Monday, October 3, 2016

Laiknya Tahun-Tahun yang Dulu

Kali ini aku tidak akan berharap apapun. Seperti tahun-tahun sebelumnya, semua telah menjadi semu. Aku jemu dengan semua harap. Dengan keajaiban-keajaiban. Jika pun aku harus berharap padanya maka dia adalah harapan kedua.

Hari ini, empat hari sebelum semua orang akan meneriaki kehadiran. Di tempat ini, di tempat yang begitu riuh akan orang-orang, aku duduk berdiam diri. Memandangi mereka. Memandangi wajah-wajah mereka. Mencoba menafsirkan seluruh mimik wajah mereka. Ketika ada banyak guratan keheranan. Ketika tertawa terbahak-bahak. Atau hanya sekadar memandang kosong. Mungkin aku tak akan ingat wajah mereka satu persatu. Dan mereka juga mungkin akan melupakanku. Atau bahkan tak melihatku sama sekali. Mana mungkin, di antara miliaran orang yang ada, mereka mau mengingatku. Tapi aku tak peduli. Yang mengadakan diriku sendiri adalah aku.

Saat ini, seorang perempuan duduk tempat di sampingku, ia bermain dengan gawainya. Entah apa yang diketiknya. Entah siapa yang dihubunginya. Aku tidak terlalu peduli. Hanya saja, ia terlihat begitu sibuk. Dan juga geram. Dahinya berkerut. Suasana begitu ramai tapi aku bisa mendengar bagaimana jari-jemarinya menekan layar dengan membabi buta. Sepertinya ia sedang menunggu balasan pesan, yang tak kunjung datang. Yang tak kunjung nampak. Ada rindu yang tak dapat ditahan tapi semuanya hanya mengalir ke selokan. Serupa limbah.

Kemudian perempuan itu pergi. Langkah kakinya tergesa-gesa sekaligus menghentak-hentak. Seolah ada sesal sekaligus kemarahan yang bercampur-aduk. Mungkin ia berjanji dengan seseorang tetapi tak kunjung datang. Atau bahkan lupa akan janji itu. Mungkin pula orang itu memang tak ingin datang. Dan perempuan itulah yang berharap lagi. Dalam hingar-bingar. Dalam tiap langkah yang bergemeresak. Semua lebur.

Setahun yang lalu, aku menanti. Tapi ucapan itu tak kunjung terucap. Mungkinkah mereka lupa atau memang benar-benar tak peduli? Setahun lalu aku menanti di balik pintu. Menunggu dengan harap-harap cemas kalian akan menggedornya, memaksaku keluar, menyodorkan sebongkah kue, dan sebatang lilin. Tapi kalian tidak ada. Semenjak pagi hingga berganti pagi lagi. Tak ada satu pun dari kalian yang datang atau hanya sekadar berkirim pesan. Ah, aku masih ingat satu orang yang dengan baik hati menyisipkan buku tebal yang sudah aku inginkan sejak lama ke dalam tasku. Aku bersyukur untuk itu. Aku bersyukur pada orang-orang yang peduli. Walaupun sejauh mataku memandang mereka hanya ada dua atau tiga. Bahkan hanya satu.

Setahun lalu, kupikir akan hujan. Sebab mereka tidak datang. Setahun berikutnya, aku sudah tak mau menebak-nebak lagi. Tidak ingin menanti apapun
Aku akan pergi. Mencoba untuk lenyap dalam beberapa hari. Aku mungkin akan mematikan gawai. Atau aku mungkin tak akan membawanya. Entah kemana kaki ini akan melaju, aku hanya percaya bahka aku harus pergi. Tidak ada tempat untuk menanti lagi, mengharapkan sesuatu yang tak pasti. Aku benar-benar akan pergi. Aku akan berada di sebuah kereta malam menuju stasiun yang jauh dari Yogyakarta. Jika pun kalian akan datang pada saat itu, bukankah aku telah memberikan kesempatan bagi kalian setahun sebelumnya?

No comments:

Post a Comment