Posts

Showing posts with the label Curhat

Sistem Bayar Kuliah

Image
                 via http://4.bp.blogspot.com Beberapa waktu lalu, saya sempat ngobrol dengan kakak tingkat yang sudah lulus. Sebenarnya tidak ngobrol lama amat. Kami hanya membicarakan tentang SKS dan jumlah SKS yang diingini. Si Kakak Tingkat ini bilang kalau dia ambil SKS dengan jumlah yang cukup banyak. Kebetulan, beliau juga lulus dengan rentang waktu yang lebih lama dari yang telah ditetapkan sebagai waktu standar lulus. “Mending ambil banyak aja sekalian sks-nya. Daripada dikira nganggur. Aku kan lulus enggak tepat waktu,” ujarnya. Namun seolah-olah baru tersadar dari tidur. Kakak Tingkat itu langsung mengoreksi. “Eh, tapi kamu sistem bayarnya pakai UKT ding . Berarti harus lulus cepat. Kasihan orang tuamu kalau kamu lulusnya terlambat,”             Saya langsung diam. Terkesiap. Tidak tahu harus ngomong apa. Tapi si Kakak Tingkat ini memang benar. Saya juga berencana ingin lulus lebih cepat dar...

Catatan tentang Semester Empat

Setelah melihat nilai terakhir yang keluar di semester empat ini, hati rasanya langsung lega. Akhirnya saya menyelesaikan semester empat dengan tuntas; dengan kata lain tidak ada yang mengulang. Sangat plong rasanya ketika semester empat resmi usai dengan predikat “usai”. Terlepas dari “keberhasilan” saya menyelesaikan semester ini, ada banyak hal yang saya pelajari dari semester empat. Saya menyebut satu semester ini dengan fase yang paling mengerikan (saat ini) selama saya berkuliah. Saya tidak pernah benar-benar mengalami rasa yang teramat insecure dalam menghadapi perkuliahan. Selama ini saya tergolong (sangat) santai dan mengerjakan seluruh tugas dengan (amat) santai pula. Namun, semester ini, (walaupun saya tetap santai) benar-benar sebuah perjuangan. Ada banyak hal yang bisa saya ambil sebagai pelajaran. Semester ini benar-benar fase berdarah-darah. Saya mungkin terdengar berlebihan. Tapi percayalah, untuk melalui semester ini, saya tidak bisa sesantai semester kemarin. ...

Sebab, Aku (Bukan) Seorang Perempuan

Image
“Aku lupa bahwa aku perempuan” – itu Suad, tokoh utama dalam novel “Aku Lupa Bahwa aku Perempuan” garapan Ihsan Abdul Quddus – seorang novelis sekaligus jurnalis Mesir. Dalam novel itu, diceritakanlah seorang perempuan pernama Suad yang memiliki ambisi besar terhadap karier politik dan pendidikannya. Ambisi yang terlampau besar itu membuatnya melupakan kodrat bahwa dirinya adalah perempuan. Ia lebih suka diperlakukan sebagai seorang politikus atau cendekiawan – diibandingkan diperlakukan sebagai seorang perempuan. Dan ia pun – telah melupakan bahwa ia adalah seorang perempuan. Berkebalikan dengan apa yang dialami oleh Suad, orang-orang di sekelilingkulah yang lupa bahwa aku perempuan. “Mereka lupa bahwa aku perempuan” – begitulah yang terus menjeri-jerit di hatiku. Aku heran, mengapa orang-orang (pria) di sekitarku tidak dapat melihatku sebagai seorang perempuan. Hanya karena aku suka mempelajari tentang feminisme – mereka lantas menganggap bahwa aku adalah seorang perempuan...

Sebaiknya Dibungkus

Image
via huffitongpost Jalanan di sebelah Fakultas Kehutanan selalu terlihat paradoks bagiku. Praduga kegelapan yang melilit di tempat itu selalu dihempaskan mentah-mentah oleh warung-warung makan kecil yang pendaran cahayanya selalu temaram.   Terlihat sepi namun sejatinya ramai dengan orang-orang yang keroncongan – sebagian lagi ramai dengan orang-orang yang mencari uang dengan berdendang. Malam itu, didesak oleh kosongnya perut dari tadi siang, aku menelusuri keparadoksan yang tiada batas sembari mengintai satu warung pedadang kaki lima ke warung lainnya. Aku memilih salah satu warung sop di ujung jalan – duduk di sana sendirian setelah memesan. Ini kali pertama di semester empat aku makan sendirian di sebuah warung. Jika aku makan sendiri, biasanya aku akan membungkusnya dan memakannya di kamar kos. Kali ini – tiba-tiba – aku ingin merasakan suasana yang berbeda. Aku ingin makan langsung di warung itu. Ya, walaupun sendiri. Tanpa, teman makan. Aku hanya malas kalau harus me...

(Ter)Tidur dan Hal-Hal yang Belum Selesai

Image
“Lam, bagianmu durung ana ning emailku !” sebuah pesan singkat aku baca dengan samar-samar ketika (tak sengaja) terbangun dari tidur. Dengan sedikit ogah-ogahan membuka mata, aku pun membalas pesan itu, “ Sorry, aku keturon. Sik ya ,” – dan kemudian merebahkan kembali tubuh yang letih – kembali mengarungi dunia mimpi – yang tidak pernah kunjung menjadi nyata. *** Akhir-akhir ini, aku tidak pernah benar-benar tidur. Aku selalu ketiduran – dalam artian aku tidak pernah benar-benar setuju kapan dan di mana aku harus tidur. Aku tidur begitu saja tanpa yakin bahwa hari ini semua hal telah terselesaikan. Aku selalu tidur dalam keadaan aku tidak ingin tidur terlebih dahulu.  Aku selalu tidur dalam keadaan aku belum bersiap-siap untuk tidur. Aku selalu tertidur dan terbangun dengan membawa hal-hal yang belum usai dari hari kemarin. Akhir-akhir ini, aku tidak pernah benar-benar tidur. Aku selalu tertidur dengan setumpuk pekerjaan bertebaran di atas kasur yang aku jumpai di pagi...

Apatis

Aku tidak tahu bagaimana menyampaikan suatu rasa yang tak lagi bisa dikecap, kelu dilidah, tak bertulang, hingga semua papila tercerabut. Aku tidak tahu bagaimana harus menyatakan kasih kepada orang lain melalui intuisi verbal – menuliskannya mungkin – atau bahkan mengucapkannya langsung. Aku tidak tahu. Aku tidak tahu, aku tidak mengerti, bagaimana menuturkan rasa dan berucap kasih kepada  keluarga, sesama teman, atau bahkan orang lain. Aku hanya terdiam dalam sudut tergelap sambil mendoakan yang terbaik untuk mereka semua. Tapi toh, kebanyakan orang selalu melihat segala sesuatunya dari yang nampak. Sebab hati tidak terlihat, tersembunyi di bagian organ-organ tubuh paling terdalam. Yah, sayang, mereka semua pasti luput jika sebetulnya aku sangat menyayangi mereka semua. Tapi, mungkin – yang ada di pikiran mereka hanyalah sebatas ketidakpedulian tentang segala sesuatu hal yang berada disekitarku. Apatis – mereka bilang. Katanya, aku cuek. *** Ayahku bilang, aku prib...

Sejenak Melupa

Alih-alih melawan lupa – sepertinya aku lena pada hal-hal yang sengaja maupun tidak sengaja terlupakan. Bagaimana melawan lupa? Seperti aktivis yang masih memperjuangkan kasus Udin, Marsinah, dan Munir. Semalaman penuh sampai hampir subuh – aku hanya bisa terdiam di depan layar laptop tanpa sedikit pun mampu mengetik perihal kisah. Semuanya sendu. Abu-abu. Kepalaku sungguh buntu. Bahkan menulis sebentuk curhatan ini pun buntunya bukan main. Telah lama mengendap dari hal-hal yang ‘nyastrawi’ kini membuatku kaku. Aku benar-benar tak ingat bagaimana caranya menulis. Semuanya kabur dalam satu-waktu. Semalaman penuh sampai hampir subuh – aku mencoba berkonsentrasi untuk menulis kembali – setelah sekian lama lupa bagaimana nikmatnya menulis. Namun, yang kutemukan ialah kenihilan tanpa perbatasan. Sesungguhnya nihil bisa jadi kewajaran jika dan hanya jika ia memiliki batas yang jelas. Lagi-lagi kenihilan itu tiada batas, yang artinya satu persatu hal yang seharusnya bisa masuk, mengabs...

Selalu Random tentang Tujuan Hidup; Aku Mesti Bernapas!

Image
via http://www.kairosblog.com Berkat ‘mereka’ aku jadi bertambah semangat sekaligus cemburu. Ada perasaan iri ketika mereka mulai berani merangkak, bahkan berlari, menemunkan jalan setapak, dan menyusurinya dengan tanpa halangan. Berkat mereka, aku pun terus merenungi segalanya. Berkat mereka, rasa cemburuku terus dicambuk kuat, meninggalkan bekas-bekas merah. Seperti seorang masokis, aku menikmati rasa sakit atas kecemburuanku dan menagihnya dalam jumlah yang banyak. Oke, aku semakin melantur karena memakai perumpamaan, perandaian, analogi cabul, dan sesuatu hal yang awalnya melekat pada hal-hal berbau seksualitas. Aku sebenarnya hanya ingin menceritakan, menjelaskan, dan menunjukkan bahwa sekarang keyakinanku semakin bertambah. Aku Cuma pengin nulis kalau aku masih acak soal tujuan hidup, aku musti bernapas. Kalau tidak aku bisa mati. Persoalannya adalah, udara apa yang harus aku hirup untuk memenuhi rongga-rongga yang lapuk dan sering terkontaminasi asap rokok....

Hope

Do not give up to expected Do not stop to give hopes to your life. Dream on. Just Dream. Realistic is exist, but imagine always real. Believe it. Keep it in to your heart. Berawal dari sebuah perbincangan yang agak singkat setelah makan bakso (?). Berawal dari sebuah obrolan sederhana tentang ‘harapan’. Ada banyak hal yang aku ambil dari percakapan ini. Ada banyak hal yang masih harus kurenungi lagi. Ada sekian hal penting yang kemudian menyadarkan aku tentang sesuatu hal yang bukan lagi sebuah cerita dongen ataupun mitos. Bahwa, benar, berharap bukan sesuatu yang salah. Bahwa Benar, terus berharap bukanlah sesuatu yang hina. Bahwa, iya, memang benar, berharap adalah salah satu kemauan kita untuk terus hidup di dunia yang penuh dengan tidakpastian ini. Bahwa benar, berharap itu pasti. Dan ketika itu, ada seseorang bertanya padaku, “Salah nggak sih aku berharap kayak gini?” Aku bilang, “Tidak,” “Tidak ada yang salah,” lanjutku. Sebuah harapan adalah rencana sed...