Kesederhanaan Jalan Buntu
Aku sudah menduganya sejak awal, lelaki itu tak akan bertahan. Sama seperti yang lain, lelaki itu pasti akan pergi, membawa sekotak penyesalan. Aku kira, dia tidak hanya memanggul satu koper penuh penyesalan. Di belakangnya berdiri sebuah truk raksasa yang membawa syair penyesalan itu. Waktu itu, dia mengatakan bahwa aku adalah seorang yang rumit tetapi dia mengaminkan untuk tetap berada di sampingku. Ia berkata dengan lantang bahwa ia beruntung karena tidak lantas pergi. Berada tepat di sisiku, katanya, ia akan mengurai kerumitan-kerumitan yang serupa benang kusut di atas kepalaku. “Aku tidak tahan,” katanya. “Kamu benar-benar rumit,” lelaki itu kemudian mengemasi harga dirinya yang telah tercerai berai – tercecer di berbagai sudut ruangan. Beberapa harga diri telah berupa kepingan bahkan serpihan. Namun, ia masih tetap berusaha memungutinya dengan hati-hati dan mengantonginya dalam kantong plastik. Ia masukkan sekumpulan harga diri yang telah retak itu ke dalam kopernya. ...