Wednesday, January 18, 2017

[Cerpen] Gadis Panti

Lamia Putri Damayanti

“Asu kowe!”[1]
seorang gadis kecil berteriak keras. Matanya yang memerah menampakkan kemarahan -- tetapi juga sekaligus keluguan. Ia melantunkan umpatannya kepada segerombolan remaja laki-laki yang tengah menggodanya. Kebetulan sekali, tepat ketika gadis kecil itu menyeru “asu” seorang perempuan paruh baya dengan kerudung panjang lewat dan mendengar seruan itu. Perempuan yang berjalan dengan cara membungkuk-bungkuk itu pun berhenti seketika. Wajahnya merah padam antara marah dan malu ketika mendapati seorang gadis kecil berusia sebelas tahun berani mengumpat di pinggir jalan
            “Eh... eh.. eh... ngomong yang baik-baik. Anak gadis tidak boleh ngomong kasar,” ujar Ibu itu.
            “Menika lho, Bu, ngomonge kasar. Cah wedhok kok ngomong kasar! Wuuu[2]!” segerombolan remaja laki-laki itu kembali bersuara – bersahut-sahutan. Berniat memprovokasi. Si gadis kecil langsung mbesengut[3]. Pipi gempalnya yang hitam itu menggembung. Bibirnya mengerucut ke depan dengan sebal.
            “Kalian juga jangan menganggunya,” hardik perempuan paruh baya itu. “Sudah, kalian semua bubar. Bikin malu saja rebut di jalan,” keributan “kecil” itu memang terjadi di jalan, tepatnya di depan sebuah warnet yang tidak lagi seramai dulu.
Perempuan paruh baya itu kemudian berlalu sembari tetap berjalan dengan membungkuk-bungkuk. Namun, gerombolan remaja itu tak mengindahkan nasihat dari perempuan paruh baya dan tetap mengejek gadis itu. Hari itu, pakaian yang dikenakannya memang tidak seperti biasanya. Pada hari-hari biasa, gadis itu hanya memakai baju bekas lusuh pemberian donatur dan celana selutut yang kebesaran.Hari ini dia memakai sebuah rok panjang bermotif bunga-bunga dengan blouse merah. Ini kali pertama gadis kecil itu berpenampilan dengan anggun. Dan bagi para gerombolan remaja itu, gadis itu terlihat aneh dan tak pantas mengenakannya. Mereka kemudian langsung mengejeknya seperti biasanya. Seperti hari-hari biasa.
            Gadis itu menjulurkan lidahnya. Dia berbalik dan menggeal-geolkan pantatnya. Itu adalah salah satu caranya untuk menghina orang.
            “Asu!” pekik salah seorang dari mereka. “Elek we kemayu![4] Si gadis tetap bertahan menjulurkan lidahnya sembari tetap menggeal-geolkan pantatnya. “Wis gembrot, ireng sisan, wuuu[5]!”
            “Rasah macak lonte koyo ibumu. Koe ki elek. Ra payu[6],” gadis kecil itu langsung berhenti mengejek segerombolan remaja itu dengan bahasa tubuh. Matanya sekarang benar-benar merah. Kali ini dia tidak lagi mengumpat asu. Dia langsung mengambil sebuah batu yang cukup besar dan melemparkannya ke sekelompok pemuda itu. Kemudian ia langsung berlari kencang sesaat setelah suara “prang” terdengar. Dia tahu, batu itu pasti sudah memecahkan spion motor salah satu dari mereka.
            Gadis itu berlari menuju warnet di seberang jalan dan langsung duduk di depan saya. Dia mengintip keluar sembari memelas “minta disembunyikan”. Saya sendiri hanya diam sembari tetap memandangi layar komputer. Bertugas jadi penjaga warnet seperti biasa.
            Saya tidak begitu ingat nama gadis kecil itu. Dia pernah memperkenalkan dirinya dan bercerita panjang lebar tentang dirinya. Tapi, sayangnya, saya lupa. Mungkin, saat itu, ketika ia bercerita panjang lebar tentang kisah hidupnya, saya malah asyik bersosial media. Kalau tidak salah namanya Rina. Tapi saya juga tidak begitu yakin. Mari kita sebut saja dia gadis panti. Dia memang adalah salah satu penghuni Panti Asuhan bernuansa religi yang berdiri kokoh di belakang warnet tempat saya bekerja.
            Sekitar dua tahun lalu saya sering menjaga warnet di hari minggu dan selalu kedatangan gadis panti ini. Dia tidak pernah datang untuk ngenet. Dia tiba-tiba saja masuk ke warnet dan berjalan mondar-mandir melihat-lihat bilik mana yang kososng. Tapi sesudahnya dia tidak ngenet sama sekali. Dia pasti akan duduk di samping saya, bertanya tentang “saya”, dan bercerita tentang dirinya. Awalnya saya tidak begitu menghiraukannya. Saya juga tidak terlalu peduli anak itu mau apa. Asalkan dia tidak mengganggu saya dan tidak berbuat onar di warnet.
            Saya masih ingat pertama kali gadis panti itu datang ke warnet. Dia sebenarnya mengekori temannya yang lebih tua. Temannya itu jauh lebih mengerti soal komputer dan internet. Dia juga tahu tentang sosial media dan gemar sekali pasang foto profil palsu – begitu cerita si gadis panti. Saat itu, karena dihiraukan oleh temannya sedangkan dia sendiri tidak mampu mengoperasikan komputer. Ia datang sambil tersenyum-senyum aneh. Dia kemudian duduk di samping saya dan bercerita tentang dirinya.
            Dia memperkenalkan diri tanpa saya minta. Saat itu, usianya hampir sembilan. Kelas tiga SD. Dia bercerita kalau dia tinggal di Panti Asuhan belakang warnet. Dia juga bercerita mengapa bisa sampai tinggal di Panti Asuhan. Saat itu saya hanya berusaha mendengarkan celotehnya dan menanggapi semampunya.
Semenjak itu, gadis panti itu jadi sering berkunjung ke warnet di hari Minggu. Hari di mana saya selalu jaga dan dia libur sekolah. Gadis itu, kalau melihat saya yang jaga, pasti langsung duduk di samping saya dan mengomentari penjaga warnet lain yang dianggapnya tidak ramah dan galak.
            Suatu hari dia pernah bercerita tentang Ibunya. Dengan mata polos kekanak-kanakan laiknya mata anak-anak yang lain. Dia bercerita sebab-musabab kenapa bisa sampai di Panti padahal tahu siapa orang tua biologisnya. Dia cerita kalau ibunya adalah seorang pelacur. Dengan gamblang dia juga bercerita kalau Ibunya tidak mau mengurusnya sehingga dia dititipkan di panti asuhan begitu saja. Sebagai orang yang lebih dewasa, saya berusaha membesarkan hatinya.
            “Jangan berpikiran seperti itu. Mungkin Ibu kamu belum punya cukup uang,”
            “Ibu memang bilang seperti itu kok, Mbak. Bilang ke saya langsung,”
            Saya tercengang. Saya pun cuma manggut-manggut. Tidak tahu harus berkomentar apa selain prihatin. Saya hendak tak ingin menanyakan apapun – apalagi soal bapaknya. Tapi gadis panti itu malah bercerita lagi:
            “Ibu saya cantik, Mbak .Orang-orang bilang seperti itu. Tapi saya jelek,” tuturnya.“Seperti bapak.”          
            Saya hanya melirik sekilas. Pada posisi ini, saya benar-benar tidak tahu harus ngomong apa. Selain ham-hem-ham-hem tidak jelas.
            “Ibu saya ndak bilang bapak saya yang mana sih, Mbak. Orang-orang sekitar juga tidak tahu secara pasti bapak saya itu seperti apa. Pelanggan ibu, katanya banyak.Yang jelas, kata orang-orang, bapak saya jelek. Makanya saya jelek.
            Saya terkesiap. Tapi tidak tahu harus berkomentar apa.
            “Ibu saya sekarang sudah menikah, mbak. Kata orang-orang, sing lanang ganteng. Saya sih, ndak pernah lihat. Tapi Ibu bilang kalau om itu ndak suka sama saya. Katanya saya jelek. Hitam dan gembrot.” Tuturnya lancar. Seolah-olah bercerita seperti itu adalah hal yang mudah baginya. Seperti menceritakan kisah liburan sekolah di depan kelas saat pelajaran Bahasa Indonesia. Padahal bagi saya pribadi, saya pasti akan terbata-bata. Tergagap-gagap. Dan mungkin memilih untuk tidak menceritakannya pada siapapun.       
            “Akhinya, Ibu saya menitip kan saya di panti. Saya ndak suka mbak tinggal di panti asuhan. Apalagi kalau pagi-pagi sudah diseblak pakai sapu. Disuruh tahajud. Padahal saya masih mau tidur. Itukan sunnah, Mbak… Saya juga ndak suka sama Bapak Panti. Tiap jumat dia khotbah, tapi selalu ngumpetin blek kue pemberian orang yang enak-enak dan mahal.Yang dikasih blek isi rempeyek. Hyuuuuh….”
            “Tapi saya lebih milih di panti, Mbak. Kalau sama Ibuk dikata-katain terus. Katanya saya jelek. Seperti bapak. Padahal, Ibu juga tidak tahu pasti yang mana bapak saya. Soalnnya kata orang-orang pelanggan Ibu saya itu kebanyakan jelek. Cuman mereka memang punya duit saja,”
            “Saya bosan dikatain jelek, sesek ali pengen dibilang cantik,”
            Gadis kecil itu menggaruk-garuk kepalanya. “Mbak… mbak… memang kenapa kalau saya jelek, hitam, dan gendut?” saya terdiam lama sekali. Sebetulnya saya ingin langsung menjawab bahwa tidak ada yang salah dengan dirinya. Tetapi temannya yang lebih tua itu keburu keluar dari bilik warnet. Dengan sikapnya yang terlihat arogan dia menyuruh si gadis panti pulang.
***
            Setelah dua tahun berlalu, gadis panti itu berubah menjadi sosok yang berbeda. Kalau dulu dia adalah sosok yang masih suka cengengas-cengenges dengan agak manis. Sekarang dia jadi galak, terutama dengan lelaki, terutama lagi dengan gerombolan remaja laki-laki yang suka mengejeknya. Dia memang pernah cerita ke saya, kalau dia sudah muak dengan ejekan-ejekan seperti itu.
            Gadis itu kini bersungut-sungut di depan saya. Matanya tampak awas dari balik pintu kaca warnet.
            “Huh. Saya kesal mbak,” ujarnya lirih. Tanpa diminta, seperti hari-hari biasa, hal yang tidak pernah hilang darinya pula, gadis panti itu selalu bercerita tanpa diminta.
            “Kae lho mbak, cah lanang-lanang nakal. Mosok ngunekke aku kemayu tapi ora payu.[7]Ujarnya ketus.
            “Itu artinya mereka cari perhatian kamu,” saya ngomong asal. Saya tidak tahu apakah gerombolan remaja laki-laki yang suka ngoplos miras di kebun dekat balai desa itu memang ingin mencari perhatian si gadis panti atau tidak. Saya hanya berharap, salah satunya kualat dengan jatuh hati pada si gadis.
            “Mbak memang kenapa kalau aku anak perempuan dan aku ngomong asu?” saya menatap mata gadis itu sekilas. Tiba-tiba saja dia bertanya seperti itu. Gadis Panti itu sepertinya tahu kalau saya mendengar dan mengintip keributan dari balik kaca. Saya tadi juga sempat dengar kalau tadi dia mengumpat “asu”. Keributan hanya terjadi di seberang jalan. Jalannya pun jalan kecil. Rumah-rumah sekitar pasti bisa mendengarnya. Apalagi warnet tempat saya bekerja yang berdiri persis di seberang depan jalannya.
            “Kalau saya perempuan memang ndak boleh ngomong asu? Mereka (gerombolan remaja laki-laki) semua ngomong asu. Kok yang ditegur cuman saya. Saya kan cuman ngomong asu mbak. ”
            Saya menatapnya lekat. Dan sebelum saya mau menjawab, gadis panti ini keburu ngomong: “Kalau Mbak pernah ngomong asu?”
            “Begini, ya, Rin...” saya menghela napas dalam-dalam, berlagak bak orang dewasa yang bijak. “Mau laki-laki ataupun perempuan, alangkah lebih baiknya kita ngomong yang baik-baik saja,”
            “Lha mereka bilang aku jelek, kemayu, enggak payu,”
            “Mereka sepertinya suka sama kamu. Mereka ndak tahu harus ngomong apa sama kamu. Mungkin mereka memang cari perhatiannya seperti itu,” ladalah – saya ngomong asal lagi. Sekarang tambah nyeblak.
            “Benar ya Mbak?” matanya berbinar.
            “Lho kamu ndak percaya sama Mbak? Mbak sudah pengalaman,” dia tersenyum lucu – persis seperti dua tahun yang lalu kali pertama kami bertemu. Saya pun ikutan tersenyum ketika melihat gadis panti itu kelihatannya begitu yakin dengan ucapan saya. Padahal, saya ini sebetulnya belum pernah punya kekasih.
***
            Setahun berlalu, saya masih menjaga warnet seperti hari-hari biasa. Namun, si gadis panti tidak pernah lagi berkunjung kemari. Temannya yang lebih tua juga jarang kelihatan. Biasanya tiap hari Minggu dia pasti datang ke warnet. Lingak-linguk sebentar mencari saya  lalu duduk di sebelah saya. Dia tetap ndak pernah ngenet. Kerjaannya hanya bercerita seputar kehidupannya.
            Saya hanya menduga-duga, mungkin saja ibunya sudah menikah lagi dengan pria yang mau menerimanya dan tidak menganggapnya jelek. Sehingga ia telah diboyong bersama mereka. Mungkin saja memang seperti itu. Sehingga dia tidak perlu lagi memakan blek isi rempeyek. Sementara itu, saya toh, masih tetap menjaga warnet. Sambil mengumpati pelanggan terakhir yang tidak membayar dan membawa lari kabel data saya. Asu.
***




[1]Anjing Kamu!
[2]Itu, lho, Bu. Bicaranya kasar. Anak perempuan ko kbicaranya kasar. Wuuu!
[3] Cemberut
[4]Jelek saja bertingkah sok cantik.
[5]Sudah gembrot (gendut).Jeleklagi.Wuuu.
[6]Tidak usah bertingkah macam pelacur seperti ibumu.Kamu itu jelek.Tidak akan laku.
[7] Itu lho Mbak, anak-anak laki-laki nakal. Masa menyebut saya centil tetapi tidak laku.





catatan: cerita pendek ini dibuat dua tahun lalu, sebenarnya, kalau boleh jujur, atas dasar pengalaman pribadi. Beberapa tahun lalu saya mengenal "Rina" dan semua keluguan sekaligus kemarahannya. Pada awalnya saya hanya ingin menulis cerita tentang "Rina" saja. Tetapi, entah mengapa, saya ingin menggubahnya sedikit menjadi fiksi.

beberapa minggu yang lalu, saya bertemu "Rina". Sekarang, dia sudah bisa ngenet. Dan badannya makin besar saja. Beruntung, remaja kompleks yang suka menghinanya itu badannya kecil-kecil. Ia punya daya tawar sekarang untuk menghadapi remaja penganut miras oplosan itu. Dan hari itu, ketika saya bertemu "Rina", ia masih saja tersenyum-senyum lucu. Meski tak pernah lagi menceritakan kisah hidupnya kepada saya. Mungkin "Rina" lebih nyaman curhat di medsos, untuk sekarang.

15 comments: