Sunday, August 9, 2015

[Resensi] Mencari Pasangan Hidup melalui Dunia Maya

Judul Buku      : Bride Wannabe
Penulis             : Christina Juzwar
Penerbit           : Bentang Pustaka
Cetakan           : I, September 2014
Tebal               : vi + 310 hlm
ISBN               : 978-602-291-043-5



            Menikah tentunya menjadi dambaan setiap orang. Namun, menuju pelaminan bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Menjalin hubungan dengan lawan jenis selama bertahun-tahun pun belum tentu berujung pada pernikahan. Ada banyak kisah kegagalan yang dialami oleh banyak orang ketika berkeinginan untuk menikah. Ada pula orang-orang yang tidak kunjung menemukan pasangan hidup dan melakukan berbagai cara, bahkan sampai melakukan online dating.
            Seperti yang dialami oleh Sascha Indrawati, tokoh sentral dalam novel ini. Ia memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Ben, lelaki yang dipacarinya selama delapan tahun. Sascha merasa bahwa Ben tidak serius dengan hubungan mereka karena tidak pernah menyinggung pernikahan. Sementara itu Sascha sudah terlalu jenuh dengan tingkat hubungan yang sebatas pacar saja. Ia menginginkan sebuah keseriusan dari Ben, yaitu pernikahan. Namun Ben lebih mementingkan karier dan pekerjaannya.
            Tidak hanya itu, berbagai sikap Ben yang tidak tampak selama delapan tahun pun akhirnya terlihat. Sikap buruk Ben itu membuat Sascha perlahan bergerak mundur. Ia tidak menyangka bahwa Ben ternyata memiliki sikap seperti itu. Ia begitu kecewa dengan Ben.
            Setelah putus dari Ben, Baby, sahabat sekaligus sepupu Sascha menyarankan agar ia mencoba mencari pasangan melalui online dating.Awalnya, Sascha masih meragukan hubungan melalui ruang virtual itu. Ia tentunya memikirkan berbagai risiko kejahatan siber yang dapat dialaminya.Tetapi ketika ia melihat Olla, sahabat semasa SMA-nya menikah dengan pacar yang didapatnya melalui online dating,Sascha akhirnya tergiur dengan tawaran sepupunya, Baby untuk mendaftar di online dating. Baby sendiri mendapatkan pacar melalui online dating dan akan menikah beberapa bulan lagi.
            Awalnya Sascha mendapat nasib buruk ketika melakukan online dating.Ia hampir menyerah ketika alamat emailnya terus mendapatkan pesan email yang sama dari seseorang yang mengenalnya dari online dating. Pesan itu dikirim oleh Oliver Dawson,seorang pria berkebangsaan Inggris. Mereka memutuskan untuk mencoba mengenal satu sama lain dan menjalin hubungan. Awalnya hubungan mereka berjalan dengan lancar. Sascha mulai membuka hatinya untuk Oliver yang begitu ramah dan terbuka.
             Namun, lagi-lagi, hubungan itu pun tidak semulus yang Sascha bayangkan seperti Baby dan pacarnya. Berbagai hal yang membuat Sascha selalu bertanya-tanya tentang Oliver ketika mereka berkomunikasi via daring pun perlahan terkuak ketika Oliver berkunjung ke Indonesia. Pada pertemuan di dunia nyata inilah, perasaan Sascha mulai goyah. Kepercayaannya terhadap Oliver perlahan memudar.
            Secara keseluruhan, novel ini menceritakan lika-liku pra-pernikahan dengan manis serta memikat. Christina Juzwar meramu konflik-konflik yang mungkin akan terjadi sebelum melangsungkan pernikahan. Sebagai pembaca, kita dapat ikut merasakan kegundahan Sascha yang tidak kunjung menikah.
            Sayangnya, novel ini memiliki alur yang mudah ditebak. Awalnya, plot-twist yang ditawarkan sangat tidak terduga. Namun, plot-twist pertama itu sekaligus membuka kemungkinan-kemungkinan alur lain. Sehingga pembaca dapat dengan mudah menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.
            Terlepas dari semua itu, novel ini digarap dengan apik. Pada awalnya, kita akan menganggap bahwa jalan cerita yang akan disuguhkan mungkin terkesan tidak logis. Tetapi, setelah membacanya, kita malah dapat melihat realitas-realitas lain dalam sebuah relasi. Penulis sepertinya ingin menyampaikan bahwa jodoh adalah sesuatu hal tidak dapat ditebak. Dan untuk menemukan jodoh adalah sesuatu hal yang membutuhkan perjuangan. Seperti yang dikatakan oleh rekan Sascha dan Ben, Ketut. Ia menyuruh Sascha agar mengejar cintanya karena ia berhak (hlm 279). Adapun sosok Sascha dan Oliver digambarkan juga digambarkan begitu natural. Sepertinya Christina melakukan riset yang cukup mendalam untuk mengupas tuntas fenomena kencan virtual.
            Novel ini menggunakan bahasa yang ringan dan mudah dipahami. Sayangnya, ada beberapa kalimat yang ditulis dengan bahasa inggris tanpa disertai terjemahannya. Walaupun bahasa inggris adalah bahasa internasional, kiranya akan lebih baik jika kalimat berbahasa inggris itu diterjemahkan dalam bahasa indonesia agar pembaca mampu memahaminya.



Catatan: Jujur saja, saya galau baca ini – entah kenapa!

No comments:

Post a Comment