Sunday, June 25, 2017

Pertanyaan tentang Menikah


“Kalau panjenengan mau menikah kapan? Masih lama atau sebentar lagi?”

“Sinten?” gagapku bertanya.

“Nggih panjenengan,”

“Oh, masih lama, hehehe,” jawabku sambil tertawa. Meski kedengaran berbeda. Tidak loss, tidak jujur, dan seperti dipaksakan.

***

Sejujurnya, saya selalu merasa geli ketika ditanyai perihal menikah. Rasa-rasanya saya belum cocok mendapatkan pertanyaan seperti itu. Rasa-rasanya saya belum pantas. Meskipun, secara usia, saya sudah legal untuk melangsungkan pernikahan. Teman-teman seusia saya, bahkan yang lebih muda saja sudah mendului menikah. Beberapa yang lain sudah punya momongan. Sayangnya, buat saya pernikahan itu perjalanan yang panjang. Bagi saya, menikah adalah sebuah keputusan terbesar untuk menjadi dewasa. Kalau tak salah ingat, dosen saya yang pernah bilang bahwa menikah adalah perkara menjadi dewasa. Orang-orang yang memutuskan menikah adalah mereka yang (berani) memutus masa “kanak-kanaknya”, memasuki satu fase yang dewasa, mendewasakan, menyenangkan, sekaligus mengerikan di sisi yang lain. Yang direstui Tuhan untuk bisa menikah lebih muda mungkin telah memahami bagaimana bersikap dewasa di hadapan orang lain. Dan buat saya, secara personal, tanpa melibatkan individu dan kolektif mana pun, meyakini bahwa saya belum cukup dewasa menghadapi gagasan-gagasan orang lain.

Bagi saya, relasi pernikahan adalah perkara negosiasi, kompromi, dan diskusi. Kesepakatan-kesepakatan yang muncul tidak terjadi secara sepihak maupun diputuskan secara otoritarian. Sayangnya, banyak relasi pernikahan yang mewujud menjadi dominasi pihak laki-laki atau perempuan maupun sebaliknya, kepatuhan hakiki dari salah satu pihak. Jika hal ini terjadi, tentu pernikahan adalah kerangkeng, pasung, sekaligus penjara baru bagi yang menjalankannya.

Menurut saya, kita tetap harus memiliki diri kita masing-masing. Setelah menikah, meski kita telah menjadi bagian dari hidup orang lain dan begitupun sebaliknya, seharusnya tidak ada klaim kepemilikan dari salah satu pihak seolah-olah kita adalah barang yang bisa dipergunakan. Juga, tak ada klaim saling memiliki sehingga hasrat menjajah muncul sewaktu-waktu. Pada dasarnya, bagi saya, pernikahan tidak pernah menunjukkan milik siapa kita dan siapa milik kita. Sebab, sungguh, kita tak pernah benar-benar memiliki sesuatu dan tak pernah menjadi milik siapapun kecuali Tuhan. Begitu pula pasangan masing-masing. Kita tak pernah memilikinya. Tak pernah benar-benar memiliki sampai memiliki hak untuk mengatur-atur, berbuat semena-mena, tanpa memanusiakan pasangan sendiri. Menikah juga perkara menjadi manusia. Karena memanusiakan pasangan sendiri adalah ujian terberat dibandingkan memanusiakan tetangga-tetangga, rekan-rekan kerja, maupun sederet pengemis yang meminta uang di jalan. Yang perlu diingat adalah bagaimana kita mengikat janji dan berkomitmen. Pernikahan tetap mewujud menjadi suatu hal yang sakral tetapi sebisa mungkin menjauhkan diri dari pengistilahan saling memiliki sehingga saling menyakiti menjadi suatu hal yang lazim – atau dilazimkan atas dasar kepemilikan. Bagaimana pun, kita tetap individu yang berdiri sendiri. Memiliki kesadaran kita masing-masing. Berhak atas gagasan yang kita punyai. Dan juga, bebas untuk berpikir.

Bagi saya, pernikahan bukan perkara mudah. Bukan hanya persoalan jodoh yang belum datang. Lebih dari itu, menuntaskan urusan pribadi bukan sesuatu yang mudah. Hal ini berbeda dengan “ingin bersenang-senang dulu sebelum menikah,”. Seolah-olah menikah bukan sesuatu yang menyenangkan dan terlampau mengerikan sehingga tak terbayang dalam pikiran. Seolah-olah menikah adalah bentuk kesusahan. Pernyataan seperti ini juga cenderung egois. Karena yang kita tahu hanya bagaimana membuat diri kita senang. Padahal, di lain pihak, ada bagian dari diri kita yang menjadi porsi bagi orang lain. Jadi, ketika ditanya mengapa tak kunjung menikah, saya tak akan menjawab ingin bersenang-senang dulu. Tetapi saya ingin menyelesaikan semua perkara individu yang sepertinya tak akan bisa selesai jika dijeda oleh pernikahan. Saya ingin menuntaskan semua masalah pribadi saya. Semua perkara dalam pikiran yang tak  terkendali.



Suatu saat, jika semua telah selesai, saya akan mencoba mencari perkara yang lain, membikin masalah baru, tentu bersama orang yang tepat. Sampai mati.

No comments:

Post a Comment