Wednesday, November 18, 2015

Mahasiswa, Bisa Apa?



“Memangnya, apa sih yang bisa dilakukan oleh seorang mahasiswa?” tanya Mbah Sarijo kepada saya dan tiga orang rekan saya beberapa waktu lalu saat kami bertolak ke Kulonprogo. “Mahasiswa kuwi, iso opo?” ia kembali menanyakan dengan mimik keragu-raguan. Sementara itu kami berempat hanya terdiam. Diam karena tidak bisa menjawab. Atau mungkin diam karena sedang merenungi pertanyaan lelaki tua yang akrab dipanggil “Mbah Jo” itu. Dan mungkin, saya adalah salah satu dari ketiga teman saya yang merenungi ucapan Mbah Jo dengan keragua-raguan pula. Mbah Jo adalah salah satu petani yang dikriminalisasi karena kasus rencana pembangunan Bandara Kulonprogo (yang kini kasus tersebut belum selesai).

“Karena kebetulan kami pers mahasiswa, yang bisa kami lakukan mewacanakan isu, Mbah. Melempar isu ke masyarakat,” salah seorang rekan yang sudah senior akhirnya menjawab. Menjawab dengan cara yang normatif karena aku yakin ada banyak keragu-raguan pula yang ada di dalam benaknya – tentang fungsi dan kebergunaan mahasiswa, khususnya untuk masyarakat (marjinal). Dalam hal ini, saya sih cuman bisa menerjemahkan kalau mahasiswa – maksud saya – pers mahasiswa “hanya” memiliki peran untuk meliterasi masyarakat melalui tulisan. Kami membentuk opini – juga mengedukasi masyarakat agar dapat berpikir jernih dan bersikap lebih obyektif.

Jujur saja, hingga kini – pertanyaan Mbah Jo masih berputar-putar di otak saya. Sesekali ia menyelinap dengan kejam dan merobek-robek hati nurani saya. Sesekali pula, ia hanya datang sebentar karena telah tertumpuk persoalan lain. Tahun ini adalah tahun ketiga saya berstatus sebagai mahasiswa. Dan ini adalah tahun kekosongan ketiga saya menjadi seorang mahasiswa. Saya selalu bertanya-tanya; apa yang bisa saya lakukan untuk masyarakat luas. Jika hanya terlalu banyak membaca; apa yang harus saya lakukan untuk menyebarkan ilmu di dalamnya. Dalam agama, ada sebuah sabda: “sebaik-baik orang adalah mereka yang memberikan manfaat”.

Lalu, kemudian, saya berkaca pada diri saya sendiri. Di dalam cermin itu ada sesosok manusia yang tidak utuh. Dalam tubuhnya terdapat lubang-lubang kosong dan celah-celah yang bernanah. Itu saya – dengan ketidakbergunaan yang menyerang diri saya. Jika berbicara mengenai pengabdian masyarakat, mahasiswa kini merujuk pada Kuliah Kerja Nyata alias KKN. Saya sendiri, di tahun ketiga ini, sama sekali tidak memiliki antusiasme terhadap KKN.

Entahlah, saya hanya terkadang bahwa KKN adalah salah satu bentuk kebaktian yang tidak efektif untuk hal-hal tertentu. Sebagian orang yang begitu serius dan benar-benar ingin mengabdi kepada masyarakat mungkin berhasil. Tetapi, sebagiannya lagi, GAGAL. Mereka bertolak cukup jauh. Tetapi yang ada di lingkaran benak mereka adala “plesir”. Padahal, KKN itu ya mburuh. Berbaur dan melekat pada masyarakat. Tetapi yang terjadi kini, KKN hanya dijadikan ajang plesir jauh semata.

Lebih dari itu, saya melihat program KKN ini semakin gagal ketika (ternyata) pengabdian masyarakat hanya memiliki jangka waktu dua bulan. Rupanya, kita (mahasiswa ) terlalu banyak berteori dan memaknai pengabdian masyarakat dengan cara yang begitu dangkal. Saya katakan sekali lag, sebagian mahasiswa mungkin berhasil. Tetapi jumlah mereka tidak banyak.

Jika melihat kultur yang terjadi di kampus saya saat ini, fenomena yang terjadi adalah eksklusivitas antara mahasiswa dan masyarakat. Ada sekat yang begitu tebal dan panjang – memisahkan realitas penting dalam kehidupan bermasyarakat. Setiap pagi, di Magelang, saat saya masih sekolah – saya berangkat berjalan kaki. Di sepanjang jalan, saya bertemu banyak orang dengan latar belakang. Di sanalah saya membagi senyum dan sapa – juga sesekali bertanya tentang kabar.

Setelah saya kuliah, saya malah jarang sekali menjumpai hal itu. Di lingkungan indekos – mahasiswa karut-marut. Pergaulan dengan masyarakat adalah kenihilan. Jika dan hanya jika pengabdian masyarakat dengan wujud KKN adalah salah satu jalan pintas pintu membuka sekat itu – kenapa KKN selalu dimaknai dengan tempat yang jauh? Padahal tempat yang jauh itu belum tentu lebih baik daripada yang kita lihat saat ini.

Saya sendiri sering bingung, sebagian besar mahasiswa memilih nongkrong di Kafe, Restoran Hotel, tinggal di apartemen mewah, dan berjalan-jalan di Mall. Saya tidak melarangnya. Saya hanya gagal paham saja. Sebab, dengan serta-merta mereka semakin membangun sekat yang lebih tebal dengan masyarakat. Saya tidak mampu menjelaskannya dengan lebih deksktiptif lagi. Namun, di balik itu semua mereka sepertinya lupa ada peristiwa berdarah-darah yang terjadi di balik pembangunan hotel, mall, dan apartemen.

Sebagian mahasiswa mungkin memiliki jalan aksi seperti romantisme masa lalu di era orde baru. Tetapi, kata seseorang, cara ini sudah tidak efektif lagi. Zaman sudah berbeda – perlakuan yang diberikan pun tidak lagi sama. Namun, sebagian mahasiswa masih mendewakan “aksi demonstrasi” dibandingkan “negosiasi-mediasi” di jalur pemerintahan. Sedangkan, beberapa mahasiswa yang lain menganggap bahwa “aksi” adalah tindakan yang bodoh dan menguras tenaga. Tetapi, mahasiswa-mahasiswa yang beropini demikian  (yang saya temui) tidak pernah melakukan apapun untuk masyarakat.

Sementara itu – mahasiswa masih saja menuntut eksklusivitas. Mereka adalah “maha”. Kemahaan mereka perlu diakui. Kemahaan mereka adalah indikator intelektualitas. Suatu saat, mereka akan bergelar sarjana, master bahkan sampai profesor. Namun, sepertinya, mereka lupa bahwa kecerdasan bukan lagi persoalan berapa ijazah yang kita miliki. Juga bukan tentang strata pendidikan yang telah kita tempuh. Lebih dari itu, kecerdasan adalah tentang memecahkan masalah, menentukan posisi, dan memutuskan sikap. Jika kecerdasaan adalah soal belajar – proses belajar itu sendiri tidak selalu berada di lingkungan akademis. Belajar bisa di mana saja – bahkan di pinggiran Kali Code yang bau.

Kini, saya tetap bertanya-tanya – dan mungkin akan terus bertanya-tanya; mahasiswa itu sebenarnya bisa apa? Dalam artian, apa yang bisa dilakukan oleh mahasiswa agar menjadi orang yang berguna dan mampu membantu masyarakat. Sejauh mana peran mahasiswa? Apa dengan belajar di kafe saja semua cukup? Apa hanya dengan menyumbangkan beras dan sejumlah uang semunya selesai? Masyarakat tidak membutuhkan itu. Masyarakat membutuhkan pemberdayaan. Lalu, sekarang, sejauh mana mahasiswa memiliki peran dalam memberdayakan masyarakat? Sejauh mana mahasiswa memiliki fungsi mediasi yang mampu memecahkan persoalan yang dialami oleh masyarakat tertindas? Kita tahu, selama ini tidak ada yang mampu menolong masyarakat tertindas. Saya tidak pernah menjumpai kemenangan masyarakat kecil atas suatu kasus dalam pengadilan. Dan saya tahu, di balik perjuangan itu, hanya ada sebagian kecil mahasiswa yang berjuang. Sisanya, dalam tahap gagasan. Parahnya, sebagian besar berada dalam tahap yang melenakan.

Mungkin, Mbah Jo benar; mahasiswa tidak bisa melakukan apapun untuk mereka. Mungkin ini juga yang menjadi pesismisme masyarakat terhadap mahasiswa. Ada sekat yang besar atau lingkungan akademik itu sendiri dengan interaksi sosial masyarakat. Beberapa petani di Kulonprogo bahkan menyebut mereka hanya orang akademis yang mementingkan ilmu untuk ilmu semata. Mereka hanya datang untuk penelitian – untuk tugas-tugas mata kuliah. Setelah mendapatkan nilai sempurna – jejak mereka hilang.

Menurutmu sendiri, apakah ilmu hanya sebatas untuk ilmu atau lebih dari itu? Menyikapi hal ini, saya hanya bisa terngiang-ngiang ucapan seorang Filsuf bernama Michelle Foucault. Foucault mengatakan, ilmu dan kekuasaan memiliki korelasi yang kuat. Saya – sebagai mahasiswa – hanya takut jika suatu saat nanti, saya berubah menjadi bajingan karena ilmu yang saya  miliki. Bukannya, kalau begitu, saya tak ada ubahnya dengan seorang penjahat. Hanya saja – nama saya bertitel banyak sekali. Dan saya mengatasnamakan ilmu atas kejahatan yang telah saya lakukan.

Ah, memangnya....


Mahasiswa itu... bisa apa?


Ups! Ralat! Memangnya... saya ini bisa apa? Toh, saya cuman mahasiswa biasa-biasa saja yang bajunya itu-itu saja... dan ingin cepat-cepat bertoga!

No comments:

Post a Comment