Tuesday, December 8, 2015

Tolong Mengerti

vis http://globe-views.com

“Tolong mengerti,” katamu padaku melalui pesan singkat yang tiba-tiba datang di tengah malam. Aku hanya bertanya apakah kita harus melanjutkan semua ini dengan konsep yang sama atau tidak. Tetapi, tiba-tiba kamu mengirimiku sebuah pesan singkat yang mencengangkan. Kamu bilang aku sama sekali tidak pengertian. Kamu bilang aku seperti anak kecil karena tidak bisa memahami kesibukan orang lain.

Aku terdiam sebentar. Tanganku tiba-tiba saja bergetar membaca pesan itu. Apakah aku benar-benar seperti anak kecil? Aku bertanya pada diriku sendiri sembari membaca ulang pesanmu. Aku tidak tahu apa yang ada di dalam kepalamu hingga kamu berpikir bahwa aku tak bisa memahami kesibukan orang lain. Kamu berasumsi bahwa aku memiliki banyak waktu luang sehingga aku bisa menghujat semua orang sibuk yang tidak memberikan tanggapan berarti.

Boleh aku mengatakan bahwa asumsimu ini tidak adill? Kamu tahu, aku tahu bahwa semua orang memiliki kesibukan. Aku pun sudah sangat mengerti itu – mengerti semua orang dengan kesibukan masing-masing. Tetapi, satu hal. Satu hal yang harus kamu tahu dan camkan. Bahkan tuntutanmu untuk meminta dimengerti itu tidak sebanding dengan waktu luang yang aku berikan untuk menunggumu berjam-jam bersamaan dengan derai hujan di jelang petang. Aku merasa ini tidak adil. Kamu meminta dimengerti – tetapi kamu tidak bisa mengerti aku dan orang-orang yang meluangkan waktu di tengah-tengah kesibukan mereka. Aku pikir ini tidak adil. Sangat tidak adil. Kamu sibuk – aku pun juga sibuk. Tetapi, di tengah ingar-bingar kesibukan itu – berapa di antaranya – salah satunya aku mencoba meluangkan sedikit waktu.

Tidak bisakah kamu mengerti itu? Tidak bisakah kamu memahami waktuku yang begitu berharga dibanding tuntutanmu untuk dimengerti?

Tolong mengerti. Tolonglah mengerti.


Yogyakarta, di tengah ingar-bingar hujan yang deras. Suara petir yang menggelegar. Kilat-kilat yang bertebaran di langit – aku menunggumu dengan wajah sendu. Tetapi katamu, hari sudah terlalu larut untuk menapaki tanah lembab. Dan katamu, hujan terlalu deras untuk kamu terjang. Sedangkan aku, duduk di lantai itu sendirian. Menggigil kedinginan dengan baju yang basah kuyup – usai berlari dari tempat kerja dengan tergesa-gesa – karena aku takut kamu sudah menunggu terlalu lama. Tetapi, ternyata kamu tidak datang. Tiba-tiba rasa ngilu menyerang. 

No comments:

Post a Comment