Pentingnya Pemahaman Kode Etik oleh Pekerja di Bidang Komunikasi
Kode etik profesi juga diterapkan di bidang komunikasi. Komunikasi
yang dimaksud di sini adalah komunikasi massa – artinya berhubungan dengan
massa (publik). Dalam hal ini beberapa profesi yang mencakup bidang komunikasi
adalah Jurnalis, Humas, pekerja iklan, dan lain sebagainya. Tiap profesi
memiliki kode etik-nya masing-masing sesuai dengan peran-peran yang dijalankan.
Pemahaman para pelaksana profesi komunikasi terhadap kode etik tentu menjadi
hal yang penting. Mengapa begitu? Sebab pola interaksi yang dilakukan oleh para
pelaksana profesi di bidang komunikasi berhubungan langsung dengan masyarakat.
Sesuai dengan terma komunikasi itu sendiri, komunikasi merupakan proses pertukaran makna
informasi melalui suatu media tertentu. Proses komunikasi sendiri terjadi
ketika komunikator menyampaikan pesan kepada komunikan. Proses komunikasi atau
penyampaian pesan ini sifatnya bisa linear (satu arah), interaksional maupun
transaksional.[1]
Harold Lasswell dalam karyannya, The
Structure and Function of Communication in Society juga menjelaskan
mengenai proses komunikasi. Laswell mengatakan bahwa cara yang baik untuk
menjelaskan komunikasi ialah dengan menjawab pertanyaan sebagai berikut: Who Says What In Which Channel to Whom with
What Effect?[2]Apa
yang dijelaskan oleh Lasswell adalah bahwa bentuk komunikasi: “seseorang
menyampaikan suatu pesan dengan sebuah medium kepada orang lainnya.”
Para pelaksana profesi di bidang komunikasi memiliki peran besar
terhadap pesan-pesan atau isu-isu yang berkembang di masyarakat. Komunikasi
massa atau media massa berperan aktif dalam penyebaran informasi di masyarakat.
Informasi yang berkembang di masyarakat diyakini harus sesuai dengan fakta.
Tidak hanya itu, informasi yang berkaitan langsung dengan kepentingan publik
juga memberikan pengaruh besar terhadap opini publik dan stabilitas suatu
negara. Adanya isu-isu yang mengancam stabilitas publik dan negara tentu akan
membahayakan keselamatan masyarakat baik secara psikis maupun fisik. Kemungkinan terburuk, jika produksi dan
distribisu pesan tidak efektif, dapat menimbulkan konflik. Selain itu, kepastian dan kebenaran informasi yang
beredar di masyarakat merupakan medium pencerdasan bangsa.
Kebebasan mendapatkan informasi yang benar adalah salah satu hak
asasi manusia (HAM) publik yang harus dipenuhi. Sesuai dengan Pasal 28F UUD 1945 yang
menyatakan “Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi
untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk
mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi
dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia”. Sedangkan Pasal 14 UU
Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia menyatakan, “Setiap orang berhak
untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi yang diperlukan untuk
mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya.
Setiap orang juga berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan,
mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis sarana
yang tersedia”.
Shoemaker dan Reese, mengemukakan perdapatnya
mengenai Etika Komunikasi Massa dalam Nurudin (2003)[3],
yaitu: 1) Tanggung Jawab 2) Kebebasan Pers 3) Masalah Etis 4) Ketepatan dan
Objektivitas 5) Tindakan Adil untuk Semua Orang. Berkaitan dengan kode etik profesi, komunikasi sebagai salah satu hal yang
vital dan substansial dalam kehidupan manusia juga memiliki rumusan etikanya
masing-masing. Telah disebutkan sebelumnya bahwa etika profesi adalah etika
khusus dan etika sosial. Profesi jelas sesuatu yang khusus karena profesi tidak
bisa disamaratakan. Adapun, profesionalisme berkaitan erat dengan hubungan
sosial dan publik. Maksudnya, masyarakat harus dilindungi dari kerugian yang
ditimbulkan karena ketidakmampuan teknis dan perilaku yang tidak etis, dari
mereka yang menganggap dirinya sebagai tenaga profesional dalam bidang
tersebut.
Jadi
etika komunikasi berbicara masalah kajian profesi komunikasi dengan
berlandaskan pada nilai sosial, teori normatif, nilai filsafat etika dan
standar moral profesi sebagai perangkat analisis[4].
Sehingga dapat disimpulkan bahwa etika komunikasi merupakan suatu aturan adat
kebiasaan mengenai (sopan santun) yang mengatur hubungan antar individu atau kelompok
dalam proses penyampaian pesan.
Tentunya
dalam bidang komunikasi terdapat rumusan etika tertentu yang melandasi pola
sikap yang harus dilakukan oleh seorang profesional di bidang komunikasi. Kode
etik profesi sebagai etika khusus mencakup kode etik komunikasi. Tentunya kode
etik komunikasi perlu dipahami oleh semua pekerja di bidang komunikasi.
Praktisi di bidang ilmu komunikasi baik
sebagai jurnalis, humas, maupun pekerja iklan tentu memiliki tugas utama
sebagai produsen konten pesan kepada audiens yang luas. Sebab jika melanggar
etika, justru komunikasi menjadi kurang efektif bahkan berpotensi menimbulkan
konflik. Sehingga etika komunikasi perlu dipahami oleh praktisi di bidang ilmu
komunikasi agar dalam mengkomunikasikan suatu pesan kepada audiens tidak
melanggar etika maupun menyinggung suatu kelompok tertentu.[5]
Kode
etik profesi setiap praktisi di bidang ilmu komunikasi ini berbeda-beda sesuai
dengan profesinya masing-masing. Oleh karena itu, jika
ingin berbicara lebih jauh lagi mengenai etika dan proses komunikasi. Maka
perlu diketahui bahwa dalam dunia komunikasi, khususnya pekerja media, terdapat
etika profesi yang harus ditaati. Etika profesi ini penting untuk menjaga
profesionalitas, keterampilan, dan pertanggungjawaban kepada publik.
Oleh karena itu para
pekerja di bidang komunikasi harus mengetahui dan memahami dengan benar kode
etik profesi yang mereka jalani. Sebab, pemahaman mereka akan mempengaruhi
profesionalisme. Pemahaman yang kurang akan menyebabkan kenihilan
profesionalisme. Ketiadaan profesinalisme akan merugikan hak-hak publik
terhadap informasi
Hal yang lebih utama
lagi adalah adanya jaminan moralitas bagi para pelaksana profesi. Dengan
memahami kode etik mereka dapat menjaga moral mereka di hadapan masyarakat.
Tidak dapat dipungkiri bahwa moral adalah nilai yang penting dalam masyarakat.
Apalagi, jika berkaitan dengan profesi yang kepiawaiannya dituntut oleh publi.
Tentu bentuk pertanggungjawaban moral mereka ditujukan kepada public. Dapat dikatakan, mengapa para pekerja harus memahami
kode etik – sebab, moralitas yang mereka jalankan adalah nilai moral yang juga
dianut oleh masyarakat. Mereka memliki tanggung jawab besar untuk mengemban
moral masyarakat (publik).
[2] Rahayu Ginintasasi. Teori-Teori Komunikasi (Skripsi) terarsip pada
ile.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PSIKOLOGI/195009011981032-RAHAYU_GININTASASI/Komunikasi.pdf.
Diakses tanggal 20 Oktober 2015.
[3] Ashadi Siregar. Konsep Etika
Komunikasi Massa Terarsip pada https://ashadisiregar.files.wordpress.com/2008/10/2_konsep_publicsphere.pdf.
Diakses tanggal 26 Desember 2015.
[4] Ashadi Siregar. Konsep Public
Sphere. Terarsip pada https://ashadisiregar.files.wordpress.com/2008/10/2_konsep_publicsphere.pdf.
Diakses tanggal 25 Desember 2015.
Comments
Post a Comment