Monday, January 25, 2016

Teman Dekat

via http://www.khalsacounselingvirginia.com/


“Ibuk punya teman dekat?” tanyaku tiba-tiba ketika kami berdua sedang makan malam. Ibu masih hikmat mengunyah. Sedangkan aku sendiri tidak mengerti kenapa pertanyaan seperti itu tiba-tiba terlontar. Mungkin aku hanya berusaha mengenali Ibu setelah selama duapuluh tahun lebih Ibu mengenalku dengan baik tetapi tidak dengan sebaliknya. Aku jadi penasaran dengan teman-teman dekat Ibu. Tetapi, aku juga menyadari bahwa pertanyaan ini keluar begitu saja  karena akhir-akhir ini aku merasa tidak terlalu membutuhkan teman dekat. Bisa dikatakan juga, aku sedang kehilangan teman-teman dekatku. Entah karena ruang, jarak, waktu, dan berbagai hal lainnya. Aku merasa bahwa “teman” menjadi sesuatu hal yang semu.

“Buk, Ibu punya teman dekat?” aku bertanya sekali lagi.
“Tidak.” Jawab Ibuk singkat. “Lho, kok begitu?” protesku. Aku merasa bahwa Ibu seharusnya menceritakan teman-teman dekatnya. Ibu seharusnya memiliki teman dekat. Tetapi Ibu menjawab dengan singkat bahwa Ibu tidak memilikinya. Bagaimana bisa? Bukankah Ibu sudah hidup lama dan bertemu dengan banyak orang? Aku yakin Ibu juga menjalani hidup sama sepertiku. Berteman dengan siapapun. Berteman dengan orang-orang yang berbeda setiap fasenya.

“Ya, ada… tetapi sudah meninggal. Satunya lagi di Kalimantan,”
“Ibu tidak pernah bertemu mereka lagi? Maksudku yang di Kalimatan itu?”
“Tidak.”
“Ibu tidak pernah reuni?”
Tidak,”
“Ibu tidak kangen?”

Dan untuk kesekian kalinya Ibu tetap menjawab dengan hal yang sama. Aku hendak protes karena kupikir sebenarnya Ibu seharusnya memiliki seorang teman dekat. Tetapi, aku baru sadar – di usia Ibu yang mencapai kepala enam – tentu Ibu bertemu dengan banyak orang. Aku yakin Ibu pasti memiliki seorang atau dua orang teman dekat. Tetapi, jarak, ruang, dan waktu serta keluarga masing-masing telah memberikan sekat yang tebal untuk sebait pertemuan.

Selama ini, aku tidak pernah melihat Ibu bermain dengan teman-temannya. Ibu hanya srawung dengan para tetangga dan bercanda dengan teman-teman kerjanya. Tetapi Ibu tidak pernah memiliki teman dekat yang sudah lama sekali berteman dengannya – yang ia kenalkan padaku, dan ia kenalkan pada anak-anaknya yang lain. Aku sungguh penasaran bagaimana pola pertemanan Ibu. Tetapi, Ibu, dengan semua hal sederhana sekaligus rumit yang disimpannya tidak pernah mengatakan apapun tentang teman-temannya. Hanya teman-teman kerja. Selebihnya, aku tidak tahu.

Ibu hanya pernah sekali bercerita tentang masa kecilnya bersama anak-anak lain di desa Ngabean, Wonosobo. Waktu itu, satu-satunya hiburan di pedesaan adalah pementasan wayang orang. Ibu dan teman-temannya yang lain mengendap-endap kabur dari rumah untuk menonton pertunjukkan itu. Mereka melewati sebuah jalan setapak yang begitu gelap di sebelah pekuburan. Hanya itu satu-satunya jalan yang bisa lewati agar bisa menghindari orang tua mereka. Ibu menunjukkan jalan setapak itu ketika kami berziarah ke makam Kakek yang belum pernah kutemui. Ibu memperlihatkan jalan setapak itu yang katanya masih memiliki rupa yang sama. Kata Ibu, tempat itu sangat gelap ketika malam hari. Ibu dan teman-temannya membawa obor untuk penerangan. Dan Ibu bercerita mereka bergandengan tangan sewaktu menyusuri jalan setapak itu agar tidak ada yang hilang. Cerita mistis tentu masih kekal di zaman itu – juga sampai sekarang.

Hanya nukilan itu saja yang aku tahu tentang kisah pertemanan Ibu. Selebihnya aku tidak tahu. Padahal aku pernah membayangkan bahwa kelak aku dan teman-temanku akan saling berkunjung sembari membawa anak-anak kami. Anak-anak kami juga akan berteman sama seperti aku dan teman-temanku. Sayangnya, Ibu tidak begitu.

Mungkin karena setelah menikah Ibu terlalu fokus bekerja dan mengurus anak-anaknya – teman Ibu hanyalah anak dan suaminya alias Bapak. Aku pun jadi menyadari suatu hal – seawet apapun suatu persahabatan toh mereka bukan sebuah relasi yang kekal. Terdapat kenangan tetapi tidak ada tempat untuk menyentuh kembali kenangan-kenangan itu. Setiap hari, setiap saat, aku bertemu dengan banyak orang. Di antara mereka aku mencoba memahami lebih dekat. Di antara mereka pula kami menjalin relasi yang begitu akrab. Pada akhirnya, seakrab apapun, yang namanya perpisahan adalah epilog dari pertemuan. Dan perpisahan itu pun akan membentuk jarak yang terlalu lapang. Hingga pada akhirnya, ketika semua orang telah sibuk dengan kehidupannya masing-masing --- sudah tak ada lagi waktu untuk saling mengunjungi.

Terkadang, aku pun membayangkan; apakah suatu saat aku masih bisa bertemu dengan teman-teman dekatku lagi?

Satu hal yang kemudian mesti aku pahami dengan baik adalah; aku harus memiliki seorang teman dekat yang tidak akan pergi begitu saja. Aku harus memiliki seorang teman dekat walaupun hanya sekadar untuk membincangkan hal-hal remeh-temeh -- mengusir sepi dan sunyi. Aku harus memiliki seorang teman dekat yang di kala senja bisa aku ajak berbincang-bincang; mungkin tentang secuil kue yang dimakan semut-semut merah atau kucing yang mencuri ikan asing siang tadi. Mungkin teman-teman dekat itu adalah anak-anakku kelak. Tetapi, tidak. Mereka pun tidak abadi. Pada waktunya mereka akan pergi. Mereka akan memiliki kehidupan sendiri yang tak mungkin bisa mereka bagi padaku.

Dan pada akhirnya satu-satunya teman dekat yang akan terus menemaniku adalah teman hidup bukan? Satu-satunya teman yang selalu ada. Satu-satunya teman sejati. Satu-satunya teman yang tidak memiliki kehidupannya sendiri. Sebab, kehidupan kami akan selalu sama. Dan akan ada banyak hal dibagi di dalamnya. Aku jadi berpikir; kini teman-teman dekatku – satu persatu telah beranjak. Mereka perlahan pergi dan mungkin tak akan kembali. Mereka telah sibuk dengan kehidupan mereka masing-masing. Kelak, ketika mereka sudah berkeluarga – kehidupan akan lebih jauh berbeda lagi. Pertemuan-pertemuan yang menyenangkan akan semakin jarang terjadi. Sebab, mereka pun sudah memiliki teman dekat yang hakiki. Sebab, mereka telah sibuk menjalani hari-hari sebagai sosok yang “berbeda” dengan kehidupan mereka.

Beberapa orang mungkin masih saling berkunjung, tetapi tidak akan lebih sering daripada dulu. Kesibukan dan fokus utama hidup menjadi salah satu penyebab. Terkadang dari hamparan usia yang kita miliki, kita pun perlahan memberikan pola dan label. Ada teman SD, SMP, SMA, teman dekat, sahabat, teman kerja, dan teman-teman yang lain. Tergantung fase, tergantung tanggal  bertemu. Tapi, tetap saja teman menjadi satu hal yang tidak  bisa benar-benar abadi. Sebab, sebenar-benarnya teman adalah mereka yang menghidupi satu ruang yang sama dan berbagi banyak hal di dalamnya. Sedangkan teman-teman itu? Mereka memiliki kehidupan sendiri. Dan tidak selamanya semua hal dapat dibagi begitu saja. Ada batas. Ada sekat.

Sadarkah bahwa selama hidup kita selalu berganti-ganti teman? Sesuai dengan posisi dan kondisi yang kita miliki. Mereka pun kelak akan memiliki kehidupannya sendiri sehingga tidak akan lebih sering berbagai banyak hal denganmu. Mungkin kita harus memiliki seorang teman dekat yang membagi kehidupannya dengan kita. Satu kehidupan dengan dua isi kepala dirinya. Sebidang tanah dengan dua pasang kaki yang berpijak di atasnya. Seorang teman dekat yang berbagi banyak hal dalam ruang kehidupan yang sama. Kehidupan yang sama. Satu kehidupan. Ruang hidup yang sama – dan bukan kehidupan masing-masing. Tetapi, orang-orang itu – yang berteman begitu dekat – memiliki satu kepala – satu ruang – yang diisi bersama-sama – dibagi bersama. Sehingga, tak ada satu pun yang berkehendak saling meninggalkan. Sebab,  di sanalah kehidupan itu terjadi. Tidak ada kehidupan masing-masing. Sehingga satu-satunya kehidupan yang mesti dihidupi hanya satu ruang itu saja. Tidak seperti pertemanan lain yang kemudian lupa untuk saling menatap karena kehidupan masing-masing yang menyedot seluruh perhatian mereka.




Aku jadi berpikir; mungkin sudah saatnya mencari teman dekat. Sebaik-baiknya teman dekat. Sebenar-benarnya teman hidup. Seseorang yang mencintai dan dicintaimu olehmu. Apa saja! Teman dekatmu – teman hidupmu – boleh apa saja!


Dan tiba-tiba aku menyadari... mungkin satu-satunya teman dekat Ibu adalah Bapak.

No comments:

Post a Comment