Posts

Showing posts with the label Cerita

Mereka yang Berkunjung ke Posyandu (Sendirian)

Image
Entah kebetulan atau memang sedang dijadwal, perempuan-perempuan yang tengah mengandung datang bersamaan ke puskesmas – tepatnya di posyandu. Mereka –yang datang sendiri atau bersama pasangan terlihat duduk di deretan kursi panjang menunggu antrian. Tiga orang perempuan yang tengah mengandung dengan perut membesar duduk di sebelah seorang perempuan paruh baya yang terbatuk-batu. Dua di sisi kanannya, seorang lagi – yang masih terlihat sangat muda duduk di sebelah kirinya. “Datang sendiri Mbak? Suaminya di mana?” tanya perempuan paruh baya itu pada perempuan yang duduk tetap di sebelah kanannya. Perempuan itu tersenyum sekilas kemudian menunjuk seorang pria yang tengah menggendong seorang anak laki-laki berusia dua tahun. “Sedang mengantarkan anak saya membeli camilan,” katanya. “Wah bagus!” perempuan paruh baya itu berseru. “Seorang suami yang baik memang harus menemani istrinya periksa kehamilan. Saya selalu tidak tega lho, Mbak kalau lihat perempuan hamil jalan sendirian.”...

Sebaiknya Dibungkus

Image
via huffitongpost Jalanan di sebelah Fakultas Kehutanan selalu terlihat paradoks bagiku. Praduga kegelapan yang melilit di tempat itu selalu dihempaskan mentah-mentah oleh warung-warung makan kecil yang pendaran cahayanya selalu temaram.   Terlihat sepi namun sejatinya ramai dengan orang-orang yang keroncongan – sebagian lagi ramai dengan orang-orang yang mencari uang dengan berdendang. Malam itu, didesak oleh kosongnya perut dari tadi siang, aku menelusuri keparadoksan yang tiada batas sembari mengintai satu warung pedadang kaki lima ke warung lainnya. Aku memilih salah satu warung sop di ujung jalan – duduk di sana sendirian setelah memesan. Ini kali pertama di semester empat aku makan sendirian di sebuah warung. Jika aku makan sendiri, biasanya aku akan membungkusnya dan memakannya di kamar kos. Kali ini – tiba-tiba – aku ingin merasakan suasana yang berbeda. Aku ingin makan langsung di warung itu. Ya, walaupun sendiri. Tanpa, teman makan. Aku hanya malas kalau harus me...

(Ter)Tidur dan Hal-Hal yang Belum Selesai

Image
“Lam, bagianmu durung ana ning emailku !” sebuah pesan singkat aku baca dengan samar-samar ketika (tak sengaja) terbangun dari tidur. Dengan sedikit ogah-ogahan membuka mata, aku pun membalas pesan itu, “ Sorry, aku keturon. Sik ya ,” – dan kemudian merebahkan kembali tubuh yang letih – kembali mengarungi dunia mimpi – yang tidak pernah kunjung menjadi nyata. *** Akhir-akhir ini, aku tidak pernah benar-benar tidur. Aku selalu ketiduran – dalam artian aku tidak pernah benar-benar setuju kapan dan di mana aku harus tidur. Aku tidur begitu saja tanpa yakin bahwa hari ini semua hal telah terselesaikan. Aku selalu tidur dalam keadaan aku tidak ingin tidur terlebih dahulu.  Aku selalu tidur dalam keadaan aku belum bersiap-siap untuk tidur. Aku selalu tertidur dan terbangun dengan membawa hal-hal yang belum usai dari hari kemarin. Akhir-akhir ini, aku tidak pernah benar-benar tidur. Aku selalu tertidur dengan setumpuk pekerjaan bertebaran di atas kasur yang aku jumpai di pagi...

Apatis

Aku tidak tahu bagaimana menyampaikan suatu rasa yang tak lagi bisa dikecap, kelu dilidah, tak bertulang, hingga semua papila tercerabut. Aku tidak tahu bagaimana harus menyatakan kasih kepada orang lain melalui intuisi verbal – menuliskannya mungkin – atau bahkan mengucapkannya langsung. Aku tidak tahu. Aku tidak tahu, aku tidak mengerti, bagaimana menuturkan rasa dan berucap kasih kepada  keluarga, sesama teman, atau bahkan orang lain. Aku hanya terdiam dalam sudut tergelap sambil mendoakan yang terbaik untuk mereka semua. Tapi toh, kebanyakan orang selalu melihat segala sesuatunya dari yang nampak. Sebab hati tidak terlihat, tersembunyi di bagian organ-organ tubuh paling terdalam. Yah, sayang, mereka semua pasti luput jika sebetulnya aku sangat menyayangi mereka semua. Tapi, mungkin – yang ada di pikiran mereka hanyalah sebatas ketidakpedulian tentang segala sesuatu hal yang berada disekitarku. Apatis – mereka bilang. Katanya, aku cuek. *** Ayahku bilang, aku prib...

(Mungkin) Doa yang Salah

Image
“Cepat besar ya, Nak,” “Tapi, Bu, aku ingin menjadi anak kecil terus. Selamanya,” “Kapan aku pernah memimpikan menjadi manusia dewasa?” dalam cermin berdimensi masa, aku bertanya, seolah-olah memecah kerangka waktu yang mengekang antara  diriku dan seuntai masa lalu. Cermin itu bergoyang-goyang, memendarkan galaksi masa lalu yang tengah dipelintir untuk diledakkan. Di sana, di dalam cemin itu, aku melihat dengan jelas sesosok gadis kecil yang tidak pernah pandai menyisir rambutnya. Rambutnya panjang gimbal sampai ke pinggang. Ia lebih sering menguncir rambut tersebut ke belakang. Terkadang ia menggerai rambutnya. Namun, ia lebih memilih mengikatnya ke belakang karena akan sangat mereporkan jika ia harus menggerai rambut panjangnya. Gadis itu selalu memakai celana selutut. Tidak pernah mau menggunakan rok. Satu-satunya rok yang ia kenakan adalah seragam sekolah. Ia tidak suka bermain boneka. Boneka satu-satunya yang ia miliki telah rusak wajahnya karena diinjak-in...

Jalan Setapak Menuju Rumah

Image
“Kabeh wong ki nduwe dalane dewe-dewe lam,” [1] -  seorang teman [2]       Malam ini – pun juga dengan malam-malam kemarin, aku terus mengeluhkan diriku sendiri. Pergerakannya terasa makin sempit, tidak ada yang lebih sesak ketimbang menyalahkan diri sendiri atas segala keterbatasan yang kurasakan. Aku terus menyalahi, merutuki, segala bentuk pribadiku yang kupikir tak berwujud. Pada hamparan keluh-kesah itu, aku mengingat sebait nasihat – yang sebetulnya tidak ada sangkut-pautnya dengan persoalan yang sekarang kuhadapi. Namun, nasihat ini dengan lincah beradaptasi dari tiap persoalan ke persoalan lain. Ia menjelma menjadi kunci dari keluhan hidup yang selalu memiliki celah – menerobos – menyakiti hati yang lemah, mengintimidasi jiwa yang rapuh, dan membongkar hidup-hidup organ-organ dalam yang mati rasa. Kupikir, aku telah salah memaknai hidup akhir-akhir ini. Kupikir, aku telah luput dalam menafsirkan setiap hal di dunia ini. Aku mulai lupa men...

RINDU

Image
Aku merindukan kisah-kisah tentang enam  manusia  misterius di rumah tua peninggalan Belanda. Rumahnya besar, dari luar terlihat remang-remang dan berada di sudut perempatan jalan. Ada pohon tanjung yang amat besar -- yang tak pernah berbunga, hidup bersama mereka dan turut serta meladeni kerasnya zaman. Ada dua keluarga lainnya yang yang ikut tinggal bersebelahan. Sekumpulan ayam tetangga yang suka berlarian-larian ketika ada yang membuang sampah. Dan juga seekor anjing hitam yang kerap kali menggonggong ketika ada orang asing datang. Sesekali, anjing itu terkadang menjadi sangat menyebalkan ketika tak dapat mengenali manusia-manusia yang tinggal di sana. Tapi dia lebih banyak membantu karena menjadi penghalang manusia-manusia bertangan nakal dan berotak tamak. Aku merindukan satu rumah tua yang menakutkan -- yang masih berdiri kokoh di tepi jalan. Masih mengakarkan pondasinya di antara rumah-rumah modern yang mulai dibangun di kanan-kirinya. Aku merindukan satu nuans...

Selalu Random tentang Tujuan Hidup; Aku Mesti Bernapas!

Image
via http://www.kairosblog.com Berkat ‘mereka’ aku jadi bertambah semangat sekaligus cemburu. Ada perasaan iri ketika mereka mulai berani merangkak, bahkan berlari, menemunkan jalan setapak, dan menyusurinya dengan tanpa halangan. Berkat mereka, aku pun terus merenungi segalanya. Berkat mereka, rasa cemburuku terus dicambuk kuat, meninggalkan bekas-bekas merah. Seperti seorang masokis, aku menikmati rasa sakit atas kecemburuanku dan menagihnya dalam jumlah yang banyak. Oke, aku semakin melantur karena memakai perumpamaan, perandaian, analogi cabul, dan sesuatu hal yang awalnya melekat pada hal-hal berbau seksualitas. Aku sebenarnya hanya ingin menceritakan, menjelaskan, dan menunjukkan bahwa sekarang keyakinanku semakin bertambah. Aku Cuma pengin nulis kalau aku masih acak soal tujuan hidup, aku musti bernapas. Kalau tidak aku bisa mati. Persoalannya adalah, udara apa yang harus aku hirup untuk memenuhi rongga-rongga yang lapuk dan sering terkontaminasi asap rokok....