Posts

Showing posts with the label Manusia

Mereka yang Berkunjung ke Posyandu (Sendirian)

Image
Entah kebetulan atau memang sedang dijadwal, perempuan-perempuan yang tengah mengandung datang bersamaan ke puskesmas – tepatnya di posyandu. Mereka –yang datang sendiri atau bersama pasangan terlihat duduk di deretan kursi panjang menunggu antrian. Tiga orang perempuan yang tengah mengandung dengan perut membesar duduk di sebelah seorang perempuan paruh baya yang terbatuk-batu. Dua di sisi kanannya, seorang lagi – yang masih terlihat sangat muda duduk di sebelah kirinya. “Datang sendiri Mbak? Suaminya di mana?” tanya perempuan paruh baya itu pada perempuan yang duduk tetap di sebelah kanannya. Perempuan itu tersenyum sekilas kemudian menunjuk seorang pria yang tengah menggendong seorang anak laki-laki berusia dua tahun. “Sedang mengantarkan anak saya membeli camilan,” katanya. “Wah bagus!” perempuan paruh baya itu berseru. “Seorang suami yang baik memang harus menemani istrinya periksa kehamilan. Saya selalu tidak tega lho, Mbak kalau lihat perempuan hamil jalan sendirian.”...

[Cerpen] Takjil Setengah Enam

Image
Takjil Setengah Enam via kompasiana Lagi-lagi aku dan Jack mencari makanan gratisan di Masjid. Padahal sudah jelas, selama puasa sampai hari ke sembilan, aku dan dia tidak menunaikannya. Malas rasanya, buat apa capek-capek menahan lapar dan dahaga. Aku sudah bosan mendengarkan ceramah para Ustadz. Aku sudah tak peduli dengan amanat Tuhan yang satu itu. Ah, tidak cuma satu saja, tapi juga amanat yang lain, sudah kulupakan. Bahkan yang bukan amanatnya dan bahkan yang dilarang malah aku laksanakan dengan sukacita. Lagipula, apakah Dia memang ada? Kalau ada, mengapa Dia selalu bersembunyi? Tak pernah sekali pun menunjukkan rupa dan wujudnya. Aku tidak ingin menjadi orang-orang bodoh di luar sana yang mengagungkan-agungkan sesuatu yang tidak jelas keberadaannya di mana. Jika pun aku mengakui keberadaan-Nya, bagiku, dan bagi Jack pula, Dia-lah sumber semua kekacauan di muka bumi ini. Seperti biasa, aku dan Jack memakai baju koko yang agak panjang dengan sebuah peci putih. Tak...

Laki-Laki Juga Punya Stereotipe

Image
Let me tell you something. All men are the same all over the world -- They're bad. If men were good, I wouldn't waste my time being gay. (The Library)

(Ter)Tidur dan Hal-Hal yang Belum Selesai

Image
“Lam, bagianmu durung ana ning emailku !” sebuah pesan singkat aku baca dengan samar-samar ketika (tak sengaja) terbangun dari tidur. Dengan sedikit ogah-ogahan membuka mata, aku pun membalas pesan itu, “ Sorry, aku keturon. Sik ya ,” – dan kemudian merebahkan kembali tubuh yang letih – kembali mengarungi dunia mimpi – yang tidak pernah kunjung menjadi nyata. *** Akhir-akhir ini, aku tidak pernah benar-benar tidur. Aku selalu ketiduran – dalam artian aku tidak pernah benar-benar setuju kapan dan di mana aku harus tidur. Aku tidur begitu saja tanpa yakin bahwa hari ini semua hal telah terselesaikan. Aku selalu tidur dalam keadaan aku tidak ingin tidur terlebih dahulu.  Aku selalu tidur dalam keadaan aku belum bersiap-siap untuk tidur. Aku selalu tertidur dan terbangun dengan membawa hal-hal yang belum usai dari hari kemarin. Akhir-akhir ini, aku tidak pernah benar-benar tidur. Aku selalu tertidur dengan setumpuk pekerjaan bertebaran di atas kasur yang aku jumpai di pagi...

Peperangan

Image
Dulu, dalam masa peperangan, akan ada banyak orang-orang yang terpisah. Pemuda-pemuda akan diciduk untuk ikut melawan "musuh" demi memperjuangkan tanah air mereka. Ibu-ibu mereka akan harap-harap cemas dengan kepulangan mereka. Adik-adik mereka akan sangat merindukan gendongan kakaknya. Sementara pemuda-pemuda itu -- di medan perang, bergulat bersama peluru-peluru dan ranjau-ranjau yang bahkan mereka seringkali lupa menanamnya di mana. Dulu, dalam masa peperangan, akan ada ba nyak ibu yang patah hati ketika mendengarnya anaknya tidak akan kembali lagi. Bahkan tanpa nisan. Hingga tiada kunjungan yang dapat dilakukan sang ibu. Adik-adik mereka akan menangis dan memandang iri teman-teman mereka yang kakak-kakaknya pulang dengan selamat. Sementara, tubuh-tubuh para pemuda itu -- di medan perang telah terburai oleh peluru-peluru yang menukik tajam dan ranjau yang tak sengaja meledak. Sementara itu, nun jauh setelah peperangan berlangsung, orang-orang yang hanya mengandalka...

Di Halte Bus

Image
Mungkin kita berdua adalah orang yang tidak sengaja bertemu di Halte Bus. Selepas bus jurusan masing-masing datang, kita berpisah. * Terkadang, di tengah ingar-bingar jalanan, aku selalu menyelipkan diriku pada kegaduhan lain. Mungkin dengan menyetel musik keras melalui kabel headset. Atau membuat suara-suara sendiri – tanpa ada yang tahu aku berbicara dengan siapa. Yang jelas, aku seringkali terjebak pada nuansa yang penuh dan gaduh. Namun, aku menikmatinya dengan menyimak kebisingan-kebisingan di halte bus. Suara klakson yang melengking, suara deru motor dan mobil yang knalpotnya bocor, ataupun suara kenek angkutan umum yang serak. Semua berbaur menjadi satu. Di sebuah halte bus, terkadang aku menunggu sendirian. Terkadang pula beberapa orang ikut duduk di sebelahku. Sebagian berdiri sembari mengotak-atik gawainya. Sesekali melihat jam tangan yang melingkat di pergelangan mereka – sembari mendesah berat, kemudian menatap jalan dengan harapan sekaligus kekhawati...

Jalan Setapak Menuju Rumah

Image
“Kabeh wong ki nduwe dalane dewe-dewe lam,” [1] -  seorang teman [2]       Malam ini – pun juga dengan malam-malam kemarin, aku terus mengeluhkan diriku sendiri. Pergerakannya terasa makin sempit, tidak ada yang lebih sesak ketimbang menyalahkan diri sendiri atas segala keterbatasan yang kurasakan. Aku terus menyalahi, merutuki, segala bentuk pribadiku yang kupikir tak berwujud. Pada hamparan keluh-kesah itu, aku mengingat sebait nasihat – yang sebetulnya tidak ada sangkut-pautnya dengan persoalan yang sekarang kuhadapi. Namun, nasihat ini dengan lincah beradaptasi dari tiap persoalan ke persoalan lain. Ia menjelma menjadi kunci dari keluhan hidup yang selalu memiliki celah – menerobos – menyakiti hati yang lemah, mengintimidasi jiwa yang rapuh, dan membongkar hidup-hidup organ-organ dalam yang mati rasa. Kupikir, aku telah salah memaknai hidup akhir-akhir ini. Kupikir, aku telah luput dalam menafsirkan setiap hal di dunia ini. Aku mulai lupa men...