Wednesday, June 21, 2017

Hehehe... Hhh

"Aku tak pernah merasa segila ini sebelumnya. Maksudku, dulu aku pernah menjadi gila. Tapi tak pernah segila ini,"



Dan aku tak pernah merasa sefrustasi ini... hanya karena menginginkan seseorang,
untuk menjadi teman bicara.


Hehehe... Hhh

Saturday, April 22, 2017

being ignorant

sometimes, ignorance is bliss



kemarin, baru kepada tiga orang, akhirnya aku menyampaikan keinginan yang sebenarnya sudah aku inginkan sejak setahun yang lalu. Ya, setahun. Membayangkan bahwa aku bisa bertahan selama itu membuatku sadar, aku telah membuang-buang waktuku terlampau banyak. membuangnya untuk bersedih, merasa khawatir, merasa takut, marah, jengkel, dan semua perasaan yang begitu campur aduk.

aku ingin melepaskannya
menjadi bodoh
atau lebih tepatnya
menjadi masa bodoh

Aku tahu risikonya. Juga tahu semua konsekuensinya. 
Tapi aku benar-benar tak bisa memikulnya
menjadi masa bodoh atas semua rasa bersalah akan jadi pilihan yang tepat


Hari ini, aku putuskan untuk masuk ke dalam botol plastik
dan mengelilingi dunia


dan tak mengenal lagi tanah yang pernah kupijak sebelumnya.
manusia-manusia, sudah jauh dari pelupuk mata
aku siap bertemu alien
dan menjadi asing sekali lagi
kemudian saling mengenal lagi
kemudian bergegas
untuk kembali menjadi asing


masuk ke dalam botol plastik lagi
dan mengelilingi dunia
lagi

Saturday, April 8, 2017

Berubah

Orang-orang berubah
teman-teman yang dulu kamu ajak makan semeja bersama,
sudah tidak sama


itu membuatmu tak nyaman
perubahan itu terjadi secara mendadak
mungkin waktu yang melakukan itu semua


Orang-orang berubah,
teman-teman yang biasanya kamu ajak melakukan hal-hal berdua
tiba-tiba tidak lagi menginginkan itu semua


orang-orang berubah
kadang-kadang kita harus menyesuaikan
sisanya, pergi dari sana


Aku memilih pergi
karena dunia kami tak lagi sama




Enggak salah, kan?

Batas Kontak Fisik




Akhir-akhir ini, saya sempat berpikir untuk membeli baju yang jauh lebih lebar dan panjang, tidak lupa, juga sebuah penutup wajah. Bukan sekadar masker. Lebih dari itu, cadar. Bukan tanpa alasan mengapa saya terpikirkan untuk melakukan hal itu. Saya hanya merasa tidak nyaman dengan kontak fisik yang dilakukan oleh teman-teman lawan jenis (laki-laki) saya. Seorang teman pernah memegang leher atau kepala. Dia juga pernah mencengkeram tangan. Itu dua tahun lalu, pertama kali seorang laki-laki berani menyentuh kepala dan leher saya. Dia melakukannya dengan bercanda. Dan sejujurnya saya sangat tidak suka. Sungguh, saya tidak nyaman. Sayangnya, dia laki-laki dan badannya jauh lebih besar.

Sebagai catatan, saya berhijab – meski belum sempurna jika berdasarkan standar syariat yang ada. Meski begitu, seharusnya simbol itu sudah bisa menunjukkan bahwa saya punya batas. Saya sudah menetapkan sebuah teritori atas tubuh saya melalui simbol yang saya kenakan melalui pakaian ini. Tapi beberapa teman lelaki saya – sepertinya tidak memahami hal itu. Kontak fisik yang berlebih itu masih terus terjadi hingga detik ini. Beberapa meletakkan tangan mereka di pundak, menyenderkan kepala mereka, memegang tangan, menyentuh kepala, kadang-kadang memeluk. Yang paling saya tak suka adalah ketika salah satu adik angkatan saya menarik kaki saya dengan setengah menyeret. Meski itu adalah bentuk candaan, saya ingin menegaskan bahwa saya tidak nyaman ditarik-tarik dan diseret-seret seperti itu, meski kadang yang ditarik bajunya saya. Saya merasa dipermalukan atas tindakan-tindakan seperti itu padahal saya tak pernah melakukan hal yang sama dengan menyeret kaki atau menyeret tangan. Saya merasa lebih baik jika yang menyeret tangan atau kaki saya seorang perempuan, bukan laki-laki. Saya tahu itu bercanda. Tapi, sekali lagi, saya tidak nyaman. Kita semua tahu, semua hal di dunia ini memiliki batas. Kita bebas sampai menemui batas.

Membaca ini, kalian (para laki-laki) pasti tengah berpikir: “Apaan sih lu, orang enggak diapa-apain juga,”

Memang tidak. Saya tahu, semua itu murni guyonan-guyonan kalian.

“Apaan sih Lu, sok suci mau bilang enggak muhrim,”

Pertama, saya mau menjelaskan satu hal, ini bukan perkara muhrim atau bukan muhrim, dan asumsi-asumsi pendek (laki-laki) tentang respons perempuan yang tidak suka disentuh. Begini ya, begini. Ada beberapa orang, baik laki-laki maupun perempuan, tidak pernah menyukai jika disentuh – pada wilayah apapun. Mereka memiliki Batasan. Punya teritori. Tidak sepantasnya kita melangkah lebih jauh tanpa izin si empunya. Kalau mereka bilang enggak, ya sudah, tak usah diteruskan. Kalau mereka menghindar dan mengelak atas sentuhan-sentuhan itu – berarti mereka memang tidak nyaman. Ya, jangan diteruskan.

Jadi, ini bukan perkara, “apaan sih lu, kita enggak ngapa-ngapain kok. Cewek jaman sekarang geer!” atau “Apaan sih, sok berlagak enggak mau disentuh kayak ukhti-ukhti,”





Sekali lagi,

Itu bukan perkara-perkara asumsi dangkal seperti itu. Kami (perempuan dan mungkin juga laki-laki) memiliki batas atas tubuh kami sendiri. Dan saya secara pribadi, sangat tidak nyaman, betul-betul tidak nyaman dengan semua kontak fisik yang di luar batas.

Saya sampai memiliki pemikiran memakai cadar, karena dengan memakainya, semua laki-laki di dunia ini tahu bahwa saya tidak berjalan ataupun berdiri di tempat umum untuk disentuh – meski hanya bercanda. Selama ini, apa yang saya lakukan baru sebatas menghindar. Saya pernah berkata tidak suka dan seorang menanggapi, “Kamu kok sok ukhti-ukhti sih,”. Meski memang bukan, saya bukan menghindar karena seorang akhwat sholehah, tapi SAYA TIDAK NYAMAN.

Saya harap, setelah tulisan ini diunggah, tidak ada lagi yang menyentuh kaki saya, kepala saya, tangan maupun leher dan semuanya, karena saya punya batas dan saya SANGAT TIDAK NYAMAN.



Sekali lagi, semua itu bukan perkara “diapa-apain” atau “sok suci”, tapi saya tidak nyaman. Semoga orang-orang memahami hal ini. Dan percayalah, kontak fisik yang saya anggap berlebih dan saya butuh batas yang ketat untuk hal-hal seperti ini, tidak hanya dialami oleh saya saja. Tapi juga orang lain. Dan banyak  orang lainnya di luar sana. Kalian tahu kenapa? Karena mereka tidak nyaman. Jadi, berhentilah menyentuh, seolah-olah kalian berhak atas tubuh itu.



catatan: saya bukan tipe orang yang mampu ngomong langsung, pada beberapa kesempatan saya malah "diserang" dengan nalar cethek dan logika tumpul ketika menjelaskan segala sesuatu hal yang saya tahu. jadi, saya memilih menulisnya.

Tidak Banyak Berbicara


“Mbak, kamu kenapa tadi? Kok Beda?” itu pesan dari Muti, soren kemarin (07/04).

“Beda gimana?”

“Kamu enggak banyak cerita, Mbak. Diam aja,”

Sebelum membalas Muti, aku juga sempat bertemu dengan beberapa orang. Nyatanya, hari itu (dan hari-hari sebelumnya), kepada semua orang, aku memang tidak banyak berbicara. Aku tidak menceritakan apapun. Aku lebih aktif bertanya. Seseorang bercerita tentang risetnya yang masih kacau-balau tapi aku enggan menceritakan kisahku. Yang lain bercerita panjang tentang rencana-rencananya, sedangkan aku hanya menanggapi dengan terpesona. Satunya lagi, bercerita soal kisah cintahnya. Aku tak punya kisah cinta juga. Jadi aku tak bercerita apapun.

Kadang-kadang, mendengarkan orang lain bercerita tentang dirinya sendiri jauh lebih menyenangkan daripada menceritakan apapun tentangku. Lagipula, sepertinya, saat ini, entah disengaja atau tidak… aku memang mulai jarang berbicara. Tidak banyak berbicara. Tidak banyak bercerita. Entah orang-orang merasakan itu atau tidak. Salah satu temanku telah berkata begitu.

Aku ingin menjadi pendengar saja.

Meluangkan sejam dua jam untuk mendengarkan cerita baru.

Kemudian larut dalam cerita-cerita itu.

Lalu, bagaimana dengan ceritaku sendiri?

Aku bisa menuliskannya di sini.

Selebihnya, aku bisa membuangnya ke laut.

Atau menerbangkannya ke langit.

Tidak banyak bicara ternyata menyenangkan.

Sebab, kadang, aku memang tidak memiliki cerita.

Orang lain tak perlu tahu. Aku tak perlu menjelaskan. Dan mereka tak perlu menduga telah mengetahui dan merasa memahami dengan benar. Biarkan semua tersimpan di dalam diriku sendiri – selama-lamanya.

Ah, ada lagi satu alasan.
Bercerita kepada orang -- menjelaskan kepada mereka semua -- hanya membuat mereka merasa tahu dan memahami apa yang kita lakukan. Aku sering mengalaminya. Dan setelah itu, aku memutuskan untuk tak menceritakan apapun. Tak perlu menjelaskan apapun. Apa yang akan aku lakukan sekarang dan nanti -- masih sama atau berbeda, hanya aku seorang yang perlu mengetahuinya.


Hanya kepada satu-dua, aku membagi beban itu. Yang kepada mereka aku bisa bercerita sambil menangis sejadi-jadinya. Begitu pula, mereka.