Monday, March 6, 2017

Kehilangan dan Menghilang


Dulu, sewaktu sepupu jauh saya yang masih berusia delapan meninggal, teman-teman seusianya berdatangan untuk melayat. Mereka berdiri di luar rumah sembari menangis dan mengantarkan jenazah sepupu saya hingga ke liang lahat. Saya, yang waktu itu masih remaja, tidak mengerti mengapa mereka menangis. Apakah mereka telah memahami dengan benar apa arti kehilangan? Apakah mereka memahami bagaimana rasa sakit atas kehilangan itu bermula? Atau mereka memahami kehilangan itu sama seperti ketika mereka kehilangan pensil kesayangan mereka atau bola sepak mereka? Yang jelas, saya mulai memahaminya ketika salah satu dari menyeletuk sembari menangis keras ketika jenazah sepupu saya mulai ditimbun tanah. Ia bilang ia tak akan pernah bertemu dengan sepupu saya lagi. Ia bilang, dalam waktu setahun sampai menjadi bertahun-tahun, hingga selamanya, ia tak akan pernah lagi bertemu dengan sepupu saya. Selama-lamanya, ketika ia mengetuk pintu rumahnya, tidak aka nada lagi yang membukakan pintu dan mengajak bermain. Lalu, ia menangis karena kehilangan teman bermainnya. Dan entah sampai kapan ia akan merasa kehilangan. Dan entah bagaimana ia menafisrkan kehilangan itu.

Pada hari itu pula, sejak terlahir ke dunia ini, itulah awal di mana kita semua telah belajar memahami rasa sakit atas kehilangan. Bagaimanapun, semua orang, sejak awal kelahirannya telah belajar sedikit demi sedikit tentang kehilangan-kehilangan yang ditimpakan kepadanya. Sekecil apapun. Sebesar apapun. Meski kita tak benar-benar tahu kemana segala sesuatu yang hilang itu pergi. Kita semua tahu, segala sesuatu yang hilang itu, tak akan pernah kembali. Selama-lamanya. Hingga kita menyadari – bahwa dunia tidak hanya sekadar kompilasi kehilangan yang tak berujung. Ia adalah bentuk yang paling tidak abadi. Lalu, setelah itu, bukankah kita tinggal menikmati kehilangan-kehilangan itu satu persatu – sampai pada batas yang paling wajar, kitalah yang tenggelam dalam kehilangan? Hingga orang-orang mencari dan kemudian memutuskan untuk menyerah.

10 comments: