Saturday, February 11, 2017

Nggak Layak

sumber: http://kingofwallpapers.com



Saja baru saja duduk dia atas kursi berwarna coklat yang terbuat dari kayu jati. Permukaannya diplitur sampai licin. Persis seperti kursi-kursi yang kerap saya gunakan sewaktu duduk di sekolah dasar. Saya baru duduk beberapa detik. Kedua siku saya belum sempat bertumpu di atas meja. Saya baru bertemu pandang dengan seorang lelaki yang duduk di depan saya sepersekian detinya. Namun, lelaki paruh baya berkacamata itu, yang tengah membolak-balikkan dokumen tebal – menatap saya dengan ragu. Ia membenarkan kacamatanya sekali dan langsung menyuruh saya pergi – cuman dengan isyarat tangannya.

Lelaki itu piker saya akan pergi hanya dengan gerakan tangannya. Namun, Ia salah, saya malah menambah beberapa detik duduk di atas kursi plituran itu. Lelaki itu bicara dengan gestur maka saya pun juga demikian.

“Nggak. Nggak layak,” ujarnya ketika masih melihat saya tetap duduk di sana.

“Tapi, Pak…” saya berusaha memelas. Meminta pertimbangan lain.

Lelaki itu kembali membetulkan kacamatanya. Kali ini dua kali.

“Banyak yang sudah antre di belakang,” dengan dagunya yang tak begitu lancip itu – ia menunjukkan sekumpulan manusia yang berdiri memanjang sampai melewati ambang pintu. Saya mendengus. Saya tidak suka cara lelaki ini berkata-kata menggunakan bagian-bagian tubuhnya. “Kamu bisa pergi. Lain kali, ya?” kali ini dia menyeret kedua sudut bibirnya ke atas – tersenyum. Ya, dari sekian banyak gestur tubuh yang ia tunjukkan kepada saya, mungkin senyumannya yang cukup tulus telah sedikit mengubah persepsi saya terhadap Bapak itu yang terlanjur saya anggap menyebalkan.

“Badan kamu digemukin makanya,” ia tersenyum lagi. Kali ini, tanpa membetulkan kacamatanya yang sebetulnya sudah jauh melorot. “Kamu terlalu kurus dan kecil,”

Saya masih ingat benar hari itu. Pertama kalinya saya kepengin ikutan donor darah. Saya masih SMA dan masih terbilang cukup remaja dibandingkan hari ini – ketika saya menuliskanya. Waktu itu, saya dibilang tak layak untuk donor darah. Padahal saya belum melakukan apapun. Tensi saya belum  diukur. Saya juga belum naik ke atas timbangan berat badan. Saya belum melakukan apapun. Tetapi, Bapak itu – baru juga melihat sekilas – langsung memutuskan kalau saya ini tidak layak untuk donor darah.

Namun, pada dasarnya, saya memang tak layak.

Sebelum masuk ke ruang donor darah, saya sebetulnya sudah sadar betul tentang suatu konsekuensi. Kalau saya bakal ditolak. Saya sudah bisa meramalkannya. Sesungguhnya, saya itu nekad! Kakak saya pernah mengatakan begini, “Kamu bisa bayangkan tidak kalau darah kita bisa menghidupi orang lain? Membuat mereka bertahan hidup,”
Saya tercengang. Dan bergegas kepengin ikutan donor darah. Saya ingin menyelamatkan nyawa orang lain meski hanya bisa memberikan sekantung saja. Saya cuman pelajar miskin (hingga sekarang, sih). Saya tak memiliki banyak uang untuk memberi makan orang-orang kelaparan di pinggir jalan. Saya tak bisa menyelamatkan nyawa banyak orang. Yang saya miliki saat itu (hingga saat ini) ya cuma tubuh saya saja.
Hari itu, saya memutuskan untuk mendonorkan darah. Saya ingin sekali melihat orang lain bisa hidup karena darah saya dan membayangkan darah saya bersemayam di tubuh orang lain. Namun, seperti kata Bapak Petugas itu. Saya tak layak untuk mendonorkan darah. Berat badan saya kurang tujuh kilogram untuk donor darah. Waktu itu (hingga sampai sekarang) berat badan saya mirip ukuran sepatu anak-anak SMP yang baru mengalami masa “aqua age”.  Terlalu banyak kekurangan yang saya miliki sehingga saya sebetulnya maklum ketika Bapak Petugas ini menolak saya untuk donor darah. Salah-salah, malah saya yang butuh darah dan menghabiskan stok yang baru didapatkan. Meski saya tak suka bagaimana Bapak itu langsung memutuskan bahwa saya mesti keluar cepat-cepat di ruang donor darah. Saya sebetulnya sadar betul, bahwa waktu itu (hingga sampai sekarang), saya tak layak untuk donor darah.

Pupus sudah cita-cita saya menyelamatkan orang lain. Pupus sudah.


Tapi, kalau soal donor darah, semua bisa diukur. Ukuran layak dan tidak layak. Ukuran pantas dan tidak pantas. Ukuran boleh dan tidak boleh. Semua bisa diukur. Dan saya bisa memprediksikan apa yang akan terjadi nantinya jika saya tak bisa memenuhi ukuran-ukuran itu dan memaksakan diri untuk tetap mendonorkan darah saya ini.

Sesungguhnya, saya cuma kepingin bilang.

Kira-kira, saya layak nggak ya buat kamu?

Sementara itu ukuran layak dan tidak layak bagimu – tak pernah bisa aku konsepsikan. Meski aku mampu menangkap ujaranmu. Aku tak pernah bisa menafsirkannya dengan baik. Selalu saja – kita berseberangan dalam berpikir. Dan aku tahu benar, meski ukuran layak dan tidak layak tentang kita tak pernah bisa ditetapkan, tak pernah bisa diprediksikan berdasarkan data-data yang konkret dan mampu dibaca, dianalisis, dan dikonklusikan menjadi satu “pengetahuan”. Aku pikir – dengan hari-hari yang selalu kosong tanpamu telah menunjukkan satu hal yang tepat.

Aku tak layak untukmu.

Hehe.
Lho, kok jadi baper?
#MalamMingguLamia

17 comments: