Posts

Showing posts with the label Jangkar

Kesederhanaan Jalan Buntu

Aku sudah menduganya sejak awal, lelaki itu tak akan bertahan. Sama seperti yang lain, lelaki itu pasti akan pergi, membawa sekotak penyesalan. Aku kira, dia tidak hanya memanggul satu koper penuh penyesalan. Di belakangnya berdiri sebuah truk raksasa yang membawa syair penyesalan itu. Waktu itu, dia mengatakan bahwa aku adalah seorang yang rumit tetapi dia mengaminkan untuk tetap berada di sampingku. Ia berkata dengan lantang bahwa ia beruntung karena tidak lantas pergi. Berada tepat di sisiku, katanya, ia akan mengurai kerumitan-kerumitan yang serupa benang kusut di atas kepalaku. “Aku tidak tahan,” katanya. “Kamu benar-benar rumit,” lelaki itu kemudian mengemasi harga dirinya yang telah tercerai berai – tercecer di berbagai sudut ruangan. Beberapa harga diri telah berupa kepingan bahkan serpihan. Namun, ia masih tetap berusaha memungutinya dengan hati-hati dan mengantonginya dalam kantong plastik. Ia masukkan sekumpulan harga diri yang telah retak itu ke dalam kopernya. ...

Jalan Padat di Dalam Kepala

“Kok, kamu rumit?” begitu kira-kira jawabannya atas perbincangan kami yang cukup panjang. Itu adalah pertama kalinya aku mencurahkan semua isi hatiku. Semua hal yang membuatku muak dan ingin memuntahkannya – memuntahkan tepat di wajah-wajah orang yang membuatku terbakar seperti sekam yang terjulur api. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Sekilas menatapku tajam. Ada keraguan yang sama di matanya – sama seperti laki-laki sebelumnya. “Kamu terlalu rumit,” ujarnya sekali lagi. Kini, dia menyeruput kopi yang sudah sejak lama dipesan dan hanya nganggur pada sebuah meja bundar. Semenjak kopi hitam itu hadir di meja itu, ia memang tidak menyentuhnya sama sekali. Ada lebih dari satu jam dan uap kopi itu menghilang. Sudah tidak panas. Bahkan, ketika mendengarkanku bercerita, lelaki itu tidak menyentuh kopinya. Wajahnya mengernyit. Mungkin kopinya sudah asam. Mungkin juga dia mulai memandangku dengan jijik. Memandang pikiranku dengan jijik. Memandang benakku dengan risih. Melihat segala ...