Wednesday, January 13, 2016

Ibu dan Rambut Kepang

Lukisan Pribadi @copyright Lamia


Setiap pulang, Ibu selalu gemas melihat rambut panjangku yang tidak teratur dan bahkan mendekati gimbal. Semenjak mengenakan kerudung aku memang jadi jarang mengurus rambut.  Apalagi sekarang rambutku kubiarkan panjang sampai ke pinggang. Sekalipun panjang, hal itu sama sekali tidak membuatku termotivasi untuk merawatnya dengan baik. Dibandingkan saudaraku yang lain, rambutkulah yang paling panjang. Dan, tentu saja, rambut mereka jauh lebih terawat.

Setiap kali pulang dan melepas kain panjang dari kepalaku, Ibu pasti akan segera mengambil sisir dan merapikan rambutku, mengepangnya menjadi satu atau dua. Ibu pasti terlihat gemas ketika melihat rambutku terlilit tidak jelas di tengah kepala bagian belakang. Tiba-tiba ibu akan sibuk mondar-mondir hanya untuk mencari kuncir tambahan. Kemudian setelah mendapatkannya, ibu pasti akan menyisiri rambutku. Dengan berhati-hati, ibu mengatakan bahwa rambut panjang seharusnya sering dirapikan. Jika tidak, rambut akan menjadi kusust. Dan kalau sudah kusut, akan sulit sekali untuk membuatnya jadi halus kembali. Ibu selalu mengepang rambutku. Katanya, agar terlihat rapi dan rambut juga tidak cepat kusut.

Setiap kali menyisiri rambutku, Ibu selalu memberi nasihat. Katanya, menyisir rambut yang baik itu mesti dari bawah. Jika tidak, akan kusut di tengah. Ibu selalu menasihatiku berkali-kali. Mengatakan resep “menyisir” rambutnya itu. Tetapi, setiap kali pula aku selalu lupa bahwa menyisir rambut haruslah dari bawah agar tidak kusut.

Setiap kali ibu menyisir rambutku, ibu pasti bercerita banyak hal. Pada momen itulah, Ibu tiba-tiba saja bernostalgia. Ibu biasa memulai ceritanya dengan mengisahkan rambut panjangnya semasa sekolah menengah pertama. Kisahnya, rambut Ibu jauh lebih panjang dari aku – bahkan katanya, sampai melebihi pinggang. Sembari menyisir rambutku, Ibu pasti mengenang rambut panjangnya yang sering ia kuncir atau kepang satu.

Sayangnya, rambut ibu yang panjang itu dipotong oleh sepupunya ketika lulus SMP. Kata Ibu, sepupunya itu memotong rambutnya dengan niat ingin merayakan kelulusan. Pada waktu itu, rambut Ibu dikuncir satu. Sepupunya yang kini telah meninggal itu membawa gunting dan langsung memotorng rambut ibu tepat di persilangan kunciran rambut. Rambut ibu yang panjang melebihi pinggang langsung menjelma jadi rambut yang begitu pendek.

Setiap kali Ibu bercerita seperti itu, Ibu jugas pasti menceritakan bagaimana kecewanya nenek ketika mendapati anak gadisnya pulang dengan rambut yang begitu pendek. “Mbah Pur sampai menangis waktu tahu rambut ibu dipotong pendek. Katanya, rambut ibu man eman (sayang) kalau dipotong,” cerita Ibu. “Mbah Pur sampai menanyakan di mana potongan rambut Ibu,” kenang Ibu. Oleh nenek, potongan rambut ibu kemudian diambil kembali dan dijadikan sanggul.

Setiap kali selesai mengisahkan rambut panjangnya, Ibu akan bercerita belasan tahun silam saat beliau masih menyisir rambut anak-anaknya satu per satu di pagi hari. Di saat-saat seperti itu, Ibu akan bercerita bagaimana setiap pagi – anak-anaknya – aku dan ketiga saudaraku berbaris mengantri untuk menanti rambutnya dirapikan. Kami sering meminta macam-macam. Kakak pertama meminta rambutnya dikuncir dua. Kakak kedua tidak meminta aneh-aneh. Sedari dulu, dia memang yang paling pendiam dan penurut. Dikuncir apa saja – kakakku selalu mengiyakan. Sedangkan adikku, dia sedikit paling rewel karena sering meminta aneh-aneh seperti dikepang kecil-kecil. Rambut kepang dua  sendiri adalah favoritku.

Dulu, rambutkulah yang pertama kali dipotong sebelum saudara-saudaraku. Alasannya karena gimbal dan tidak teratur. Waktu itu, aku tidak tahu jika Ibu berniat memotongnya sampai seukuran batok kelapa. Aku hanya nurut saja ketika waktu potong rambut telah tiba. Ternyata, rambutku diporong sampai leher.

Sejak saat itu, aku bertahan dengan rambut pendek sampai kelas dua SMA. Mungkin rindu dengan rambut yang panjang, aku mulai merawatnya sampai sekarang. Walaupun hasilnya selalu lebih banyak kusut daripada tertata rapi – aku tidak pernah memiliki niatan untuk memotongnya.

Bagiku, rambut ini adalah sebuah kenangan. Melaluinya, cerita-cerita panjang akan diputar kembali. Melaluinya pula aku jadi kembali merasakan bagaimana rambutku disisiri oleh Ibu. Melaluinya, Ibu akan bercerita setiap kenangan sembari mengepang rambutku. Setiap kepangan adalah sebuah narasi yang akan terus dikisahkan oleh Ibu. Rasanya memang sudah lama sekali semenjak rambutku terakhir kali disisiri olehnya. Kalau tidak salah waktu aku masih kelas tiga SD. Sejak memiliki rambut pendek, aku terbiasa menyisiri rambutku sendiri.

Namun, aku menyadari suatu hal bahwa aku merindukan saat-saat Ibu meluangkan waktunya merapikan rambutku – rambut kami berempat. Sebab menyisiri rambut kami yang tidak teraturi tu membuat ibu selalu terlambat berangkat kerja. Aku pikir Ibu marah dan berharap tidak akan menyisiri rambut kami lagi. Ternyata, aku salah. Pun sama denganku. Ibu juga merindukannya. Ibu juga merindukan saat-saat mesti menyisiri rambut kami berempat, menguncirnya dua atau mengepangnya menjadi satu.

Di saat-saat seperti inilah, aku benar-benar senang mendengar cerita Ibu. Walaupun ia menceritakannya berulang kali. Walaupun aku mendengarnya berulang kali. Rasanya aku tak akan pernah bosan. Sebab, melalui rambut panjangku ini, yang selalu disisir dan dikepangnya, aku jadi mengingat kembali rasa yang sudah belasan tahun tak pernah kurasakan lagi. Bukankan menyenangkan mengenang dan kembali merasakan sesuatu yang telah lama pergi. Ini hanya hal kerdir – cuman ihwal menyisir rambut. Tetapi, mungkin kita tidak menyadari bagaimana menyenangkannya ketika Ibu kita menyisiri rambut kita yang tidak pernah berhasil kita tata rapi.

Rasanya, jadi ingin cepat-cepat pulang – aku sudah tak sabar dengan kepangan ibu pada rambutku. Ngomong-ngomong, sama seperti Nenek, Ibu melarangku memotong rambut ini. Sayangnya, Bapak sepertinya jengah dengan rambutku, terutama karena helaiannya bertebaran di mana-mana. Terutama jika menyumbat lubang air di kamar mandi.

12 comments: