Tuesday, July 7, 2015

[Teori Komunikasi] Teori dalam Ranah Fenomologi




1.      The Message (Pesan)
a.       Paul Ricoeur’s Theory of Distanciation
      Teori ini membahas tentang bagaimana suatu pesan ditangkap dan dipahami secara terpisah-pisah. Suatu pesan memiliki arti yang tidak respektif dalam keaslian pesan komunikator yang sebenarnya. Kita dapat membaca pesan dan memahaminya, tetapi dalam kenyataannya kita bukan bagian dari the original speech event.

b.      Stanley Fish’s Reader-Response Theory
      Pendapat Stanley Fish berbeda dengan Ricoeur. Jika Ricoeur menganggap bahwa pesan/makna terdapat dalam suatu pesan, maka Fish berkebalikan. Fish berpandangan bahwa makna dapat ditemukan dan digali pada diri komunikan (pembaca) itu sendiri, bukan pada teks. Dalam hal ini teks hanya menstimulasi pembaca agar menjadi seseorang yang aktif memahami dan mengerti suatu teks/pesan dan persoalan. Pada teori Fish, tentu sulit menemukan objektivitas karena pemaknaan tidak bersifat tunggal.

c.       Hans-Georg Gadamer’s Philosophical Hermenneutics
      Menutut pandangan Georg dan teorinya, setiap manusia tidak pernah terpisahkan dari kegiatan menganalis dan menginterpretasi suatu hal. Secara alamiah, kita sebagai manusia selalu melakukan interpretasi setiap harinya. Eksistensi kita sebagai manusia muncul ketika kita melakukan interpretasi. Interpretasi-interpretasi yang kita lakukan tersebut terbentuk dari pengalaman sehari-hari. Dalam hal ini, kita memahami pengalaman sehari-hari dengan interpretatif atau asumsi-asumsi. Pengalaman, sejarah, dan budaya yang kita miliki memberikan kita cara untuk memahami segala sesuatu hal. Pemahaman yang kita dapatkan ini, tentunya tidak dapat memisahkan antara pribadi kita dan pengalaman yang kita miliki.

2.      The Relationship (Hubungan)
a.       Carl Rogers
      Sering disebut juga “self theory”.  Teori membahas mengenai bagaimana pribadi seseorang dipengaruhi oleh hubungan-hubungan yang ia jalani dengan orang lain. Pendekatan Rogers tentang suatu hubungn dimulai pada aspek fenomena. Pengalaman-pengalaman yang kita miliki mempengaruhi aspek fenomena kita. Dapat dikatakan pula, teori ini menjelaskan mengenai bagaimana seseorang berusaha memahami dan berada di posisi orang lain. Sedangkan apa yang dialami oleh satu orang dengan lainnya berbeda.

b.      Martin Buber
      Menurut Buber, seseorang dalam menjalin hubungan dengan orang lain, tentu memerlukan dialog atau percakapan. Buber melabeli dialog sebagai I-Thou Relationship. Ketika kita memiliki hubungan dengan orang lain, karakter kita akan muncul dan mendapat tanggapan dari orang lain. Hal ini dapat dikenali dari pengalaman-pengalaman yang pernah kita alami sebelumnya.  Dalam hal ini, Buber ingin menjelaskan bahwa dialog dapat memberikan alternatif kepada kita untuk menceritakan pengalaman, pendapat, dan apa yang kita rasakan.

3.      Culture and Society
a.      Cultural Hermeneutics
      Pendekatan yang ditawarkan Geertz untuk menyelidiki kebudayaan adalah apa yang disebut oleh filosof Inggris Gilbert Ryle dengan “Thick Description” (deskripsi/pelukisan mendalam). Istilah ini dikaitkan dengan kegiatan La Paenseur (sang pemikir) yang sedang melakukan kegiatan ‘memikirkan dan merefleksikan’ dan ‘memikirkan pikiran-pikiran’. Dengan cara ini, biasanya penelitian dilakukan dengan mengambil suatu obyek yang terbatas, sehingga pelukisan terhadap suatu kebudayaan menghasilkan suatu paparan yang bersifat mikroskopis, deskripsi tentang makna dan sistem simbol dalam masyarakat.

      Maka menurut Geertz, etnografi dan juga antropologi secara umum, harus selalu melibatkan ‘pelukisan mendalam’ ini, sebagai kebalikan dari ‘pelukisan dangkal’ (Thin Description). Tugas etnografer atau antropolog tersebut, bukan hanya sebatas mendeskripsikan struktur suku-suku atau rtual-ritual masyarakat yang ditelitinya saja, tetapi juga mencari makna, menemukan apa yang sesungguhnya berada di balik perbuatan mereka, atau makna yang ada di balik seluruh kehidupan dan pemikiran ritual, struktur, dan kepercayaan merekaLebih lanjut mengenai makna, Geertz berpendapat bahwa makna dalam kebudayaan bersifat publik, dan kembali kepada konteks masyarakat pendukungnya, karena mereka saling berbagi konteks makna dalam kebudayaan tersebut. Sehingga menurutnya, secara sosial kebudayaan terdiri dari struktur-struktur makna dalam terma-terma berupa sekumpulan tanda yang dengannya masyarakat melakukan suatu tindakan, mereka dapat hidup di dalamnya, ataupun menerima celaan atas makna tersebut dan kemudian menghilangkannya. Dengan demikian, kebudayaan menemukan artikulasinya melalui alur tingkah laku, atau melalui tindakan sosial.

No comments:

Post a Comment