Saturday, November 5, 2016

Perempuan-Perempuan tanpa Cincin di Jari Manis


Aku memilih duduk di bagian agak pojok ruangan dan menyandar ke dinding. Selain menyandar ke dinding adalah sebuah kebiasaan dudukku yang aneh sekaligus pemalas, berjalan mengitari festival selama berjam-jam ternyata cukup melelahkan dan memaksaku untuk menyandarkan punggung di suatu tempat. Dan aku memilih tembok dingin ini – menjauh dari kerumunan orang dan suara-suara yang berisik. Aku berusaha memejamkan mata di tengah gemerasak orang-orang berbicara. Rasa-rasanya, aku ingin di sini saja sampai festival selesai.

Sesaat kemudian kesunyianku buyar. Aku mendengar seseorang mendekat. Karpet di sebelahku mulai berderak-derak. Aku pun membuka mata dan melihat seorang perempuan mendekatiku. Ia tersenyum kea rahku dengan begitu hangatnya dan kemudian berkata bahwa ia ingin bergabung. Aku hanya tersenyum kecil dan mempersilakannya. Rambut perempuan itu pendek seperti lelaki tetapi senyumnya sangat manis. Ia membawa sekotak makanan yang ia dapat gratis di depan meja staff relawan.

“Sudah makan?” tawarnya ramah. Ah, ini yang paling aku sukai dari tempat ini. Semua orang baik. Semua orang ramah. Semua orang tersenyum. Kalau pun ada kelelahan yang berujar dalam wajah mereka, semua sirna seketika itu juga dengan senyum-senyum yang bercahaya. Mungkin inilah yang membuatku begitu menikmati festival ini sekalipun aku harus berjalan jauh sekali. Tidak ada yang salah dengan berjalan kaki sesungguhnya. Itu sangat menyehatkan. Dan secara keseluruhan, aku memang menyukai tempat ini dan semua orang di tempat ini. Mereka begitu menyenangkan dan sangat hangat.

Memutuskan menjadi relawan dalam salah satu festival di Ubud, bagiku, adalah sebuah keputusan yang besar. Aku harus meluangkan kira-kira sepuluh hari untuk festival itu. Lima hari bekerja dan sisanya adalah perjalanan-perjalanan panjang yang menguras waktu tetapi menghemat uang. Aku juga harus mengeluarkan uang yang cukup banyak. Jumlah yang bukan main. Dan semuanya, tentu saja, berasal dari penghasilanku sendiri yang pas-pasan. Beruntung, jika Tuhan memang merestui, selalu ada jalan-jalan terang untuk sampai ke sana. Dan entah kenapa, tujuanku ke Ubud bukan sekadar untuk menikmati festival. Lebih dari itu, aku memang meniatkannya sebagai sebuah bentuk kontemplasi yang panjang.

Kembali pada perempuan berambut pendek tadi. Ia menyodorkan sekotak makanannya untukku. Aku menggeleng, berkata padanya bahwa aku sudah makan dan memilih rehat sejenak. Sebentar lagi jam dua dan aku harus kembali berjalan berkeliling festival.

Sejenak kami saling diam sebelum akhirnya aku berusaha memperkenalkan diri. Di sini, semua orang begitu ramah. Selalu ada sambutan hangat tiap kali aku memberanikan diri mengulurkan tangan. Mungkin hal inilah yang membuang rasa pengecutku yang terus membelenggu. Di sini, aku benar-benar bisa berbaur. Dan berusaha menjadi seseorang pemberani yang belum pernah kukenal sebelumnya.

Setelah berkenalan, seperti awal perjalanan sebuah relasi pada umumnya, kami mulai berbincang-bincang. Perbincangan kami begitu mengalir. Aku menyukainya. Karena aku mendapat banyak informasi yang tidak aku tahu. Aku menyukai cara bertuturnya yang begitu berwibawa. Aku senang mendengarnya bercerita. Begitu runtut. Sampai akhirnya, hal-hal yang agak privasi mulai tersentil tatkala aku bertanya apakah ia sendirian tinggal di Denpasar atau tidak. Berikutnya, yang kulihat adalah senyum pahit. Perempuan itu bergerak gusar, terutama tangan yang mengusap sebelahnya. Aku lihat, tak ada cincin di jari manis tangan kanannya. Aku hanya berusaha berpikiran baik dan tidak menduga-duga sesuatu yang buruk. Bukankah tinggal sendiri dan jauh dari tanah kelahiran kadang-kadang tidak begitu menyenangkan? Setidaknya, dengan satu orang saja yang menemani cukup bisa mengusir sempi. Sembari tetap tersenyum, perempuan itu berkata, “Saya tinggal sendiri,”

Berikutnya, yang kudengar adalah pengalaman-pengalaman pahit. Cerita tentang kekasihnya yang pergi meninggalkannya seminggu sebelum pernikahan, patah hati yang berkepanjangan dan meradang, dan sajak kesedihan-kesedihan yang sesungguhnya tak ingin kudengar dari wajah manisnya. Perempuan itu kini telah berusia lebih dari tigapuluh. Masih belum menikah dan tidak terlalu berniat menyematkan sebuah cincin di jari manisnya.

Aku tidak mau menanyakan alasannya. Juga tidak ingin mencari tahu lebih banyak tentang hal-hal seperti itu. Maksudku, aku tahu benar cerita selanjutnya akan seperti apa. Meski tidak ada raut wajah sedih di wajahnya.

Meski ia melontarkan cerita yang sedih, wajahnya tetap terlihat bahagia. Bahkan, dari seluruh sajak kesedihan itu, aku mendengar kekuatan yang besarnya sangat luar biasa.

***

Kali ini, aku berusaha untuk tidak duduk menyendiri. Aku memilih sekelompok orang yang tengah duduk di dekat tangga. Mereka terlihat asyik bercerita – walaupun lebih tepatnya, sedang asyik mendengarkan seorang perempuan berambut sebahu berkisah tentang dirinya. Aku mencoba memperkenalkan diri dan mempraktikkan apa yang perempuan tempo hari lakukan padauk. Aku pikir, sangat menyenangkan berada di tengah-tengah orang yang begitu ramahnya.

“Saya diputus pacar,” ujar perempuan berambut sebahu itu. “Ketika dia tahu saya punya kista di rahim,”

“Awalnya, mantan pacar saya mendukung saya untuk berobat. Dia berjanji akan menikah dengan saya dan menemani saya di saat-saat sulit. Tetapi dia pergi. Saya jadi tidak peduli akan separah apa kista ini nanti. Setahun berlalu, ternyata kista itu hilang,” perempuan itu tertawa lirih. “Tetapi saya jadi punya polip, empat,” lanjutnya.

“Saya sih maklum saja mantan pacar saya. Di sudah tua. Dan pasti kebelet kepengin nikah. Pastinya, ya, nggak mungkin kan saya yang juga sudah setua ini jadi harapan buat dia?” perempuan itu kembali tertawa. Kami menyimak dengan baik ceritanya. “Saya senang pindah ke Ubud. Saya ingin ganti gaya hidup,”

“Setelah pindah ke Ubud saya sering ketemu banyak orang yang senasib dengan saya. Dan saya merasa mendapatkan support. Di usia yang setua ini,” dia mengambil jeda. Saya memperhatikan wajahnya yang mulai ditumbuhi keriput. Perempuan itu tidak menyebutkan berapa usianya. Dan saya juga tidak berani menerka. “Saya paham bahwa menikah dan memiliki anak adalah sesuatu hal yang hampir tidak mungkin,” lanjutnya.

“Namun, kemarin, saya bertemu dengan beberapa perempuan yang melahirkan pada usia 50 dan 60 tahun. Sekarang, saya memang sudah tua. Tetapi, saya masih punya harapan,”

Aku terdiam memandang wajahnya. Lagi-lagi aku melihat kekuatan yang begitu besar dari wajahnya. Tidak ada keraguan.

“Lagipula,” perempuan itu kembali memberi jeda. “Hidup seperti ini enak juga. Kalau orang lain pasti gelisah soal pasangan. Saya tidak lagi demikian. Saya memiliki sebuah keyakinan. Dan kemana keyakinan itu nanti akan berjalan, saya akan selalu ikhlas menerimanya. Beginilah cara saya menikmati hidup,” ujarnya.

Perempuan yang lain berseru, bercerita kepadaku bahwa ia begitu bahagia dengan semua kesendiriannya. Ia aktif bergerak. Ia bebas berkelana. Jiwa dan raganya adalah miliknya sendiri. Ia mengatakan kepadaku bahwa seluruh dunia seolah-olah bisa ia genggam. Ada berjuta pertemuan yang seolah-olah harus dilakukan. Ada ratusan kesempatan yang harus diraihnya. Aku melihat sebuah kebebasan terletak di hatinya yang paling terdalam. Aku melihat ambisi yang begitu berapi-api dalam sorot matanya. Hanya satu hal yang tidak aku temui, sebuah cincin tersemat pada jari manisnya. Dan ketika orang-orang di sekitarku memberanikan diri bertanya tentang hal itu, perempuan itu hanya tertawa.

“Aku ingin menikmati hidup. Begini caraku menikmatinya. Aku pikir, tidak perlu terlalu buru-buru. Aku pikir, berkelanan ke semua tempat yang aku inginkan adalah pilihan terbaik,” dia tersenyum ceria dan kemudian menceritakan kepadaku kemana saja kakinya telah melangkah. Apa saja yang telah ia saksikan melalui kedua bola matanya.

Ah, dan sekarang aku juga jadi tahu caranya menikmati hidup.

***

Aku bertemu dengan banyak perempuan-perempuan tanpa cincin di jari manis mereka. Dan mereka semua punya keyakinan kuat mengapa hal itu terjadi. Dan aku pikir… aku harus mengikuti lebih banyak festival-festival seperti ini. Demi dan hanya demi untuk bertemu dengan perempuan-perempuan seperti mereka.

No comments:

Post a Comment