Thursday, February 4, 2016

Enam Kali

via http://faludiakademia.hu


Ini adalah keenam kalinya saya membayar uang kuliah. Juga keenam kalinya saya menyetorkan berlembar-lembar uang pada teller bank yang sama selama tiga tahun terakhir. Entah kebetulan atau memang mas-mas teller bank itu enggan mengundurkan diri dari pekerjaannya itu; saya selalu kedapatan membayar uang kuliah kepada bliyo. Sudah enam kali dan setiap membayarkan uang kuliah, Mas-Mas Teller itu pasti senyum-senyum. Dari antrian yang cukup jauh pun, Mas-Mas itu sudah menyapa. Seolah-olah mengingat saya  dengan baik, tiga tahun yang lalu– mahasiswa baru yang tidak tahu caranya membayar uang kuliah di bank.


Kami tidak pernah berkenalan. Ia hanya sekali memastikan program studi dan universitas yang saya ambil ketika membayar uang kuliah untuk pertama kalinya. Bliyo ini selalu  berdecak kaget karena uang kuliah yang harus dibayarkan sangat mahal. “Kuliah jaman sekarang kok mahal ya,” ujarnya. “Dulu saya kuliah enggak sampai segini, kok,” saya hanya menjawab dengan cengengesan.

“Emang dulu Mas bayar uang kuliah berapa?” Mas-Mas Teller yang tidak saya ketahui namanya ini pun menjawab nominal yang lumayan kecil. Saya mendengus agak kesal. Dunia memang sudah berubah. Juga dengan segala tetek-bengeknya. “Padahal kita kuliahnya sama, lho. Sama-sama komunikasi,” lanjutnya. Ya, walaupun berbeda universitas – saya dan Mas-Mas Teller Bank ini mengambil program studi yang sama.

“Lho? Sudah semester enam, ya?” tanyanya sedikit terperanjat ketika mengisi form pada komputer. Ia melihat ke arah saya sambil geleng-geleng kepala. “Kok cepet yo?” katanya sambil cekikian.
Lha iyo to, Mas. Aku wis bayar ping enem iki,” saya pun berusaha melontarkan guyonan pada Mas-Mas Teller itu.

Tenane wis semester 6?” tanyanya lagi.

Iyo lho, Mas. Semester ngarep insyaAllah aku uwiss skripsi,”

Mas-Mas Teller itu manggut-manggut. “Kok ora kerasa ya wis mlebu semester 6. Tapi kok rupamu ora kelong,”

Saya cengengesan. Dalam hati bersorak-sorai. “Lha emang awet muda kok, Mas. Masih banyak yang ngira saya itu masih SMP,” celetuk saya bangga.

Ora iso bayangke sesuk koe nek dadi sarjana bentukane kepie,” kami pun cuman tertawa bersama-sama. Sampai akhirnya Mas-Mas Teller Bank yang akhirnya saya tahu namanya dari name tag itu memberikan bukti pembayaran kepada saya.

Samar-samar saya lihat jari manis tangan kanannya sudah tersemat cincin. Seketika itu juga saya tersenyum karena menyadari bahwa semester-semester sebelumnya, cincin tersebut belum tersemat di sana. Benar, kata Mas-Mas Teller itu: semua berjalan begitu cepat. Bukankah tidak ada satu pun manusia yang memang mampu menyadari bahwa dunia berjalan dengan begitu cepat. Banyak hal berubah.


Oh, ya ngomong-ngomong. Saya lagi kepengin sedikit jahat. Walaupun saya dan Mas-Mas Teller Bank itu sama-sama lulusan Komunikasi – saya, mah, endak mau jadi Teller Bank juga. Hehe.

No comments:

Post a Comment