[Cerpen] Menyapa Angin di Pagi Hari
Oleh Lamia Melodi (Lamia Putri Damayanti) Tuhan, berilah aku keberanian untuk mengucapkan selamat pagi kepadanya. *** via http://40daysforlifepittsburgh.com Pagi tak pernah terasa pagi bagiku. Tidak ada perbedaan pagi, siang, sore dan malam yang signifikan aku pikir. Semuanya sama, gelap terang terasa sama. Karena selalu ada dia yang menetralkan suasana hatiku. Bagiku, dialah angin pagi yang berhembus semilir dalam benakku, berputar-putar seperti angin siklon yang tiada henti. Menjadi pelampiasan memoir yang terus bergelut dalam hari. Dia adalah dia, yang kupuja dan kunikmati di pagi hari. “Hei, pagi?” Dia menengok ke arahku sebentar kemudian kembali mencermatiku buku cetaknya yang agak tebal. Apakah dia mendengarku? Atau hanya mencari gerakan untuk melepas rasa penat yang menumpuk? “Hei, pagi?” Dia kembali menoleh, menampakkan binar wajahnya yang berseri seperti angin segar di sore hari. Aku terdiam cukup lama. Memandanngya dalam ruang semuk...