengah perjalanan kami menuju sekolah, melintas trotoar berwarna merah muda, di antara kesunyian, aku mencoba memberanikan diri untuk mengajaknya berbicara. Kadang aku terheran-heran, mengapa di Indonesia kebanyakan trotoar berwarna merah muda. Sudahlah, itu tidak penting.

            “Setiap hari, Dir. Bus di sini kan sedikit, menunggunya lama lagi. Lagipula jarak rumah dan sekolah enggak terlalu jauh. Bisa hemat uang transport juga. Jadi, kenapa enggak?” katanya menyerocos panjang sembari tersenyum kecil. Aku tidak percaya bahwa dia akan menjawab semua kalimat pendekku dengan kalimat yang panjang-panjang. Kami berbicara seperti pertanyaan dan jawaban dalam ujian esai saja.

            “Oh, begitu ya?” aku menggaruk kepala. Tidak tahu harus ngobrol apa. Dan masak tanggapanku atas jawabannya hanya seperti itu saja?

            “Lagipula Dir, kalau jalan kaki begini, aku akan bertemu banyak orang. Termasuk kamu,” dia kembali tertawa kecil. “Coba kalau tadi aku naik bus atau menerima tawaran tumpangan dari yang lain. Mungkin aku enggak bakal bisa menunjukkan bengkel terdekat. Salah satu yang membuatku suka berjalan kaki karena aku jadi bisa berinteraksi dengan banyak orang. Kadang aku bertemu seorang anak kecil, bapak penjual es, ibu penjual buah, dan lain sebagainya. Arah kami sama, jadi tidak masalah bukan berjalan bersama-sama? Di situ kami mengobrol banyak hal. Kadang-kadang kami bisa bertemu lebih dari dua kali, jadi kalau ketemu ya pasti mengobrol lagi. Tanya kabar dan lain-lain. Itu yang paling aku suka. Jadi daripada naik bus yang sesak itu aku mending berjalan kaki. Banyak juga kok teman-teman sekolah kita yang sering menawariku tumpangan seperti kamu seminggu lalu. Tetapi aku tolak karena lebih menyenangkan jalan kaki,” ujarnya panjang lebar. Aku jadi semakin bingung mau ngomong apa. Tetapi yang jelas aku tahu suatu hal: Vera berbeda dari kebanyakan orang. Aku jadi tahu mengapa ia selalu berjalan kaki bersama orang-orang yang berbeda setiap harinya.

            “Jadi nggak sekali itu aja ya kamu ditawari tumpangan?”

            Vera tertawa. Menunjukkan gigi-giginya. “Yap. Dan kamu bukan orang pertama. Apalagi kalau lagi pakai seragam identitas. Teman satu sekolah bakal lebih mudah mengenali. Makanya pas kemarin kamu menepikan motor, aku nggak heran. Karena seragam kita sama,”

            Aku tersenyum kecil. Vera bahkan mengira aku menaruh perhatian padanya karena seragam identitas dan itu terjadi baru kemarin. Padahal, itu sudah sangat lama.

            “Ngomong-ngomong, Ver, memangnya kemarin kamu menunggu siapa? Waktu aku nawarin tebengan ke sekolah kamu bilang lagi menunggu orang lain?”

            “Oh itu...” wajahnya tiba-tiba berubah sedih. Duh, jadi merasa bersalah. Tetapi di satu sisi aku penasaran juga. Jangan-jangan...

            “Aku menunggu kakek penjual sapu. Namanya Mbah Mar. Biasanya dia orang pertama yang aku temui sampai di perempatan ujung sana,” ia menunjuk perempatan yang akan kami lalui sebentar lagi, “...Mbah Mar itu berbelok kiri,” ujarnya. “Tetapi sudah dua minggu ini aku tidak melihat Mbah Mar. Aku khawatir saja kenapa kita tidak bertemu. Aku tahu Mbah Mar sudah terlalu tua dan tinggal sendiri. Di usia sesenja itu, bukannya akan ada banyak hal yang mengkhawatirkan. Sementara itu aku nggak tahu di mana rumah Mbah Mar,” ujarnya sedih.

            Wajahnya menunduk lesu.

            “Kamu mau mencari Mbah Mar?”

            “Setidaknya aku pengin tahu kondisinya. Dia tinggal sendirian. Aku khawatir saja,” Vera benar-benar unik. Hanya kakek penjual sapu yang ditemuinya di jalan saja membuatnya khawatir setengah mati.

            “Pulang sekolah nanti bagaimana kalau kita mencarinya bersama-sama? Mungkin bisa pakai motorku kalau nanti sudah selesai diperbaiki,” tawarku hati-hati sembari berharap tidak ada penolakan yang sama.

            “Nggak merepotkan nih?”

            “Nggak lah!” suaraku meninggi. Tetapi meninggi dengan lucu. Bukan meninggi karena marah. Dan Vera malah tertawa mendengarnya.

            “Oke! Kamu yang bilang nggak merepotkan ya. Aku setuju!” ujarnya bersemangat. “Tapi awas kalau nanti kamu tiba-tiba menyesal,” aku mengangguk setuju. Lagipula siapa yang akan menyesal?

            Gerbang sekolah sudah terlihat di depan dan sebentar lagi juga akan bel. Sepertinya kami berdua benar-benar sampai “tepat waktu”.

            “Oh ya Ver, kok kamu bisa ingat namaku tadi?”

            Vera menatapku aneh. “Kita kan satu sekolah. Masak aku lupa?”

            “Tetapi kemarin kamu bahkan nggak tahu namaku,”

            “Aku nggak tahu namamu bukan berarti aku enggak tahu kamu, lho, Dir,” ujarnya tertawa. “Kelasmu kan tepat di sebelahku. Aku jelas tahu kamu lah. Cuman kalau nama emang nggak begitu tahu. Makanya kan kemarin aku tanya,” dia tersenyum kecil.

            “Jadi kamu tahu aku?”

            “Tentu saja!” dia tertawa lagi. “Cuman kamu satu-satunya orang yang mengendarai motor dengan lambat di sepanjang jalan. Ngapain sih? Padahal yang lain pada ngebut,”

            Aku terkekeh sendiri. Selama ini, ternyata Vera juga memerhatikan laju motorku yang tidak normal. “Kok kamu bisa tahu?”

            “Cuman kamu yang pakai motor astrea tahun 2000-an di sekolah in,” tawanya kembali pecah. Aku hanya bisa cengengesan sembari mempercepat laju langkah agar melewati gerbang sebelum satpam paling ganas menutupnya. Sebelum benar-benar menembus gerbang, aku menoleh ke belakang, memerhatikan trotoar yang kami lewati baru saja. Dan hari ini, warnanya lebih merah muda dari biasanya. [***]


Dimuat di Majalah Kawanku Edisi 8-22 Juni 2016. Saya tidak tahu kalau dimuat dan pemberitahuannya pun cukup terlambat. Yang disesalkan hanya satu hal: saya jadi tak bisa memiliki edisinya. Ngomong-ngomong ini cerpen keempat saya yang dimuat di Majalah Kawanku. Artinya, ini cerpen kelima mengenai dunia remaja yang sudah dipublikasi. Ngomong-ngomong saya memiliki sebuah proyek terkait dengan cerpen-cerpen bertema remaja yang sudah tersebar di media massa. Doakan, ya, semoga segera terwujud!

No comments:

Post a Comment